Kulwap “Urgensi Literasi Sains Untuk Anak Sejak Usia Dini”

🌷 RESUME KULWAP IIP 🌷
Rabu, 24 Agustus 2016

*URGENSI LITERASI SAINS UNTUK ANAK SEJAK USIA DINI*

Oleh: Fiena Rifanty Arifin, S.Si, M.Pd

Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai berpikir logis, berpikir kreatif, dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains siswa dari Program PISA.

PISA (PROGRAMME FOR INTERNATIONAL STUDENT ASSESSMENT}

Apa itu PISA?

PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Studi ini dikoordinasikan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) yang berkedudukan di Paris, Perancis. 

PISA merupakan studi yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali, yaitu pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan seterusnya. Indonesia mulai sepenuhnya berpartisipasi sejak tahun 2000. Pada tahun 2000 sebanyak 41 negara berpartisipasi sebagai peserta sedangkan pada tahun 2003 menurun menjadi 40 negara dan pada tahun 2006 melonjak menjadi 57 negara.

Dalam melakukan studi ini, setiap negara harus mengikuti prosedur operasi standar yang telah ditetapkan, seperti pelaksanaan uji coba dan survei, penggunaan tes dan angket, penentuan populasi dan sampel, pengelolaan dan analisis data, dan pengendalian mutu. Desain dan implementasi studi berada dalam tanggung jawab konsorsium internasional yang beranggotakan the Australian Council for Educational Research(ACER), the Netherlands National Institute for Educational Measurement (Citogroep), the National Institute for Educational Policy Research in Japan (NIER), dan WESTAT United States.

Pentingnya Sains Untuk Anak usia Dini

Anak usia dini, atau usia prasekolah, berada dalam masa emas perkembangan otaknya. Salah satu hasil penelitian menyebutkan, kapasitas kecerdasan anak pada usia empat tahun sudah mencapai 50 persen. Kapasitas ini akan meningkat hingga 80 persen pada usia delapan tahun. Ini menunjukkan pentingnya memberi rangsangan pada anak usia dini.

Mengenalkan sains dan matematika pada anak bukan berarti mengenalkan rumus-rumus. Suasana harus fun, sehingga anak dalam kondisi ceria akan bertanya mengapa bisa demikian? Apakah kejadian selanjutnya? Dan sebagainya.

Perlu diingat, mengenalkan sains pada anak harus sesuai dengan tahapan umur dan perkembangannya. Sebagian besar waktu dari anak usia dini dihabiskan bersama orang tua. Maka yang perlu dilakukan orang tua adalah meluangkan sedikit waktu untuk bermain dengan anak. Dalam situasi bermain itulah kita dapat melakukan eksperimen sains dan mengenalkan matematika.

Bermain merupakan tuntutan dan kebutuhan esensial bagi anak usia dini. Dengan bermain, anak dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, nilai, dan sikap hidup.

Menurut Whiterington (1979), bermain mempunyai fungsi mempermudah perkembangan kognisi anak dan memungkinkan anak melihat lingkungan, mempelajari sesuatu, dan memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu, bermain juga dapat meningkatkan perkembangan sosial anak.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh jika anak sejak dini telah diperkenalkan dengan sains. Sains melatih anak bereksperimen dengan melaksanakan beberapa percobaan, memperkaya wawasan anak untuk selalu ingin mencoba dan mencoba. Sehingga sains dapat mengarahkan dan mendorong anak menjadi seorang yang kreatif dan penuh inisiatif.

Sains membiasakan anak-anak mengikuti tahap-tahap eksperimen dan tak boleh menyembunyikan suatu kegagalan. Artinya, sains dapat melatih mental positif, berpikir logis, dan urut (sistematis). Di samping itu, dapat pula melatih anak bersikap cermat, arena anak harus mengamati, menyusun prediksi, dan mengambil keputusan.

