Kulwap “Automatic Pilot Parenting”

Resume Kulwap IIP BDG
Automatic Pilot Parenting
Minggu, 4 September 2016
Narasumber: Supriyatno (Peduli Trauma)

—————————

AUTOMATIC PILOT PARENTING
“Saat ini jam 6:20. Anak-anak harus sudah ada di sekolah pada jam 6:30. Anda sudah sering mendapatkan peringatan dari guru bahwa anak Anda sering datang terlambat. Anak Anda masih menyisir rambutnya dan berganti pakaian. “Ayo cepat, kita sudah terlambat,” kata Anda, beberapa kali, tetapi anak Anda belum juga keluar dari kamarnya. Anda berjalan ke kamar anak Anda, memaksa anak Anda untuk keluar, tetapi dia menghempaskan dirinya di lantai dan berteriak: “Aku tidak mau sekolah!”
Apa yang terlintas di dalam pikiran Anda ketika membayangkan situasi di atas? Mungkin Anda membayangkan perasaan-perasaan tidak berdaya, cemas, marah, dan stres; mungkin juga Anda dapat membayangkan sesak di dada, ketidaksabaran, pikiran-pikiran yang melintas di kepala Anda, dan apa yang Anda ingin katakan dan lakukan.

Pada banyak orang tua, stres semacam ini mungkin terjadi hampir setiap hari. Lucunya, kejadian seperti terlambat datang ke sekolah bukanlah suatu hal yang akan membahayakan kehidupan, tetapi dapat membangkitkan sensasi-sensasi, emosi-emosi, dan pikiran-pikiran yang kuat, seolah sesuatu hal yang buruk benar-benar akan terjadi.

Contoh di atas adalah bagaimana kita bereaksi di kehidupan sehari-hari, terutama saat di pengasuhan yang penuh stres dan bagaimana hal tersebut memengaruhi diri kita dan hubungan dengan anak kita.

Tetapi situasi penuh stres seperti di atas bukanlah satu-satunya situasi di mana kita menggunakan automatic pilot parenting. Kita mungkin sering mendapati diri kita melakukan semua rutinitas sehari-hari secara otomatis: menyikat gigi, mandi, berkendaraan ke tempat kerja, dll. Kita memberikan perhatian yang sedikit pada tugas-tugas tersebut, dan sebagai hasilnya, pikiran kita mengembara ke mana-mana, berpikir tentang pekerjaan atau rencana masa depan atau merenungi kejadian masa lalu. Dengan cara yang sama, banyak aspek dalam pengasuhan menjadi otomatis (melakukannya tanpa memberi perhatian penuh): kita mengenakan pakaian dan memberi makan anak-anak, mengantar anak-anak ke sekolah, bermain dengan anak, tanpa benar-benar hadir sepenuhnya. Kita bersama anak secara fisik, tetapi pikiran mengembara ke hal lain. Situasi ini akan memberi efek pada ketidakmampuan kita untuk benar-benar memahami dan berempati dan merespon pada anak-anak dengan utuh dan peka. Dan ada kehilangan akibat pengasuhan yang otomatis dan tidak mindfulnes ini: kita kehilangan momen kebersamaan yang utuh dengan anak.

Bila begitu banyak waktu kebersamaan dengan anak kita dilalui dengan cara otomatis, kita mempunyai resiko melewatkan proses tumbuh kembang anak.

BEING MODE VS DOING MODE

Sebagai orang tua, kita melakukan banyak hal. Banyak dari orang tua merasa terbebani oleh tugas-tugas yang perlu diselesaikan, yang membuat mereka selalu merasa tertekan, saat sedang mengerjakan satu tugas, kita memikirkan apa tugas selanjutnya.

Pikiran melakukan (doing mind) kita sangat baik dalam pemecahan masalah, merencanakan strategi, dan membawa kita dari satu tempat ke tempat yang lain. Tetapi jika sebagian besar waktu kita habis untuk doing mode, selesai dengan satu tugas, yang lainnya menunggu untuk diselesaikan. Ini akan sangat melelahkan. Jika kita tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang telah kita targetkan, kita akan merasa tidak lengkap atau frustasi. Di doing mode, tujuan (goal) adalah yang terpenting, dan kita tidak perlu memberi perhatian khusus pada prosesnya.

Mindfulness menawarkan cara lain: “being mode.” Ketika kita memberikan perhatian pada pengalaman kita dari momen ke momen, kita dikatakan dalam being mode: Kita melihat sebuah kejadian seperti apa adanya yang terjadi, bukannya mengantisipasi tujuan atau merencanakan apa yang akan kita kerjakan selanjutnya. Di being mode, kita mengalami lebih utuh apapun yang terjadi di saat sekarang.

