Nak, Yuk Shalat!

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 23 Rajab 1437H / 30 April 2016M
📝 Materi Tematik | Nak, Yuk Shalāt ! (Bagian 1)

〰〰〰〰〰〰〰

NAK, YUK SHALĀT ! (BAGIAN 1)

Salah satu kewajiban orang tua kepada anak adalah mengajarkan agama sejak mereka masih kecil.

Memerintahkan apa yang Allāh perintahkan dan mencegah mereka dari apa yang Allāh larang, sebagaimana firmanNya:

ياأيها الذين أمنوا قو انفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس و الحجارة

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari (siksa) neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At Tahrim: 6)

⇒ Salah satu perintah yang paling penting dalam agama ini adalah shalāt.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadīts Mu’ādz bin Jabbal :

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ

“Pokok agama ini adalah Islam dan tiangnya adalah shalāt” (Arbain Nawawi: 29)

⇒ Shalāt merupakan ibadah yang sangat agung dalam agama Islam.

Banyak sekali dalīl dari Al Qurān dan Sunnah yang menjelaskan kedudukan shalāt yang sangat tinggi dalam Islam.

Rasulullah bersabda yang artinya:

“Perjanjian antara kita dan mereka (orang Munāfiq) adalah shalāt. Barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kāfir”.

Oleh karena itu, Allāh dan Rasūl-Nya secara terang-terangan memerintahkan setiap orang tua untuk menyuruh anaknya mengerjakan shalāt.

Allāh berfirman :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalāt dan bersabarlah (dalam mengerjakannya), Kami tidak meminta rizki darimu, (tetapi) Kamilah yang memberimu rizki”. (QS Thāhā: 132)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مُروا أولادكم بالصلاة لسبع سنين واضربوهم عليها لعشر

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalāt ketika berusia 7 tahun, dan pukullah mereka (jika tidak shalāt ) pada umur 10 tahun”

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan:

من كان عنده صغير مملوك أو يتيم ، أو ولد ؛ فلم يأمُره بالصلاة ، فإنه يعاقب الكبير إذا لم يأمر الصغير، ويُعَــزَّر الكبير على ذلك تعزيراً بليغا، لأنه عصى اللهَ ورسول

“Barangsiapa yang memiliki budak kecil, atau anak yatim, atau anak laki-laki dan tidak memerintahkan shalāt, maka ia dihukum, apabila tidak memerintahkan anak kecilnya (untuk shalāt), dengan hukuman yang keras, karena ia telah bermaksiat kepada Allāh dan Rasūl-Nya.”

​Pada prakteknya, memerintahkan anak untuk mendirikan shalāt bukanlah hal yang mudah, sebab, anak bukanlah robot yang selalu menuruti perintah kita, atau adonan yang dapat kita bentuk-bentuk semau kita.

Anak tetaplah manusia dengan sifat dasar dan watak yang berbeda-beda, serta mudah terpengaruh oleh lingkungan.

Perlakuan pada anak yang satu tidak bisa serta merta diterapkan pada anak yang lain. Karena itu, bukanlah jaminan apabila seorang anak senantiasa melihat orang tuanya mengerjakan shalāt kemudian ia juga akan rajin mengerjakan shalāt.

Akan tetapi, tergantung bagaimana orang tua itu memerintahkan anaknya untuk shalāt.

Memerintahkan shalāt kepada anak membutuhkan :

↝ Azzam yang kuat
↝ Ketelatenan
↝ Ilmu dan seni berinteraksi dengan anak.

Bentakan dan pukulan tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan membuat anak mencintai shalāt sebaliknya hanya membuat anak terpaksa menjalankan shalāt.

Setelah semua itu, selanjutnya adalah bersabar.

Bersabar ketika anak tidak serta merta mengerjakan shalāt, bersabar dengan kebandelan anak, juga bersabar untuk istiqamah dalam memerintah.

Bersabar, karena kita sedang meniti jalan Allāh.

Bersabar, karena beberapa hal berikut:

⑴ Allāh dan Rasūl-Nya lah yang memerintahkan kita untuk melaksanakan hal ini.

⑵ Anak-anak adalah amanah dari Allāh yang wajib kita jaga.

Bila Ia yang telah memberi amanah menyuruh kita untuk memerintahkan anak-anak kita mengerjakan shalāt, maka sudahkah kita memelihara amanah apabila kita mengabaikan hal tersebut?