Tujuan Pembelajaran Sains Untuk Anak Usia Dini

Ada beberapa pandangan ilmuwan terhadap pendidikan dan pembelajaran sains menyatakan bahwa tujuan pendidikan sains sejalan dengan kurikulum sekolah, yakni mengembangkan anak secara utuh baik aspek domain kognitif, aspek afektif maupun aspek  psikomotor anak ( Abruscato, 1928), Sedangkan Sumaji mengemukakan bahwa tujuan sains yang mendasar adalah untuk memupuk pemahaman, minat dan penghargaan anak didik terhadap dunia dimana dia hidup. Sedangkan menurut Liek wilarjo (1988) mengemukakan bahwa fokus dan tekanan pendidikan sains terletak pada bagaimana kita membiarkan diri anak dididik oleh alam agar  menjadi lebih baik. Maknanya dididik dengan alam, melatih anak untuk jujur dan tak berprasangka

Leeper (1994) mengemukakan tujuan pembelajaran sains bagi anak usia dini adalah sebagai berikut :

1.    Agar anak-anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui penggunaan metode sains, sehingga anak-anak terbantu dan menjadi terampil dalam menyelesaikan berbagai hal yang dihadapinya.

2.    Agar anak memiliki sikap ilmiah. Hal-hal yang mendasar, misalnya : tidak cepat-cepat dalam mengambil keputusan, dapat melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, berhati-hati terhadap informasi yang diterimanya serta bersifat terbuka.

3.    Agar anak-anak mendapatkan  penngetahuan dan  informasi ilmiah yang lebih baik dan dapat dipercaya, artinya informasi yang diperoleh anak berdasarkan pada standar keilmuan yang semestinya, karena informasi yang disajikan merupakan hasil temuan dan rumusan yang obyektif serta sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan yang menaunginya.

4.    Agar anak lebih berminat dan tertarik untuk menghayati sains yang berada dan ditemukan di lingkungan dan alam sekitarnya.

Daftar pustaka:
# Disadur dari beberapa sumber
http://googleweblight.com/rhirinliestyawati.blogspot.com/2013/07/pentingnya-sains-untuk-anak-usia-dini.
http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-pisa

✨Tanya Jawab ✨

1⃣ Tanya: Ratih-Bansel
Kemampuan dasar apa yg perlu disiapkan agar keterampilan literasi bisa maksimal…

Jawab:
Pada dasarnya, setiap manusia sudah memiliki curiosity atau keingintahuan yang tinggi dan menjadi bekal awal bagi para orangtua mengasah kemampuan literasi anak, karena setiap anak unik setiap anak akan bisa lebih menonjol di aspek tertentu. misal menganalisis, memecahkan masalah dan sebagainya. Namun secara umum bisa disiapkan untuk anak kemampuan dasar analisis, misal : kenapa kalau kran air dibiarkan terus menyala, setelah tempat penampungan air penuh airnya tumpah? Kemudian bisa dikaitkan dengan konsep sederhana sesuai fitrah usia anak, lalu dikaitkan dengan pendidikan sikap/ karakter misal supaya air tidak terbuang sia-sia harus bagaimana?, sehingga di tahap selanjutnya anak bisa mengambil kesimpulan dari analisis yg dibuat dan memunculkan solusi.
Curiosity, kemampuan analisis, pendidikan karakter, serta kemampuan mengambil keputusan bisa melejitkan kemampuan literasi anak pada umumnya.
Waalohu’alam bish shawab

2⃣ Tanya: Inda-banut 2
Untuk bisa menerapkan literasi sains pada anak saya yang usianya masih 2, 5 tahun apa yang harus dilakukan? Contoh permainan sains nya seperti apa?
Terus apakah bisa menggunakan peralatan yang ada di rumah?

Jawab:
Teh inda, terimakasih untuk pertanyaannya
Untuk usia 2,5 tahun yang harus dilakukan adalah bermain dengan fun karena sesuai fitrah anak pada usia tersebut, kemampuan anak menangkap sesuatu entah itu terkait kemampuan menangkap situasi ataupun kejadian bisa sangat menempel ketika anak dalam kondisi bahagia. Sehingga proses ‘belajar’ itu akan bisa mengalir dengan Mudah.
Terkait jenis permainannya ada banyak Hal yg bisa dilakukan dan sangat bisa dilakukan dirumah.