Dengan being mode, kita menjadi sadar dengan automatic pilot parenting saat kita dalam situasi penuh stres dan selama interaksi harian dengan anak-anak. Intinya adalah tidak menghilangkan automatic parenting, karena ini tidak mungkin, tetapi menolong orang tua menjadi lebih sadar pada saat orang tua melakukan pengasuhan dengan automatic pilot dan mengenali apa yang terjadi ketika orang mulai lebih mindfulness. Ketika orang tua lebih hadir dan mindful saat berinteraksi dengan anak-anak mereka, mereka sering menemukan apa yang selama ini terlewatkan. Dan di momen tersebut, orang tua melihat apa yang tidak terbayangkan sebelumnya, pada anak mereka, dirinya sendiri, atau di hubungan mereka. Selanjutnya, ketika orang tua mampu mindful pada dirinya sendiri dan dalam pengasuhan yang penuh tekanan, dan lebih mampu menerima reaksi-reaksi mereka sendiri dan reaksi-reaksi anak mereka, mereka dapat menguji apakah reaksi otomatis bermanfaat atau tidak dan apakah mereka ingin memilih cara lain.

❓TANYA JAWAB (offline):

1⃣ Manik_Banut 1

1. Apakah ada cara-cara teknis dalam berlatih mindfulness?

2. Bisa tidak kita melatih mindfulness pada anak-anak?

3. Apakah ada minimal usia anak untuk kita latih mindfulness? terkait dengan perkembangan struktur otak anak?

Manik_Banut1
1. Ada. Contoh latihan teknisnya: bodyscan (BS), beginner’s mind (BM), Model skema utk mengenali dan menangani pengaruh pola asuh dari orang tua, dll.

2. Sangat bisa. Syarat pertama adalah orang tua sudah menerapkan mindfulness pada dirinya sendiri.

3. Logikanya: kalau anak sdh bisa berinteraksi dgn orang tua, mau mengikuti arahan orang tua, anak sudah bisa diajarkan mindfulness utk memberi keterampilan pada anak mengatasi trauma dan stres.

2⃣Uput_Banut1
1. Disatu sisi beberapa hal yang sifatnya teratur dan terjadwal adalah hal yang baik, apakah ini termasuk non mindfulness?
2. Aq pernah mengenal pendekatan mindfulness dg makan perlahan,bergerak perlahan, bernapas perlahan serta duduk diam. Apakah pendekatan ini juga dipakai untuk parenting mindfulness yg mas Supri tawarkan,atau ada pendekatan lain?
3. Idealnya dalam kehidupan sehari-hari apa bagian yg bisa dan baiknya mmg bersifat otomatis dan apa saja bagian yg harus mindful? Atau mindfulness mmg idealnya bisa ditempatkan di semua bagian kehidupan?
4. Bisakah penerapan mindfulness digunakan untuk mengobati trauma pengasuhan yg biasanya sadar tak sadar menjadi cara kita mendidik anak?
Bagaimana caranya?

Uput_Banut1
1. Benar. Teratur dan terjadwal itu tidak selalu buruk dalam kaitan dengan mindfulness (being mode). Yang perlu dikenali adalah apakah jadwal yg teratur itu membuat orang tua melewati banyak hal yang ada pada diri anak. Menurut pengalaman, ketika orang tua melihat anak dengan BM, orang tua baru sadar selama ini telah banyak yang terlewatkan melihat diri anak. BM membuat orang tua melihat anak secara utuh. Kedua, apakah doing mode telah menciptakan stres pada orang tua? Hasilnya: anak akan menjadi pelampiasan kemarahan orang tua. Dan sering, anak rewel atau berulah untuk mencari perhatian dari orang tuanya.

2. Ya..inti dari mindfulness adalah hadir di waktu sekarang. Menikmati momen sekarang. Cara ini dipakai di mindfulness parenting, dan banyak latihan2 lainnya untuk mencapai tujuan di setiap sesi.

3. Otomatis diperlukan dalam kondisi bahaya. Misal, menarik anak saat ada motor kencang lewat ke arah anak. Atau menginjak rem untuk menghindari tabrakan. Iya, mindfulness dapat diterapkan dalam semua kondisi kehidupan. Teknik2 di mindfulness parenting dapat kita terapkan kepada pasangan. Satu testimoni, si istri melihat suaminya dengan BM. Kemudian sikap dia lebih lembut ke suami. Suaminya melihat perubahan pada diri istrinya, lebih sabar ke anak, lebih tenang. Tidak mudah emosi. Kata wanita ini, sikap suaminya jadi tambah sayang sama dia.

4. Teknik di mindfulness parenting bisa juga untuk menangani trauma. Melalui bodyscan dan mindfulness duduk memerhatikan sensasi2 tubuh, emosi2, dan pikiran2. Peringatannya: pada awalnya harus ada pendampingan, sampai orang tersebut merasa bisa melakukannya sendiri.

3⃣Yasmin_banut1 Bagaimana cara agar bisa melakukan being mode? Studi kasusnya seperti apa?

Yasmin_Banut1
Silahkan lihat jawaban nomor 1 Manik_Banut1.
Salah satu testimoni:

29 agt 2016

Testimoni tambahan dari ku. terbaru ni.
Aku emmy, seorg ibu dari putri berusia 3 th dan putra berusia 1 th. LDR dg suami yg cuma dirumah seminggu sekali. Pas sama2 libur kerja.

Diawali bbrp hari lalu,aku dikomentari suamiku. katanya,aku berubah. Shg dia jadi tambah sayang. Alhamdulillah.

Jadi terlihat lebih sabar sama anak2 dan tambah hangat ke beliau. Hahay..

