Day #2 Japan Escape : Kinkaku Ji Temple – Nijo Jo Castle – Heian Shrine, Kyoto

Hari ke 2 kami masih menghabiskan waktu di Kyoto, Japan. Sebelum jalan-jalan mari kita cari tahu kilasan info mengenai kota Kyoto ini.

Kyoto adalah salah satu kota yang terletak di Honshu, Jepang. Kota ini merupakan bagian dari daerah metropolitan, yaitu Kyoto-Osaka-Kobe. Kyoto merupakan ibukota dari Prefecture Kyoto yang banyak menyimpan situs sejarah Jepang. So, jika kamu traveling ke Jepang, jangan lupa memasukan kota ini dalam destinasi wisatamu 🙂

dsc_0002-1280x854-1280x854
Kyoto at 8 am near Umamachi Bus Stop
dsc_0006-1500x1001
foto ala hijab traveler – tapi gagal 😛
dsc_0018-1400x934
yang masih kurang fit tapi dipaksa semangat jalan-jalan 😀

Sesuai jadwal itinerary kami hari ini adalah main ski di Resort Ski Hirogawara, Kyoto. Berdasarkan hasil pencarian dari beberapa sumber, untuk dapat masuk ke area ini akan dikenakan biaya 4.000 JPY diluar penyewaan alat (jika tidak punya) seperti snowboard 2.500, kacamata 1.500 JPY, sarung tangan 1.000 JPY, pakaian anti air 2.500 JPY dan sebagainya. Poin yang perlu digarisbawahi adalah area resort ini hanya dibuka pada hari Sabtu dan Minggu jam 9 am-4 pm.

Untuk mencapai kesana, dari bus stop penginapan kami di Umamachi harus menuju ke Demachiyanagi terlebih dahulu. Seperti biasa kami bertanya kepada beberapa orang untuk memastikan nomor bus yang harus kami naiki selanjutnya menuju Hirogawara. Anehnya, banyak orang yang tidak mengetahui resort ski ini :/ Hmm, jadi agak worry juga informasi yang kami dapatkan tidak valid XD

dsc_0009-854x1280
Ask to Demachiyanagi
dsc_0016-1500x1001
Inside Kyoto City Bus
dsc_0025-1500x1001
at Demachiyanagi Bus Stop

Alhamdlillah saat itu kami bertemu dengan another japanese people baik hati yang setelah ngobrol panjang ternyata beliau seorang dokter 🙂 Dokter ini yang membantu kami mencari jalan menuju Resort Ski Hirogawara. Bahkan karena beliau juga tidak pernah mendengar area resort ini maka kami diajak ke Pos Polisi terdekat untuk menanyakan info lebih lanjut kepada polisi setempat. Tapi sayang saat kami kesana tidak ada satupun polisi yang berada di tempat. Akhirnya beliau mengajak ke Bus Information Center terdekat. Lumayan juga jarak dari tempat kami terakhir berhenti hingga ke tempat informasi bus ini dengan berjalan kaki. Pak dokter bilang “Tidak masalah, hari ini saya tidak ada jadwal yang urgent sehingga saya bisa menemani kalian” kira-kira begitu kata beliau. So sweet 🙂

Mau lihat wajah si dokter? Sayangnya kami nggak punya 😛 Cuma ada dokumentasi ini hasil foto diam-diam XD

dsc_0029-1500x1001
Can you guess this is Bus Information Center? – aseli huruf kanji semua 😀

Setelah menanyakan kepada petugas barulah kami tahu bahwa “Resort Ski Hirogawara saat ini saljunya sudah mulai menipis, jika kami kesana hari ini kemungkinan kami tidak bisa main ski dengan kondisi es demikian. Waktu terbaik main kesana adalah Desember hingga awal Januari.” Begitulah kira-kira penjelasan dari petugas yang sudah dialih bahasa oleh sang dokter. Hiks antara sedih dan bersyukur. Sudah pasti sedih karena kami gagal main ski! HUHUUHU. Bersyukur karena kami mendapatkan info tersebut sebelum jauh-jauh sampai disana. Ya anggaplah ini namanya belum rejeki. Belum? berarti next yaa, Aamiin 😀

Setelah dadah-dadah dengan dokter baik hati itu, akhirnya kami memutuskan mengganti destinasi kunjungan berikutnya.