Ada beberapa jenis keterampilan sains dapat dilatihkan pada anak usia dini.Pertama, mengamati. Caranya, ajak anak-anak mengamati fenomena alam yang terjadi di sekeliling kita. Dimulai dari yang paling sederhana. Misalnya, mengapa es bisa mencair? Mengapa ada siang dan malam, dan sebagainya.

Kedua, mengelompokkan. Dalam hal ini, anak diminta untuk menggolongkan benda sesuai kategori masing-masing. Misalnya kelompok bunga-bungaan, kelompok biji-jian, kelompok warna yang sama, dan lain sebagainya.

Ketiga, memprediksi. Misalnya, berapa lama es akan mencair, berapa lama lilin akan meleleh, berapa lama air yang panas akan menjadi dingin, dan seterusnya.
Keempat, menghitung. Kita mendorong anak untuk menghitung benda-benda yang ada di sekeliling, kemudian mengenalkan bentuk-bentuk benda kepadanya.

Jadi, sains dan matematika sebenarnya dapat diperkenalkan kepada anak sejak usia dini. Tentu dengan memperhatikan cara dan bahasa penyampaiannya, serta disesuaikan dengan umur dan perkembangan si anak.

Contoh permainan yang relevan untuk usia anak 2,5 tahun :
*Bermain gelembung sabun*

Anak sangat menyukai bermain gelembung sabun. Dari kegiatan ini anak bisa belajar bahwa jenis benda cair bukan hanya air tp ada air sabun misalnya yang dapat membentuk gelembung raksasa,atau bentuk lainnya dari gelembung tersebut. Dan ini pun tentu dapat sekaligus melatih kemampuan motoriknya.

*Mengenal Binatang*
Binatang merupakan mahluk yang menarik bagi anak-anak karena mampu merespon rangsang. Anak kucing misalnya akan mengejar dan menerkam benda-benda yang bergerak. Meskipun masih diperdebatkan dari segi sanitasi dan higienisnya, memelihara hewan peliharaan dapat mengembangkan rasa kasih dan sayang pada anak. Bukankah Rasululloh pun memiliki hewan kesayangan berupa seekor kucing??hayoo siapa yang tahu namanya? Melalui binatang anak akan belajar banyak tentang mahluk tersebut. Oleh karena itu di nagara-negara maju, kebun binatang dilengkapi dengan pojok sains (sains center) dimana anak dapat berinteraksi dengan bintang yang jinak dan bersih sambil mempelajarinya. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh anak jika berinteraksi dengan binatang. Pertama, anak belajar mengenal dan menghargai mahluk hidup, ia belajar bahwa mahluk hidup memerlukan makanan, papan dan kasih sayang. Kedua, anak belajar untuk menyayangi binatang yang pada akhirnya akan menumuhkan rasa kasih sayang pada mahluk hidup.
Nah disamping ‘belajar’ tentang sains anak pun bisa belajar mengenai sirah Nabawiyah
Wallohu’alam bish shawab

3⃣ Tanya: Uput_Banut1
1. Teh Fien, jadi dalam praktek praktisnya kebiasaan apa yg sebaiknya kita lakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi anak? Apakah menanyakan dg format 5W+1H+what if+which one termasuk merangsang kemampuan literasi anak?

2. Bentuk percobaan sains seperti apa yang bisa dilakukan untuk anak2?
Bisakah percobaan2 ini dilakukan secara spontan tanpa persiapan misalnya saat sedang jalan2?

3. Menurut hasil studi pisa apa yg membuat Korea selatan switch tempat dg Finlandia di 3 thn berikutnya? Kemunduran apa yg terjadi di Korea selatan dan kemajuan apa yg terjadi di Finlandia?