Sungguh, aku juga tak mengira sebelumnya klo bisa menjadi demikian. Padahal dengan ga ada nya ART, selalu dan selalu kami bertengkar. Dan ada beberapa kali aku minta cerai.

Dengan mindfulness, aku mengerti, itu pengaruh capek. Dan tadinya tantrum anak2 sering memicuku. Tapi kemudian sudah tidak lagi.

Seperti yg tjd kemaren. Anakku tantrum, waktu dia lagi disuapin, baru sedikit sudah minta berhenti dan minta susu. Saya sudah menangkap sinyal mau marah ni, terasa di tubuhsy. Dan sy tangkap hal itu tjd karna kondisi sy lapar dan sedang capek.

Baru sy tarik badan sy, sy ambil makanan, sy bilang jg sm suami, sy mau menjauh dulu dari anak.

Sy cepet2 makandiluar rumah. Tadinya anak cuma sama suami. Tapi suami puncuma nyuekin dan sibuk jagain adeknya yg lagi aktif, biar ga deketin kk nya yg tantrum.

Nangis2 sampe luar rumah. Pas sy uda selesai makan, uda ga lapar lagi. Sy masuk rumah, sy deketin anak sy. Sy rangkul dia,sy bilang gini.

” umi sayang sama Sophi. umi terima Sophi marah. tapi umi tetep ga bolehin minta susu skrg. sebelum tambah makan nasi lagi”.

win win solution. Sy ga harusin habis makannya. cukup tambah 3 SDM lagi. Dan alhamdulillah dia mau. Dan setelah nya spti yg sy janjikan sy kasih susu. sesuai yg dia minta.

Lain cerita saat bawa anakku kerja. Dia tantrum lagi gara2 ga terima krn sy ga bolehin dia lepas alas kaki. Nah,ngambek lah dia diluar ruangan sy. Yg tidak sy sukai, banyak nya teman2 yg komentar.

Sy sampai sempat terpancing marah dan bilang ke dia : uda puas blm diliatin org2.

Lama sy bujuk utk pulang,meninggalkan kantor sy. Situasi yg tidak sy sukai krn jadi pusat perhatian org. Diluar kantor anak sy blm mau pulang, minta makan somay. Sy penuhi dulu. Baru ngambeknya agak redaan.

Pas pulang, turun angkot, sy tawarkan gendong dia,sy peluk sepanjang jalan kerumah. Sy bilang sy sayang dia,sy ga mau kakinya Kotor krn lantai kantor kan Kotor beda dg dirumah. Trus sy minta maaf uda marah. Krn situasi dikantor beda dg dirumah. Banyak org yg liatin. Sy ingatkan berulang2 sy sayang dia.

Sampai rumah dia kembali ceria lagi. Alhamdulillah.

Dan tadi siang sy luaskan mindfulness ditempat kerja. Alhamdulillah lumayan teratasi dengan teman kerja menyebalkan yg suka minta uang. Sy coba melihat nya dg BM. sbg manusia yg memderita

Yg lagi berusaha sy atasi. Selain hilangkan trauma. Juga krn skrg ibuku lagi bantu dirumah. Krn sy ga punya ART sementara dia bantu jaga anakku yg kecil.

Yah kehadiran beliau sering bangkitkan IC ku yg terluka. Sy srg menganggap nya harus bertanggung jawab atas hidupku, menjadikan ku begini, jadi kesulitan membawa diri,dia srg menghardik ku. membuatku jadi sulit komunikasi sama org krn merasa diri tidak layak. Sy jg menganggap nya bertanggung jawab sudah tjd pelecehan padaku waktu kecil sementara sbg IRT dia ga tau sama sekali sampai saat ini. Saking sy ga bisa komunikasi sama siapapun krn selalu dihardik.

Maka sy sering sekali membela anak2 sy dan mengkritik nya klo dia menghardik anak sy. Sampai tingkat parah sy pernah nyuruh dia pulang saja klo memang krn kecapekan bantu sy jadi bikin melampiaskan ke anak sy.

Tapi memang Ibu saya gakkan ninggal in sy. Beliau sangat menyupport sy kerja. Dia gak ingin anak2 nya spti dia yg gak kerja.

Dan sy coba melihat nya dg BM. sbg manusia yg terluka.

Mudah2an bisa lebih meningkatkan kualitas sy sbg manusia. Amiinn

4⃣Mesa_banut1
Pak Supri, mau ikut bertanya. Saat ini kan segala informasi bertebaran dimana-mana dan sangat mudah diakses. Setelah saya coba evaluasi di diri saya, salah satu tantangan saya untuk mindfulness parenting, adalah mudah menyerap informasi-informasi yang masuk. Maka saya coba siasati dengan gadget management, membatasi jam online. Alhamdulillah ada perbaikan. Tapi yang masih menjadi tantangan, seringkali informasi-informasi yang masuk tersebut muncul di pikiran dan mau ga mau bikin mikir, meski saat itu sedang tidak online. Saat ini.masih terus berlatih mengendalikannya. Menurut bapak, bagaimana kiat-kiat untuk mengatasi tantangan tersebut ya? Terimakasih

Mesa_Banut1
Secara spesifik, saya tidak tahu informasi apa yang sebenarnya Anda cari dan informasi2 apa yang didapat dari media. Yang saya baca, Anda saat ini bingung dengan banyaknya informasi. Informasi mana yang akan Anda ambil dan cocok buat Anda dari banyaknya informasi yang tersedia. Anda jadi malah stuck. Semakin Anda memasuki otak dengan informasi baru, otak Anda me jadi penuh. Tapi karena Anda belum menemukan sesuatu yang dapat Anda pegang, informasi yang sudah tersimpan di otak,Anda pikirkan kembali. Membatasi informasi tentu saja akan membantu tapi sifatnya sementara. Karena apa? Anda masih dalam pencarian.