Awalnya sebelum switch to Plan B, kami ingin sekali kembali ke penginapan terlebih dulu untuk menaruh bawaan yang super banyak ini. Kami sudah membawa baju anti air, kaos kaki, kacamata khusus ski, baju ganti serta bekal makanan dan minuman yang cukup mumpuni jika kami lapar setelah main ski, HIKS! Tapi berhubung posisi kami sudah terlempar jauh dari penginapan maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saja menuju destinasi wisata lainnya. Alright, GANBATTE! 😀


Kinkaku Ji Temple – Golden Pavilion

Kami memutuskan untuk mengunjungi Kinkaku Ji Temple yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat terakhir kami berada (saya pun lupa waktu itu posisi kami dimana Haha!). Setelah kami beritahu ke pak dokter bahwa kami akan mengganti rencana ke Kinkaku Ji Temple, beliau menyarankan kami untuk naik bus 101 dan turun di Kinkaku Ji Michi Bus Stop. Jika dari arah Kyoto Station bisa naik bus no 101 atau 205. Semua perjalanan kami selama di Kyoto selalu menggunakan Kyoto Buss Pass (baca disini informasi lengkapnya).

And here we are..

dsc_0034-1500x1001
The super famous Golden Pavilion in Kyoto

This slideshow requires JavaScript.

Kinkaku Ji Temple sudah dibuka dari jam 9 am – 5 pm dengan harga tiket masuk 400 JPY. Jika sudah masuk area wisata ini diharapkan kamera selalu dalam keadaan standby karena rute yang dilalui tidak akan bisa diulang lagi. Hal tersebut karena pengunjung diwajibkan melalui jalur satu arah sehingga dilarang ada pengunjung yang lalu lalang dengan arah berlawanan.

img-20170302-wa0009
Ticketing counter
img_20170302_150418
the tickets

Ada apa saja disana?

Sudah pasti kita bisa puas melihat golden pavilion dari jarak dekat. Konon kuil kepercayaan masyarat Budha yang secara resmi dikenal dengan nama Rokuonji adalah kediaman akhir dari shogun (jenderal) Ashikaga Yoshimitsu. Kuil yang terletak di Kyoto Utara ini memiliki dua lantai teratas yang benar-benar dilapisi oleh emas. Itulah mengapa disebut golden pavilion.

Kuil ini juga sebagai inspirasi lahirnya Ginkakuji Temple (Silver Pavilion) yang berada di sisi lain kota Kyoto yang dibangun oleh cucu dari Yoshimitsu pada beberapa dekade setelahnya. Kuil ini sudah mengalami kerusakan akibat kebakaran dan terakhir struktur kuil ini dibangun kembali pada tahun 1955.

Pengunjung tidak dapat masuk ke dalam pavilion tersebut tetapi dapat melihat isi dari lantai satu pavilion dengan jendela yang selalu dibuka. Pada lantai satu terdapat patung Budha serta Yoshimitsu, sedangkan dua lantai teratas yang dulu dihuni oleh para samurai kini terdapat patung-patung dari Empat Raja Surgawi 🙂 Well that’s the history..

This slideshow requires JavaScript.

Berikutnya kami melanjutkan jalan setapak dan menjumpai sebuah area coin toss alias koin keberuntungan. Konon katanya jika kita melempar koin kearah batu tersebut maka keberuntungan akan memihak pada kita. Dan saya pun dilarang melakukannya, karena kata mas suami sama saja dengan mengikuti ritual mereka 😛 Well, yang penting ada fotonya ya 😀

dsc_0066-1500x1001
salah satu jalan setapak
dsc_0070-1500x1001
Coin toss

Kemudian terdapat tempat tinggal pemimpin atau hojo yang terkenal dengan pintu gesernya (pengunjung hanya dapat melihatnya dari luar) dan disampingnya terdapat juga kuil untuk sembahyang.

This slideshow requires JavaScript.

Sebelum menuju pintu keluar, terdapat kios-kios souvenir serta makanan dan minuman yang dapat dipilih. Pengunjung dapat duduk-duduk santai sambil menikmati alam sekitar serta udara yang bersih. Jika ingin mencoba teh ala jepang, recommended untuk mampir ke Sekkatei Teahouse yang ada di area wisata (tapi kami tidak tertarik 😛 ) Waktu itu kami penasaran ingin mencicipi greentea ice cream yang kabarnya dapat membuat badan hangat. Rasanya? ternyata nggak ngaruh sama sekali! Haha.. Tapi es krimnya enakkk 🙂

This slideshow requires JavaScript.

This slideshow requires JavaScript.