Jawab:
Waah Teh uput pertanyaannya Mantaap:
1. Teh uput 5W+1H+ WHAT IF +WHICH ONE itu pada dasarnya hanya sebagai tools atau alat untuk memunculkan rasa ingin tahu anak, yang harus dilakukan orang tua adalah lebih kepada menjadi fasilitator yang bisa mendampingi kebutuhan anak untuk mengeksplorasi dan ‘memuaskan” rasa ingin tahunya.

2. Sangat bisa teh karena Alam sekitar bisa jadi media yang sangat baik untuk menjelaskan konsep sains pada anak, tapi tentunya harus digunakan bahasa dan penjelasan sesuai umur anak.
Yang paling penting anak harus mengalami langsung kegiatannya misal ke kebun binatang mengelompokkan binatang yang bisa dan tidak bisa terbang. dll

3. Berdasarkan informasi tentang kultur di kedua negara, Finlandia mulai menerapkan sistem pembelajaran berdasarkan minat anak sehingga kemampuan literasi anak-anak yang diuji pada masa itu mulai mengalami peningkatan.

Wallohu’alam bish shawab

4⃣ Tanya: Nur Septiani Hayati (epi)_banut2
1.Bunda, ingin bertanya, seperti apakah metodenya agar pengenalan sains ke anak sesuai tahapan umur, misal porsi bermain sekian persen dan porsi belajarnya sekian persen utk anak usia sekian. Mgkn kah ada diagram antara porsi usia vs kuantitas belajar ? Krn menurut saya usia emas juga usia utk mengembangkan motorik kasar+halus yg nantinya berdampak jg pd perkembangan otak.

2. Pertanyaan kedua, sebagai contoh kita ingin sekali mendidik anak kita utk mempelajari/mendalami nilai2 yg ada di alquran, tapi itu byk sekali blm lagi hrs dihafalkan, blm lagi tantangan2 anak lainnya. Bagaimanakah strategi yg benar dlm mendidik anak ttg hal yg satu ini sejak dr usia emas atau kandungan mgkn?

Segitu dlu bunda, mhn maaf dan terimakasih…

Jawab:
1. Teh Epi, metode untuk mengajarkan apapun tidak terkecuali sains untuk anak-anak menurut saya adalah saya dengan cara *Bermain yang menyenangkan* karena berdasarkan pengalaman, anak-anak yang merasakan ketertarikan terhadap informasi tertentu dan menimbulkan rasa ingin tahu yang besar apabila kegiatan nya menyenangkan akan dapat menangkap informasi jauh lebih baik dibandingkan dengan anak yang kurang ‘tertarik”. Sehingga menjadi PR untuk para orang tua untuk ‘mengajarkan” sesuatu melalui kegiatan yang *menyenangkan*. Setiap anak adalah unik, maka persentase proporsi belajar n bermain akan berbeda tiap individu tapi akan sangat menyenangkan bila dengan bermain anak bisa sekaligus belajar. Pun demikian dengan sains, tidak hanya melulu bermuatan ‘pelajaran” tetapi juga bisa dikaitkan dengan melatih kemampuan motorik halus, kasar dsb. Karena setiap anak adalah unik, hasil akan berbeda untuk setiap individu namun secara kasar bisa diperhatikan bahwa kemampuan anak untuk dapat berkonsentrasi penuh adalah 1menit x usianya.

2. Balik lagi kepada strategi ‘mengajarkannya” dalam sains anak harus bisa mengalami langsung tentang apa yang diamatinya. Sehingga terkait isi, hikmah yang terdapat dalam Al-Qur’an bisa juga dikenalkan melalui mengamati alam sekitar misal pergantian siang dan malam, kenapa bisa demikian karena ada Allah SWT yang mengatur itu semua.. Jadi sains tidak melulu tentang informasi keilmuannya saja tetapi sangat terintegrasi/ tergabung dengan ilmu lainnya seperti tadi tentang ketauhidan mengenal Allah SWT sang maha pencipta. Mengenai pengenalan alangkah baiknya dapat dikenalkan semenjak dini termasuk saat masih di dalam kandungan karena calon bayi sudah dapat mengamati lingkungan sejak masih di dalam kandungan walaupun masih sangat terbatas.
Wallohu’alam bish shawab

5⃣Iswi_banut 2.