Lalu bagaimana mengatasinya? Anda harus punya pegangan dalam hal yang Anda cari, yang Anda yakini cara ini buat Anda cocok dan hasilnya dapat Anda rasakan. Selebihnya, informasi2 yang ada dapat menjadi tambahan dari cara yang sudah Anda temukan. Cara atau teknik yang jadi pegangan Anda tersebut nanti akan secara alamiah mampu membuat Anda memfilter informasi yang banyak tersebar di luar.
Contoh: saya seorang terapis. Saya banyak mempelajari teknik2 terapi. Saya belum berhenti mencari sampai saya menemukan satu yang jadi pegangan buat saya. Begitu saya sudah menemukannya, cara2 lain tidak menggangu saya lagi. Ya, dalam perjalanan saya mungkin harus menambah ilmu baru, tapi itu sebagai pelengkap.

Jadi, wajar saja kalau Anda saat ini terbebani dengan bayaknya informasi. Ini bagian dari proses pencarian yang memang harus dilewati. Suatu saat Anda akan menemukan satu buah cara yang menjadi pegangan Anda.

5⃣ 🙋🏻 winny_banut 2
Bagaimana cara meraih mindfulness di tengah situasi yg penuh tekanan dan tuntutan saat ini? Apakah dengan mindfulness berarti kita “abai/sedikit” longgar dengan pencapaian target, yang penting bisa menikmati momen yg ada?

Winny_banut2
Di mindfulness parenting diberi keterampilan mengenali BATASAN diri. Kita stes karena kita telah melanggar batas kemampuan diri kita. Melalui tubuh, kita bisa mengenali batasan diri. Itu pondasinya. Jika kita sdh terlatih mengenali batasan, mindfuness kita sdh terlatih, kita akan mampu merespon situasi sebelum kita melanggar batasan diri kita dan menjadi stres dan anak jadi sasaran kemarahan kita. Jika kita cenderung perfeksionis, tentu saja kita harus mau sedikit longgar pada target2 yg dibuat. Perfeksionis adalah salah satu sumber stres dan ini punya akar masalah di masa kecil.

6⃣ NN_Banut 2
1. bagaimana tanggapan bapak terhadap kasus kdrt? bagaimana cara menolong korban kdrt, apakah perceraian diperlukan? tapi bagaimana nasib anak-anak?

2. pasangan yang pemarah dan ga bisa sabar terhadap polah anak ternyata banyak sekali, kemungkinan karena warisan pola asuh. Bagaimana menyiasatinya ya pak?

3. autopilot biasanya terpicu karena emosi dan trauma bagaimana kita diperlakukan dulu. bagaimana keluar dari trauma?

4. Pada akhirnya para ibu harus bisa membahagiakan diri sendiri. Karena kebahagiaan tidak ttergantung pada pasangan dll…tapi bagaimana caranya ya pak?

NN_banut2
1. Kasus kdrt harus dilihat, pertama, apakah kasusnya sudah sangat parah? Misal, belum lama ini ada member saya yang posting foto mukanya yang babak belur akibat pemukulan oleh suaminya. Ini kategorinya sudah parah dan bagi saya tidak layak dipertahankan. Bila pelaku lebih kooperatif menyelesaikan konflik, pernikahan layak dipertahankan. Bagaimana dengan nasib anak2? Saya beri pertimbangan: ini memang menjadi dilema wanita yang ingin bercerai dari suami pelaku kdrt dan wanita ini merasa tidak bisa hidup sendiri. Bisa pula alasan anak bisa dipakai untuk menutupi ketidakberdayaan mereka. Mereka tidak berani menjalani hidup sebagai single parent (dgn berbagai alasan masing2). Tidak ada satu pun anak yg bebas trauma meskipun dari keluarga yang relatif baik. Apalagi jika anak berada dalam lingkungan keluarga yg penuh konflik, plus lebih parah lagi jika ada pemukulan. Ya, anak bisa mempunyai trauma dengan orangtua bercerai, anak juga bisa trauma dalam konflik orang tua. Orang tua akan sulit membantu anak menyembuhkan diri karena orang tua sendiri punya kesulitan dalam kondisi yg kurang baik. Jika ibu dan anak berada di situasi yang lebih tenang, ibu bisa menyembuhkan dirinya dan kemudian membantu kesembuhan anak. Dua pilihan yang sulit, tetapi harus diambil. Tidak mengambil keputusan keluar dari kondisi konflik pun akan menyebabkan anak trauma. Manakah yang akan Anda ambil?

