Berdoa Kepada Selain Allah Adalah Syirik Besar

Melanjutkan materi sebelumnya, berikut penjelasan mengenai kesalahpahaman seseorang dengan memohon pertolongan melalui doa kepada selain Sang Pencipta, Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Semoga bermanfaat 🙂

~~~~~~~~~~~~~~~
BimbinganIslam.com
Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA
Berdoa Kepada Selain Allāh Adalah Syirik Besar
⬇ Download Audio: https://goo.gl/2ITi2P
~~~~~~~~~~~~~~~

بسم الله الحمر الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Berdo’a kepada Allāh adalah seseorang menghadap Allāh dengan maksud supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewujudkan keinginannya, baik dengan meminta atau dengan merendahkan diri, mengharap dan takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒ Berdo’a dengan makna di atas adalah ibadah.

Berkata An Nu’mān Ibnu Basyīrin radhiyallāhu ‘anhu :

“Aku mendengar Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallama bersabda : ‘Do’a adalah ibadah.’

Kemudian Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam membaca ayat:

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

“Dan Rabb kalian berkata : ‘Berdo’alah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan kalian.

Sesungguhnya orang- orang yang sombong dari beribadah kepadaKu, mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam dalam keadaan terhina’.”

(HR Abū Dāwūd, Tirmidzi, Nasāi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh).

✓Dan makna “beribadah kepadaKu” adalah “berdoa kepadaKu”.

Apabila do’a adalah ibadah yang merupakan hak Allāh semata, maka berdo’a kepada selain Allāh dengan merendahkan diri di hadapannya, mengharap dan juga takut kepadanya, sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allāh adalah termasuk syirik besar.

Dan termasuk jenis do’a adalah:
• ⑴ Istighātsah (meminta dilepaskan dari kesusahan)

• ⑵ Isti’ādzah (meminta perlindungan)

• ⑶ Isti’ānah (meminta pertolongan)

Apabila di dalamnya ada perendahan diri, pengharapan dan takut, maka ini adalah ibadah, hanya diserahkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata.

Dan perlu kita ketahui bahwasanya:

◆ Boleh seseorang beristighātsah, beristi’ādzah, beristi’ānah kepada seorang makhluk dengan 4 syarat:

• ⑴ Makhluk tersebut masih hidup.

• ⑵ Dia berada di depan kita atau bisa mendengar ucapan kita.

• ⑶ Dia mampu sebagai makhluk untuk melakukannya.

• ⑷ Tidak boleh seseorang bertawakkal kepada sebab tersebut, akan tetapi bertawakkal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan sebab.

Orang yang beristighātsah, beristi’ādzah atau beristi’ānah kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang masih hidup, akan tetapi tidak berada di depan kita atau tidak mendengar ucapan kita atau meminta makhluk perkara yang tidak mungkin melakukannya kecuali Allāh, maka ini termasuk syirik besar.

Itulah halaqah yang ke-12 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Saudaramu,
‘Abdullāh Roy

✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
___________________________

http://www.ceritakeluarga.wordpress.com

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s