1.Bagaimana cara menstimulus anak untuk bisa dan mau belajar sains?
2. Adakah contoh2nya?
3. Anak saya 3 (umur 2, umur 7 dan umur 10), apakah saya boleh melakukan percobaan sainsnya sama buat ke 3nya?
Trimakasih:)

1. Teh Iswi, untuk menstimulus anak mau mengenal sains kuncinya adalah *menarik dan menyenangkan* sehingga memunculkan rasa ingin tahu anak, tentunya dengan mengkondisikan diri orang tua siap menjadi fasilitator pertanyaan anak.

2. Contoh eksperimen sains sangat banyak sekali diantaranya :
‌Ada beberapa materi sains yang sesuai untuk anak prasekolah terutama usia 5-6 tahun. Pembelajaran topik-topik sains hendaknya lebih bersifat memberikan pengalaman tangan pertama (first-hand experience) kepada anak, bukan mempelajari konsep saians yang abstrak. Selain itu pembelajaran sains hendaknya mengembangkan kemampuana observasi, klasifikasi, pengukuran, mengunakan bilangan dan mengidentifikasi hubungan sebab akibat. Materi tersebut antara lain:

‌1. Mengenal gerak:
‌Anak sangat senang bermain dengan benda-benda yang dapat bergrak, memutar, menggelinding, melenting, atau melorot. Ada beberpa kegiatan untuk mengenalkan anak dengan gerakan, antara lain:
‌a. Menggelinding dan bentuk benda: Materi ini menyadarkan anak akan sebab-sebab timbulnya gerakan pada benda. Kemiringan papan, bentuk benda slilidris dan kotak, halus kasarnya permukaan benda ikut mempengaruhi kecepatan gerakan. Materi ini juga dapat melatih kemampuan observasi.

‌b. Menggelinding dan ukuran benda: Bermain dengan cara menggelindingkan benda-benda dengan berbagai ukuran akan membantu siswa untuk mengenal bahwa besar kecil, berat ringannya suatu benda akan mempengaruhi gerak benda tersebut. Meteri ini juga melatih kemampuan observasi pada anak.
‌2. Mengenal benda cair
Bermain dengan air merupakan salah satu kesenangan anak. Pendidik dapat mengarahkan permainan tersebut agar anak dapat memiliki berbagai pengalaman tentang air. Air senantiasa menyesuaikan bentuknya dengan bentuk wadahnya. Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yng lebih rendah atau dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. Berbagai kegiatan n dengn air, antara lain:
a. Konservasi volume: Kegiatan ini merupakan cara untuk melatih anak memahami isi atau volume benda cair. Anak Pra operasional belum dapat memahami konservasi volume (Piaget 1972). Oleh karena itu memperkenalkan anak dengan bejana yang dapat diisi akan membantu anak memahami konservasi volume. Sambil mengisi botol besar, lalu memindahkan ke botol yang lebih kecil dan sebalaiknya, anak belajar mengunakan bilangan untuk menghitung banyaknya air yang dimasukkan ke botol tersebut. Anak juga akan berlatih memahami pengertian lebih banyak dan lebih sedikit. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan di luar kelas. Agar tidak basah, sebaiknya anak diminta memakai rompi plastik.
‌b. Tenggelam dan terapung: Kegiatan ini dapat dilakukan di kelas atau di luar kelas. Jika di kelas, beri alas plastik dan koran agar air tidak mmbasahi tempat. Tujuan kegiatan ini adalah agar anak diberi pengalaman bahwa ada benda yang tenggelam an ada yang terapung. Anak sering mengira benda yang berukuran kecil terapung dan yang besar tenggelam. Tenggelam atau terapung tidak ditentukan oleh ukuran benda melainkan oleh berat jenis benda.
3. Sangat sangat bisa teh Iswi tp tentu gunakan penjelasan dengan bahasa sesuai umurnya
Wallohu’alam bish shawab

6⃣. 🙋 Lela_Bansel

T fiena yang baik mw tnya
1. Apakah kemampuan literasi anak itu bisa diukur dari cepat atau lambatnya anak mulai belajar bicara?
2. Apa tips t fiena untuk menstimulasi kemampuan literasi anak?