2. Iya..pola asuh masa lalu sangat memberi pengaruh kepada orang tua. Pelaku kdrt kemungkinan besar dulu menerima pola asuh yg menggunakan kekerasan. Wanita yang salah memilih pasangan juga bisa karena pola asuh atau lingkungan masa kecil di dalam keluarga. Di mindfulness parenting diajarkan mengenali dan menangani pola asuh masa lalu agar kita dapat memutus mata rantainya.

3. Ada satu teknik yang diadopsi dari cara hewan2 melepaskan stres dan trauma, namanya pengalaman somatis. Teknik ini bisa digunakan utk menyembuhkan trauma. Saya pakai cara ini dalam membantu klien.

4. Itu pesan saya kepada semua wanita hehe…caranya? Mulailah dengan belajar mencintai diri sendiri. Seperti moto grup saya “Love yourself!” Di dalamnya kita bisa menerapkan affirmasi positif, berbincang positif dengan diri sendiri, menangani inner child, dll.

7⃣ 🙋🏻Inda_banut2
Mas supri, tanpa disadari saya sering sekali menggunakan automatic parenting, setelah baca materi ini jadi merasa bersalah sama anak saya, jadi untuk mengubah mode saya menjadi being mode itu apa yang pertama kali harus saya lakukan biar being mode menjadi kebiasaan saya jika berhadapan dengan anak saya?

Inda_banut2
Di mindfulness parenting diajarkan bagaimana caranya memindai tubuh (BS) dan melihat anak dengan beginner,s mind (BM). Bisa sudah terlatih, BS membuat kita mampu menangkap lebih dini sinyal kemunculan stres. Kemudian kita merasakan sensasi2 tubuh akibat stres. Selanjutnya kita pergi ke tempat lain untuk melakukan teknik pereda stres. Setelah stres hilang, kita mendatangi kembali anak utk memberi respon dengan lebih baik, tidak lepas kendali lagi. Sedangkan dengan BM, Anda melepaskan label2 dan penilaian pada anak yang membatasi memandang anak secara utuh. Respon Anda pada anak juga terbatas karena adanya label dan penilaian. Sikap dan tindakan orang tua bisa berbuah jika sudah melepas label dan penilaian. Orang tua yang punya keterampilan mindfulness pada saatnya mampu berempati terhadap anak. Empati ini yang bisa mencegah orang tua dari tindakan lepas kendali.

8⃣ NN_Banut 2
kadang ada orang yang dari sejarah hidupnya mengalami trauma. sifat maupun kondisi fisiknya terlihar juga tanda trauma, tapi orang itu selalu mengingkari dan berkata s aya baik2 saja. Saya merasa tidak perlu bantuan atau harus berubah. Kenapa ada kondisi orang yg seperti itu ya pak?

Jawab:
Mengapa ada orang yang menyangkal jika dirinya punya masalah? Orang seperti ini karena mereka menerima pesan2 negatif dari orang tua.
Pesan2 seperti: bicara masalah keluarga atau diri sendiri sama dengan membuka aib. Kita harus kuat. Anak laki2 tidak boleh nangis. Anak laki2 jangan seperti anak perempuan. Cukup hanya pada Tuhan kamu bicara (padahal pertolongan Tuhan melalui perantara orang lain).
Sementara itu, semua pasti mengakui bahwa memendam masalah sendirian itu hanya akan memperburuk keadaan. Dia tidak mau mencari bantuan karena takut membuka aib keluarga atau dirinya, takut menyakiti perasaan orang tua, takut dibilang lemah, takut dihakimi tidak beriman atau kurang bersyukur. Kalau dia tidak mampu juga keluar dari masalahnya, padahal dia sudah minta bantuan Tuhan, dia akan marah pada Tuhan!

9⃣ Lendy_Banut 2

Bismillah,

Salam kenal, Pak Supri Yanto.

1. Saya sebenarnya ada trauma pengasuhan. Namun saya simpan jauh-jauh di lubuk hati saya.

Saya bertekad tidak akan membuka kotak masa lalu itu.

Apakah saya termasuk orang yg melarikan diri dr masalah..?

Menurut Bapak,
Apa yg sebaiknya saya lakukan?

Menyembuhkan luka masa lalu tersebut atau let it flow sajalaah..toh saya hidup di masa kini, bukan masa lalu.

Berbahaya kah utk tumbuh kembang anak saya?

2. Mengenai *Doing Mode* apakah sama maksudnya dengan memberi limit pada anak..?

Sejujurnya,
Saya orangnya sangat santai dan cuek akan waktu.

Bisa jd saya *doing mode* kalau sudah injury time.

Tp utk usia anak sekolah TK, saya hanya sebatas mengingatkan bahwa sudah waktunya begini dan begitu.

Maksud saya adalah mengenalkan limit.

Apakah begitu atau ada penjelasan lain, Pak..?

Lendy_banut2
1. Sebagian jawabannya ada di jawaban untuk NN_banut2. Silahkan menuju ke sana ya.
Apa yang seharusnya dilakukan? Carilah orang yang kompeten dan dapat dipercaya untuk membantu masalah Anda.