» Dimana kamera bisa di set auto timer, disitulah kami foto-foto 😛 Aslinya foto ini diambil saat banyak orang lalu lalang tapi salutnya mereka mau menunggu sampai timer berhenti. Arigatou gozaimasu 🙂

Terakhir, keluar dari area wisata terdapat kios souvenir yang cukup terjangkau harganya. Minimal kami dapat menemukan barang-barang lucu yang berbau Kyoto City.

dsc_0104-1500x1187

Alamat Kinkaku Ji Temple :
Kinkakujicho, Kita Ward, Kyoto, Kyoto Prefecture 603-8361, Japan
Jam operasional : 9 am – 5 pm
HTM 400 JPY


Nijo Jo Castle 

Dari Kinkaku Ji Temple, kami melanjutkan perjalanan ke Nijo Jo Castle.  Cukup satu kali naik bis nomor 101 dan turun tepat di depan Nojo Jo Castle. Waktu itu kami hampir terkecoh, kami pikir castle ditutup karena dalam pembangunan. Ternyata hanya pintu gerbang utamanya saja yang dialihkan ke gerbang masuk yang lainnya.

dsc_0113-1500x1001

dsc_0119-1500x1001

This slideshow requires JavaScript.

Sekilas mengenai sejarah Nijo Jo Castle. Dibangun pada tahun 1603 untuk kediaman Tokugawa Leyasu, shogun pertama pada periode Edo. Setelah Tokugawa turun pada tahun 1867, kastil digunakan sebagai istana kekaisaran sebelum disumbangkan ke kota untuk dijadikan bangunan bersejarah. Pada tahun 1994, bangunan ini resmi ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

This slideshow requires JavaScript.

Nijo Jo Castle atau kastil Nijo dibagi menjadi tiga area; Honmaru Palace (main circle of defense), Ninomaru Palace (secondary circle of defense) dan area kebun yang mengelilingi Honmaru dan Ninomaru. Seluruh area kastil dikelilingi oleh dinding berbatu.

Kami sempat masuk dan mengelilingi istana Ninomaru. Sayangnya pengunjung dilarang mengambil gambar atau video di dalam area istana. Banyak sekali petugas yang berjaga di area tersebut. Disini kami melihat bangunan luas yang sudah disekat sesuai dengan fungsi ruangan. Di depan setiap ruangan terdapat sebuah alat audio yang menjelaskan fungsi dari ruangan tersebut. Audio tersebut tentu berbahasa jepang, jika ingin menyewa audio berbahasa inggris dikenakan biaya 500 JPY (nyaris seharga tiket masuk). Jadi kami cuma bisa nyengir mendengarkan audio sambil sesekali iseng bertanya ke petugas 😛

dsc_0149-1001x1500
ngumpet ambil foto di area teras kastil 😀

Konon istana Ninomaru merupakan kediaman sekaligus kantor saat shogun (jenderal yang menjabat pada masa itu) berkunjung ke Kyoto. Ciri khas ruangan di istana ini adalah lantai yang ditutupi oleh tatami mats dengan ceiling atau langit-langit yang elegan serta adanya pintu geser (fusuma). Karena dilarang untuk mendokumentasikan, berikut foto-foto dari japan-guide(dot)com yang kurang lebih mirip dengan kondisi yang kami lihat saat berada di dalam.

Di area luar istana Ninomaru terdapat taman tradisional yang luas dengan kolam besar, batu besar dan pohon-pohon pinus yang terawat. Istana Honmaru juga terlihat dari area luar yang sangat luas. Kedua istana ini dikelilingi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon yang berjajar rapi. Hanya saja istana Honmaru tidak terbuka untuk umum seperti halnya istana Ninomaru.

Terdapat sekitar 400 pohon ceri yang biasa mekar pada bulan Maret sampai dengan April. Serta pohon plum yang akan mekar pada akhir Februari hingga Maret. Tiba-tiba kami membayangkan datang lagi pada musim semi dengan disambut bunga-bunga cantik dan dedaunan segar yang dijamin menambah indah pemandangan 🙂

This slideshow requires JavaScript.

Sebelum mencapai gerbang keluar, kami disuguhi oleh jembatan besar dengan air yang jernih dibawahnya. Tur Nijo Jo Castle ini tidak seperti Kinkaku Ji Temple yang meharuskan pengunjung selalu berjalan searah. Disini pengunjung dapat bebas memutari area istana sesuai dengan keinginan.

dsc_0194

dsc_0205-1500x1001

dsc_0200-1001x1500

Di pintu keluar terdapat petugas survey yang akan random memberikan questionnaire atau daftar pertanyaan kepuasan mengenai tempat wisata ini. Setelah selesai, pengunjung yang bersedia mengisi akan diberikan souvenir berupa pin sebagai tanda terima kasih.

Rasanya kurang afdol kalau ke satu tempat wisata tanpa ada foto duaannya 😉 Prinsipnya dimana kamera bisa di set timer, disitulah kami cuek foto-foto! Hahaha.. Dan inilah beberapa koleksi foto kami selama di Nijo Jo Castle. Oh ya, plus wefie dengan tongsis tentunya 😛

This slideshow requires JavaScript.