Mencoba menjawab yaa teh…
1. Teh lela yang baik… Menurut pengamatan saya tidak teh… Karena kemampuan literasi lebih kepada pemahaman. Ketika anak belum lancar bicara namun sudah mampu mengutarakan maksud melalui tindakan anak sudah mulai belajar mengeksplorasi lingkungan sekitar, tinggal orang tua yang berperan menstimulus kemampuan bicara anak untuk lebih memahami tindakan anak. Jd peran orang tua lah yang lebih bisa membimbing dan terus memunculkan rasa penasaran anak untuk selalu mengasah kemampuan literasi nya.

2. Tips dari saya ketika kita mengasah kemampuan literasi anak hendak lah terus diberi bimbingan dan pemahaman berproses bukan sekedar jawaban. Karena pada dasarnya literasi sains adalah mengenai proses berpikir tanpa mengesampingkan hasil

Wallohu’alam bish shawab

7⃣. Nita_Banut 1

1. Bagaimana cara pengenalan sauna pada anak yang baru berusia 3th ?

2. Permainan apa saja yang cocok untuk anak 3 tahun ?

1. Teh Nita, pengenalan anak usia 3thn bisa dimulai dari lingkungan sekitar misal tentang apa yang terjadi kalau air diberi susu..(mengenal konsep larutan), jika bola di tendang jadi bagaimana? Apakah sama menggelinding jika kardus misalnya ditendang ( mengenalkan konsep bentuk), dan lainnya

2. Permainan yang cocok misal tebak-tebakan jenis hewan yang ada di air, udara dan darat. Kemudian tentang benda langit ketika siang ataupun malam. Jd lebih ke konsep sederhana yang tidak abstrak, artinya anak bisa melihat objek nya…

Wallohu’alam bish shawab

8⃣ Yasmin_Banut1
Secara umum kemampuan literasi anak bisa kita nilai bagus/tidaknya secara pengamatan awam itu spt apa? Implemantasi dalam kehidupan sehari2nya spt apa?

Kemampuan literasi anak secara umum dapat dilihat ketika anak senang mengamati, menganalisis dan mengeksplorasi apapun terkait benda, peristiwa serta kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Dan pasti setiap anak hasilnya akan berbeda tingkatan pencapaiannya. Terkait dengan kehidupan kesehariannya anak bisa lebih menonjol dalam hal mengambil keputusan karena faham akan konsekuensi sebab akibat. Misal jika bola di tendang keras, akan menggelinding dengan cepat dan jauh, artinya anak akan belajar tentang konsekuensi untuk mengambilnya kembali jika ingin memainkan bola lagi. Sehingga dia perlu mengambil keputusan untuk segera bereaksi mengambil tindakan yang tepat, tidak dengan menyuruh orang lain misalnya.
Contoh lain misalnya : anak dikenalkan pada tumbuhan, ttg bagaimana merawatnya dari benih hingga berbuah, ini mengajarkan dia pada kepekaan lingkungan sehingga lebih menghargai makhluk hidup lainnya dan menumbuhkan ketauhidan pada Allah SWT yang menciptakan tumbuhan, sekaligus mengenalkan konsep tumbuh dan berkembang.
Wallohu’alam bish shawab

9⃣ Uput_Banut1
Adakah perbedaan perkembangan kemampuan literasi pada anak perempuan dan laki2 direntang umur yang sama?