Masa lalu memang telah berlalu.Tetapi…jika ada persoalan di masa lalu yang belum diselesaikan, masa lalu tetap hidup dan menggangu masa sekarang. Contoh: seorang anak kecil yang pernah mendapatkan pelecehan seksual akan tetap membawa trauma jika trauma masa lalunya tidak ditangani. Pelaku pedofil adalah contoh nyata pelaku yang dulunya adalah korban pelecehan seksual yg tidak disembuhkan.
Jadi, trauma akan mempengaruhi tumbuh kembang anak jika traumanya tidak disembuhkan.

mengabaikan atau tidak mau bersentuhan dengan masa lalu bisa dikatakan melarikan diri dari masalah. Sama seperti kita menolak merasakan perihnya cairan obat untuk luka di kulit kita. Kita tahu kita sakit, tapi menghindar penyembuhkan krn takut merasakan sakit. Menyembuhkan trauma mengharuskan orang bersedia merasakan sakit (tapi ini hanya untuk sementara). Melarikan diri dari merasan perih hanya akan memperburuk luka.

2. Doing mode tidak sama dengan memberi batasan pada anak. Di Doing mode, fisik orang tua bersama anak, tetapi pikiran orang tua tidak hadir bersama anak. Pikiran orang tua mengembara dari satu tugas ke tugas lainnya. Pada diri anak bisa tumbuh perasaan diabaikan oleh orang tua. Seperti pada kasus orang tua yang terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk anak. Anak akan merasa kurang kasih sayang. Dan ini akan menjadi masalah di masa dewasa anak.
Sedangkan memberi batasan adalah cara orang tua mengajarkan anak tentang nilai2 dan norma2, mengenali mana yang baik dan buruk. Disamping itu batasan adalah cara orang tua merawat dirinya. Jika orang tua mampu menetapkan batasan secara baik pada anak, konflik dapat dihindari. Orang tua punya waktu untuk merawat dirinya.

Sepanjang dalam menerapkan batasan jarang atau tidak ada konflik antara orang tua-anak, pembelajaran batasan sangat baik buat anak dan Anda sendiri. Penerapan batasan dalam kondisi doing mode punya kecenderungan menciptakan stres pada orang tua dan anak.

🔟 NN_ Banut 2
apa bapak pernah membantu laki2 yang juga mengalami trauma, kesulitan dgn emosi, dll. Kenapa sepertinya kebanyakan peremuan yang lebih bisa membuka diri untuk mencari bantuan?

NN_banut2
Grup2 yang saya buat mayoritas yang mencari penyesaian masalah dirinya adalah perempuan. Yang laki2? Hanya silent reader. Pernah ada beberapa laki2 dgn kasus penyimpangan seksual sesama jenis minta bantuan, tetapi tidak berlanjut. Pernah tangani laki2 deperesi terselubung pada ayahnya, saya tangani sekali tapi tidak berlanjut. Belum pernah ada klien laki2 yg pelaku kdrt minta bantuan. Terakhir kasus laki2 yg punya serangan panik di tempat umum. Saya bantu. Itupun karena dia terdesak lusa dia harus ikut pelatihan. Dia berhasil tidak mendapatkan serangan panik. Tapi sumber traumanya belum sempat ditangani, tidak berlanjut terapinya. Jadi boleh dibilang saya lebih banyak menangani problem2 perempuan hehe…

Itu sedikit gambaran umum yang membedekan laki2 dan perempuan dalam hal mencari bantuan untuk dirinya.

Mengapa hal itu terjadi pada laki2?
Perbedaan pola asuh anak laki2 dan perempuan yang membedakannya. Anak perempuan lebih bisa diterima perasaan2nya. Sedangkan anak laki2 sudah mendapatkan penghakiman2 sejak kecil: tidak boleh nangis, jangan seperti perempuan, jangan mengeluh. Harus kuat. Dll yang memberi pesan: anak laki2 lebih tinggi kedudukannya dari perempuan. Penghakiman adalah momok buat laki2.

❓TANYA JAWAB (Live):

Host (H 💁🏻): Assalamualaikum…

Selamat datang mas Supri di grup dapur Kulwap IIP Bandung…

Silahkan memeperkenalkan diri dulu…

Narsum (N 👱🏻): Assalamualaikum wr wb…

Terima kasih sebelumnya karena telah dipercaya memberikan kulwap di IIP Bandung. Semoga saya bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi member IIP Bandung.

Saya Supriyatno, penulis, terapis, dan konselor trauma sejak 2008 dan pendiri beberapa grup konseling dan terapi.

Saya akan berusaha menjawab setiap pertanyaan member di sini sebaik mungkin dan mudah dimengerti.

Terima kasih

(H 💁🏻): Terimakasih mas Supri yang bersedia hadir disini. Membagikan ilmunya, dan insyaAllah akan sangat berguna bagi ibu2 IIP Bandung.

(N 👱🏻): Sama2…

(H 💁🏻): kalau boleh tau, gimana sih perjalanan bapak hingga mendirikan peduli trauma?
Kami pernah berdiskusi bersama mas Adjie Silarus tentang mindfulness, apakah ada kaitannya teori mindful parenting dg teori yg diusung oleh mas Adjie ?