Alamat Nijo Jo Castle :
541, Nijojo-cho, Nijo-dori Horikawa Nishi iru, Nakagyo-ku, Kyoto 604-8301
Jam operasional : 8.45 am -4 pm
HTM 600 JPY


Setelah puas dengan dua destinasi wisata, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan terlebih dulu. Tujuannya untuk menaruh backpack yang lumayan jadi beban dan juga bisa makan siang gratis 😀 Iya berhubung perbekalan kami cukup banyak yang dibawa dari Indo, jadi kami harus mengatur makanan yang harus segera dimakan agar tidak basi lantas mubadzir. Walaupun sebagian makanan sudah kami bawa sejak pagi tadi tapi rasanya kami butuh melemaskan kaki dulu di penginapan 😛 Mengenai pengaturan makanan dan minuman selama trip ke Jepang ini akan saya bahas pada blogpost terpisah 🙂

Dan akhirnya kami baru keluar lagi setelah makan malam XD

Heian Shrine

Kami keluar penginapan sekitar jam 8 malam. Walaupun pesimis masih ada tempat wisata yang buka tapi kami tetap enjoy berjalan kaki menikmati kota Kyoto. Malam itu rasanya sepiii sekali. Kabarnya kota Kyoto memang tidak sehidup Tokyo pada malam hari, apalagi di saat akhir pekan seperti ini plus winter. Sepanjang kami berjalan hanya menjumpai beberapa orang yang dapat dihitung jari. Bahkan kami sempat nyasar melewati jalan sempit dipinggir sungai kecil dengan penerangan minim. Mendadak ingat film-film horor jepang yang menakutkan itu XD

Kami berjalan menuju Heian Shrine atau kuil Heian. Sebelum sampai disana, kami menjumpai sebuah kuil yang belum kami ketahui namanya. Iya sudah pasti saat itu tempat wisata tutup semua. Kami hanya menyempatkan foto sebentar di gerbang utamanya saja. Sebenarnya untuk masuk ke tempat wisata ini gratis. Tapi karena jelas-jelas sudah tutup kami urungkan niat untuk jalan masuk ke area dalam.

dsc_0279-1500x1001
Dont know temple yet

DSC_0281 (1001x1500).jpg

Torii raksasa ini adalah gerbang utama yang terkenal di Heian shrine. Di negara Jepang akan sering menjumpai istilah torii. Torii adalah sebuah bangunan yang berada di kuil-kuil shinto yang berfungsi sebagai pembatas antara kawasan tempat tinggal manusia dengan kawasan suci. Sedangkan nama Heian sendiri berasal dari Heian Kyo yang ditetapkan oleh Kaisar Kammu sebagai ibukota Jepang pada tahun 794.

Heian Shrine dibangun sejak tahun 1895 yang didedikasikan kepada Kaisar Kammu (806) dan Kaisar Komei (1867). Setiap tanggal 22 Oktober, tempat ini dijadikan lokasi acara Jiddai Festival sebagai hari ulang tahun The Foundation of Kyoto. Acara utama festival ini berupa parade kostum tradisional dari berbagai periode kekaisaran jepang. Hmm, pasti seru..

Oh ya, putih-putih di foto ini bukan salju tapi hujan 😀

dsc_0288-1001x1500
Torii raksasa
DSC_0284 (1500x1001).jpg
Heian shrine

Alamat Heian Shrine :
97 Okazaki Nisshitennocho, Sakyo-ku, Kyoto Prefecture 606-8341, Japan
Jam operasional : 6 am – 5.30 pm
HTM Free!


Setelah puas berkeliling Kyoto di malam hari, kami mampir ke FamilyMart untuk membeli air mineral dan kebutuhan lainnya yang sekiranya diperlukan. Jalan-jalan santai malam ini semuanya kami tempuh hanya dengan berjalan kaki (Kyoto Bus Pass tetap kami bawa). Dan tak terasa sampai di penginapan sudah jam 11 malam. We’re totally tired but definitely happy 😀

Besok kami akan pindah ke TOKYO.. Nantikan cerita serunya yaaa! 🙂

***

:: 28 Januari 2017 ::

12 comments

  1. aku kapan ke Jepang, Ya Allah moga kapan2 bisa jalan2 ke sana hahahah
    mba kamu bikin kepengen aku huhuhu …
    orang luar itu toleransinya tinggi banget, dlu waktu aku di HK kalau mau foto2 gitu juga mereka berkenan menunggu. hehehhe

    Like

  2. Jalan-jalan ke Kyoto pasti sangat berkesan ya, obyek wisatanya bersih dan tertata rapi. Namun dari cerita beberapa teman, kebanyakan orang Jepang tidak fasih berbahasa Inggris, sebagai wisatawan kadang kesulitan bila ingin mencari informasi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s