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah saya lakukan pada anak usia kelas 7, terdapat perbedaan kemampuan literasi sains anak dengan hasil dimana anak laki-laki lebih unggul dalam menganalisa materi soal dengan bentuk gambar/ grafik dan tabel lainnya. Pada anak perempuan lebih unggul pada type soal cerita. Dan hal ini diperkuat dengan wawancara dimana anak perempuan lebih unggul dalam hal memaparkan kembali baik dari segi bahasa dan sistematika penyampaiannya.
Wallohu’alam bish shawab

Pertanyaan Literasi Sains

Terima kasih atas kesempatannya teh Anisa dan tim.

1⃣0⃣Deasy_IIP Bansel
1. Ibu maaf…klau boleh tau, dimanakah irisan urgensinya Literasi Sains dengan anak usia dini? bukankah dunia anak2 memang banyak eksplorasi, rasa ingin tahunya besar, tak bosan bertanya, tak takut mencoba.
2. Sejauh mana pengenalan LS pada anak2 usia dini, berpengaruh pada saat mereka dewasa kelak? (Mungkin sdh ada penelitian atau contoh dr anak2 yg mengikuti uji PISA)

Terima kasih atas jawabannya bu 🙏🏾

Teh deasy hatur nuhun untuk pertanyaannya :
1. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh ketika saya mengerjakan proyek ini, ternyata pembiasaan semenjak dini tentang ‘melek sains’ ini terutama di Indonesia sangat memprihatinkan terbukti ketika Indonesia mengikuti PISA. Hasilnya berada jauh di bawah negara-negara yang sama-sama berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa minat baca, minat *Memahami* akan sains, serta matematika (karena dalam PISA tidak hanya materi sains, tetapi juga matematika dan membaca dijadikan materi uji) di Indonesia sangat rendah. Sehingga titik inilah yang menjadi point penting kemampuan literasi baik sains, matematika ataupun minat baca di Indonesia sangat perlu di kenalkan pada usia dini dengan harapan tingkat keterampilan anak-anak Indonesia secara umum (tidak hanya satu atau dua orang saja yang menonjol) mampu sejajar atau bahkan melebihi negara-negara lain. Sehingga IPM (indeks pembangunan manusia) nya diharapkan semakin meningkat apabila kemampuan literasi nya diarahkan sejak dini, walaupun sesuai fitrahnya anak-anak memang sudah memiliki kemampuan literasi, tinggal orang tua mengarahkan dan memfasilitasi.

2. Untuk hal ini belum ada penelitian yang mengkhususkan pada individu tertentu. Namun demikian secara umum, kemampuan literasi atau melek huruf ini menjadi salah satu indikator keberhasilan meningkat atau menurunnya IPM suatu negara untuk kemudian digolongkan pada negara maju, berkembang atau tertinggal.

Wallohu’alam bish shawab

1⃣1⃣ Lia_Bansel
✋ sebaiknya pengenalan literasi itu usia berapa, trus teknis nya bagai mana kalo untuk anak2, nuhun.

Jawab:
Teh lia dan bunda-bunda yang lain saya luruskan sedikit yaa… Literasi itu bukan tentang mengenalkan dan dikenalkan tapi lebih kepada *kemampuan* memahami peristiwa, analisis serta hal sebab akibat. Tidak seperti kita mengajarkan anak tentang menghias kue misalnya yang dinilai adalah hasil akhirnya bagus atau tidaknya hasil dari anak menghias kue tersebut. Tapi literasi mengajarkan lebih kepada proses dan kerangka berpikir nya… Artinya kemampuan literasi itu perlu diasah semenjak dini. Karena kemampuan berpikir anak terus berkembang sehingga bisa kita analogikan misal kalau air dipanaskan terus menerus kenapa jadi sedikit ya de airnya? anak di fasilitasi oleh orang tua untuk mengarahkan kepada proses kerangka berpikir yang akhirnya anak akan menemukan jawabannya sendiri. Misal jawaban anak. Kan ada proses pemanasan yang menjadikan air menguap sehingga volume airnya berkurang.
Wallohu’alam bish shawab✅