(N 👱🏻): Terima kasih pertanyaannya mbak Ai,

Tahun 2007 saja mengikuti pelatihan Seft. Tujuannya supaya saya bisa sukses secara finansia. Dari sini awal saya menemukan bahwa trauma memengaruhi segala aspek kehidupan. Saya makin mendalami permasalahan trauma. Dan tahun 2008 saya membuat grup Peduli Trauma di FB.

Saya punya pengalaman buruk masa kecil. Saya pernah mendapat low mood disorder. Psikosimatis.

Host 2 (H2 🙋🏻): Waalaikumsalam selamat datang pak Supriyanto terimakasih sudah hadir dan bersedia hadir di tengah-tengah kami:)

(N 👱🏻): Pernah kena phobia fear of future yg membuat saya depresi

Mbak Ai: saya belum pernah tahu teori mas Adjie. Tapi inti mindfulness semua pasti sama. Hanya penerapannya saja di area mana. Di pengauhan. Saya pakai mindfulness untuk menulis.

Pengasuhan maksud saya

Terima kasih mbak Noor 🙂

(H 💁🏻): Saya anak ke 7 dari 7 bersaudara, perasaan terus diperlakukan seperti anak kecil terus menempel di benaksaya walaupun sdh berkeluarga dan punya anak. Sejak kecil sy jg sering dicap pundungan (sulit ati/mudah tersinggung). Kendala yg saya hadapi sekarang adalah keraguan untuk memutuskan sesuatu, tdk percaya diri, dan sulit move on bila menghadapi kekecewaan dan kegagalan. Apakah itu bagian dari trauma?

Oh… saya kira saling berkaitan, ternyata tidak ya… ok, terimakasih…

Wow.. ternya mas Supri jg pernah mengalami trauma juga ya…

Ternyata maksudnya.

(N 👱🏻): Iya..itu alasan saya tertarik dgn permasalahan trauma 🙂

Yang dialami mbak Ai itu trauma sebagai dampak dari sikap orang tua. Dan saya lihat sekilas mbak Ai adalah seorang HSP.

(H2 🙋🏻): Ini maksudnya seperti apa ya pa? [“Saya punya pengalaman buruk masa kecil. Saya pernah mendapat low mood disorder. Psikosomatis”]

(N 👱🏻): Orang tua saya dulu suka beramtem mulut. Saya trauma kalau ada orang berantem. Low mood itu tingkat lbh rendah dari depresi.

(H 💁🏻): HSP, Hypersensitive People maksudnya?

(N 👱🏻): Psikosomatis adalah gangguan di tubuh yg disebabkan oleh pikiran2 dan keyakinan2 kita

Iya. Highly sensitive person

Orang hsp memang sering dapet julukan gak enak: baper, sensirif, melow dll 🙂

Tapi hsp punya keunikan dan potensi luar biasa

(H2 🙋🏻): Orang yg HSP itu apa2 yang di katakan orang suka jadi pikiran ya pak? Maksudnya pikiran yg berlarut-larut

(H 💁🏻): Bagaimana tipsnya pak bagi HSP aga bisa terhindar dari psikosomatisnya?

Soalnya klo lg stres, sy suka mual2, g mau makan, sulit tidur, sampai tengkuk dan punggung saya sakit.

(N 👱🏻): Tips secara garis besar:
-Mengenali hsp nya
-Menerima
-Membuat penyesuaian

Iya itu psikosomatis namanya.reaksi2 tubuh terhadap stres

Mind-body comnection

Hsp biasanya dipercaya orang utk tempat curhat :mrgreen:

(H 💁🏻): He… begitu ya…

Bakat tertinggi saya adalah consistency (dari hasil Talent Mapping) yg artinya sy menganggap orang lain itu sm dg saya (menyama ratakan setiap orang, harus taat aturan, dan cenderung kaku. Seharusnya bakat consistency ini menjadi kelebihan bagi saya, tp selama ini saya merasa malah jd boomerang.
Contohnya saat di tempat kerja (dulu sy PNS di RSUP di Bandung) karena sy memaksakan pola perawatan yg ideal sm teman2 saya, saya malah dibully, dijauhi.
Bagaimana menurut pandangan mas Supri dg hal ini.

Membuat penyesuaian nya seperti apa? [“Tips secara garis besar: mengenali hspnya, menerima, membuat penyesuaian”]

#Pak Supri, tentang memberi batasan kepada anak, bagaimana kalau anak memberontak? Apakah tetap dijalankan? Atau kita terlalu keras pada anak? Bagaimana membedakan keras pada anak dan memberi batasan?

👆ini ada pertanyaan ol dr member

(N 👱🏻): Ttg consistensi: iya ini bakal jadi masalah. Soalnya personaliti setiap orang berbeda2. Saya lihat ini dipengaruhi perfeksionisme.

Misal, hsp akan stres kalau di keramaian. Maka dia harus mencari ke tempat yg lebih tenang.

Pak Supri, tentang memberi batasan kepada anak, bagaimana kalau anak memberontak? Apakah tetap dijalankan? Atau kita terlalu keras pada anak? Bagaimana membedakan keras pada anak dan memberi batasan?
–>
Anak memberontak jgn diterapkan cara2 lama yg membuat anak menolak. Ini hanya memperpanjang konflik. Orang tua stres. Anak juga stres. Mulai dari orang tua dulu.

(H 💁🏻): HSP pengaruh jg terhadap kesehatan g? Sy termasuk org yg ringkih, punya rhinitis alergi (mudah pilek karna alergi), dan kurus terus.

(N 👱🏻): Kebetulan tadi mbak wiwik cerita kenapa anaknya memberontak dan dia menemukan jawabannya dgn midfulness

Iya karena sensitifitasnya itu jadi rentan.

(H2 🙋🏻): # Berkenaan dengan mengatasi trauma. Apa kah mindfulness ini bisa memperbaiki komunikasi yg bermasalah? Suami sy jarang sekali berbicara dengan ibundanya, karena ketika kecil kurang dkt dn sering bermasalah. Bagai mana cara memperbaiki nya ya?
Saya ingin melihat suami dan mama nya bisa dekat dan berkomunikasi layak nya ibu dan anak.

Ini ada pertanyaan dr member pak👆🏻

(H 💁🏻): bagaimana dgn kasus perselingkuhan yg pernah bapak tangani, biasanya bagaimana akhirnya?

👆ini juga dr member lg.

Host 3 (H3 🙆🏻): #❓Seperti yg tadi bapak bilang bhw anak laki2 terkena momok batasan. Sekarang sy punya anak pertama laki2 umur 12 thn terbilang abg yg sdg banyak maunya dan bnyk perubahan. Bgmn cara yg paling baik dan bijak dlm pola pengasuhan sy pd dia. Sdgkan sy ibu yg bekerja.

Info tambahan : bhw sy mengenali anak sy ini tdk cocok berkomunikasi dgn ayahnya yg tipical nya masih hrs sering sy ingatkan kalau bcr dgn anak sy ini masih one way alias komunikasi boss

Bgmn juga sy menengahi mreka agar tiada kesan sy selalu di pihak anak…dan kadang ujung2nya sy malah merasa sy yg sering tdk cocok dgn suami dan efeknya itu buat sy malah meluas dan dlm sekali😓

👆🏻itu ada pertanyaan dari member mas 🙂

❓Pertanyaan :
Pak supri, apakah ada tips menangani psikosomatis akibat penyakit lambung? Saya pernah baca pengalaman orang, katanya dengan hypnoterapi. Apa benar pak? Nuhun.

(N 👱🏻): .Berkenaan dengan mengatasi trauma. Apa kah mindfulness ini bisa memperbaiki komunikasi yg bermasalah? Suami sy jarang sekali berbicara dengan ibundanya, karena ketika kecil kurang dkt dn sering bermasalah. Bagai mana cara memperbaiki nya ya?
Saya ingin melihat suami dan mama nya bisa dekat dan berkomunikasi layak nya ibu dan anak.
–>
Bisa. Jika suami memang mau memperbaiki hubungan dgn ibunya

Kasus perselingkuhan kebanyakan wanita bertahan :mrgreen:

(H 💁🏻): Seperti akhirnya sy resign dr pekerjaan sy, dan salah satu alasannya krn suasana yg penuh dg ketidak disiplinan, yg tdk sesuai dg value saya ya pak?

sebagai terapis online, apa bapak pernah trkena fomo?..

Dr member juga 👆

(N 👱🏻): ❓Pertanyaan :
Pak supri, apakah ada tips menangani psikosomatis akibat penyakit lambung? Saya pernah baca pengalaman orang, katanya dengan hypnoterapi. Apa benar pak? Nuhun.
—> tekniknya bisa apa saja yg penting ketemu permasalahan utamanya.

Fomo? Apa itu?

Masalah lambung itu krn stres. Jadi tugasnya adalah bagaimana mengelola stres. Punya keterampilan menangani stres.

(H 💁🏻): Yg ini blm di jawab… [“Seperti yg tadi bapak bilang bhw anak laki2 terkena momok batasan. Sekarang sy punya anak pertama laki2 umur 12 thn…”]

(N 👱🏻): Oh iya :mrgreen:

Masalah ini harus kembali dulu pertama ke orang tua lagi. Gaya suami mungkin mengikuti pola batasan orang tuanya dulu dlm menerapkan batasan.

Kaitannya lagi dgn label2 dan penilaian orang tua pada anak. Kalau orang tua memberi label sebagai anak bandel, sikap dan tidakan orang tua pasti sesuai dgn penilaiannya

Sebelum anak berubah, orang tuanya dulu yg berubah

Maaf,kulwap sampai jam berapakah?

(H 💁🏻): Alhamdulillah sdh lewat 1 jam kebersamaan kita di diskusi seru tg automatic pilot parenting plus plus 😄

Terimakasih banyak mas Supri, atas kesediaannya meluangkan waktu bersama IIP Bandung.

Semoga jadi amal jariyah yg tdk akan terputus pahalanya sampai nanti.

Saya cukupkan sampai disini saja ya…

🙏🙏🙏

(N 👱🏻): Terima kasih…semoga bermanfaat apa yg sudah saya bagikan di sini. Terima kasih atas doanya…

🌸🌸🌸 SEKIAN 🌸🌸🌸

Disclaimer :
Semua materi yang di share sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s