1⃣2⃣ Cucu_Banut 2
Assalaamualaikum.. Teh Ai anu geulis pisan.. mo nitip pertanyaan buat Teh Fiena…

Teh Fiena apakah ada referensi yang bisa di download atau dicari untuk mendampingi anak balita dan anak remaja untuk belajar sains? Jazakillaah Teh Fiena Teh Ai🙏🏼😘

Jawab :
12. Last but not least
Wa’alaikumussalam warrohmatullohi wabbarokatuh
Untuk panduan formal saya belum menemukan teh barangkali ada yang bisa Sharing tukar informasi with pleasure. Berikut saya lampirkan beberapa Alamat Web yang bisa dijadikan inspirasi :
http://www.science-sparks.com/2013/05/19/summer-science/
https://sciencebob.com/category/experiments/
https://www.buzzfeed.com/peggy/kids-science-experiments-that-adults-can-enjoy-too?utm_term=.tc9wGgxARB#.eaY4OvYR1J

Wallohu’alam bish shawab
Yeaay science is fun…✅

Pertanyaan tambahan:

1⃣3⃣ Uput – Banut 1
Ada ngga standar literasi per umur? Adakah ‘warning’ bagi orangtua ketika diumur sekian belum menunjukkan sikap tertentu? Jika mmg ada ‘warning’ tsb bisakah ketertinggalan tsb diperkecil gap nya? Satu lagi teh Fien, apakah orangtua yg notabene sudah banyak menganalisa masalah dan mengambil keputusan artinya kemampuan literasinya bagus?

Jawab:
Standard literasi sesuai umur pada dasar nya tidak ada batasan teh… Karena Di pelaksanaan PISA sendiri rentang usia anak yg diuji adalah usia 13-15 tapi yang diambil adalah usia 15 tahun karena menurut Piaget di usia tersebut anak mulai mampu berpikir abstrak. Kemampuan literasi ini pada dasarnya adalah mengenai kemampuan analisis kreatif seseorang istilahnya high order thinking dimana kita dituntut untuk mampu berpikir analisis kreatif tentang sesuatu hingga pada akhirnya akan menghasilkan problem solving. Berbeda dengan yang pada umumnya sistem pembelajaran di Indonesia masih bersifat low order thinking.
Kalau untuk kemampuan Literasi ini disesuaikan dengan umur anak tetapi tidak mesti seperti perkembangan fisik teh krn sifatnya ini pembiasaan cara berpikir untuk menghadapi suatu tantangan persoalan. Sehingga tidak ada patokan baku. Sehingga bisa dikatakan tidak ada gap antara kesesuaian umur dengan kemampuan literasi seseorang, lebih kepada pembiasaan orang tersebut berpikir apakah high order thinking atau low order thinking.

1⃣4⃣ Fina – Banut 1
🙋🏽nanya jg mski telat teh fien,klo bwt yg speech delay gmn ya? Apa dl yg hrs ddahulukn?

Jawab:
Teh Fin klo speech delay biasanya perlu dilakukan dulu analisis mulai dari fisiologi dan fisiknya artinya dilakukan oleh ahli supaya ketahuan sumber utama terjadi speech delay pada anak. Setelah ketahuan baru bisa disesuaikan dengan penyebab terjadinya speech delay. Seperti ada kasus speech delay krn kurang gaul dengan anak seusia nya adanya main sama orang dewasa. Kemampuan literasi nya dimulai dengan cara tutor sebaya, ‘dipasangkan’ dengan teman seumur nya diajak keliling mengamati ruang sekolah n dibiasakan main di lingkungan sekitar dengan tutor sebayanya itu. Jd kita menggunakan perantara istilahnya untuk bisa memperkenalkan kemampuan literasi pada anak yg speech delay ini melalui temannya.

🍃🍃🍃 SEKIAN 🍃🍃🍃

Facebook : Institut Ibu Profesional Bandung
Instagram : @iipbandung
Web : ibuprofesional.com

Disclaimer :
Semua materi yang disharing sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s