⑶ Shalāt adalah penghubung antara hamba dan Rabbnya, maka bagaimana kita akan merasa aman terhadap anak kita sepeninggal kita nanti, apabila ia tidak menjaga hubungan antara dirinya dan Rabbnya?

⑷ Apabila kita merasa takut akan kesengsaraan anak kita di dunia, maka tidakkah kita takut akan kesengsaraan mereka di akhirat?

⇒ Tidakkah kita merasa ngeri apabila mereka dimasukkan ke neraka saqar yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang meninggalkan shalāt?

⑸ Shalāt mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka bila kita ingin anak kita terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, yang paling penting kita lakukan adalah memerintahkan mereka untuk mendirikan shalāt.

Selain itu, sepantasnya kita banyak mencari ilmu tentang cara-cara mengajarkan shalāt kepada anak, baik dengan membaca atau banyak bertanya kepada orang-orang yang berhasil mendidik anak mereka.

⇒ Tanpa ilmu, kita akan terjebak dalam kesulitan, yang bisa jadi, membuat kita putus asa di tengah jalan, atau mengambil tindakan yang tidak tepat.

⇒ Sebaliknya, dengan ilmu, suatu usaha menjadi lebih mudah dan lebih cepat, biidznillāh.

Beberapa hal yang dapat memudahkan kita dalam mendidik anak melaksanakan shalāt adalah:

① Semakin dini kita memulai memerintahkan shalāt, maka akan semakin mudah.

② Memerintah shalāt dimulai sejak anak pertama, karena anak pertama inilah yang akan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Bila anak pertama mengerjakan hal-hal yang kita perintahkan, maka adik-adiknya cenderung melakukan hal yang sama.

③ Mengingat pahala yang akan kita dapat dari Allāh, karena selain kita akan mendapat pahala mengajari mereka shalāt, kita juga akan senantiasa mendapatkan pahala shalāt mereka, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, seperti sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak orang kepada kebaikan, ia akan mendapat pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka (orang yang mengamalkan itu) sedikitpun.” (HR Muslim 2674)

④ Merendahkan diri di hadapan Allāh dan selalu meminta pertolonganNya dalam melaksanakan hal ini, serta tidak menyandarkan keberhasilan pada usaha kita, dengan memperbanyak doa :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Yā Allāh jadikanlah aku orang yang mendirikan shalāt dan dari keturunanku. Yā Rabb kami, Engkaulah yang Maha Mengabulkan do’a-do’a.” (QS Ibrāhim: 40)

⑤ Menyebutkan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang tinggi,ketika berdo’a agar anak kita mendirikan shalāt, terutama dengan namaNya Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam, karena Rasūlullāh bersabda yang artinya:

“Perbanyaklah berdo’a dengan Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam”. (HR Tirmidzi 3525)

⑥ Jangan berputus asa dari rahmat Allāh, ingatlah bahwa Allāh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan pertolongan Allāh akan datang dari arah yang tidak kita sangka. Dia Yang Menjadikan anak kita dari tidak ada dan menyempurnakan bentuk dan rupanya, Dia juga lah yang akan menjadikan mereka manusia-manusia shālih yang mendirikan shalāt , selama kita senantiasa berjihad di jalanNya..

[Bersambung ke Bagian 2]

Disarikan dari kutaib berjudul “Kaifa Nuhabbibus Sholah li Abnāinā”, ar-islamway.net

Ummu Sholih, di Madinatu Qur’an, Jonggol
_____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

***

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 07 Sya’ban 1437H / 14 Mei 2016M
📝 Materi Tematik | Nak, Yuk Shalāt ! (Bagian 2)

〰〰〰〰〰〰〰

NAK, YUK SHALĀT ! (BAGIAN 2)

Setelah kita menyadari mengapa kita harus bersabar dan istiqamah dalam mendidik anak mengerjakan shalāt, kali ini kita akan membahas bagaimana cara mengajarkan shalāt kepada anak secara bertahap.

Satu hal yang harus selalu kita ingat ketika mendidik anak untuk shalāt adalah, bahwa tujuan kita adalah membuatnya mencintai shalāt dan merasa butuh kepadanya. Karena itu, selayaknya kita memilih cara-cara yang baik dan penuh hikmah ketika mengajarkan mereka shalāt.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Dan serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik” (QS An Nahl: 125)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memperburuknya.”

(HR Muslim nomor 4698, versi Syarh Muslim nomor 2594).

Salah satu hal terpenting dalam mendidik anak adalah kesepakatan kedua orang tua, ayah dan ibu, dalam pelaksanaan pendidikan tersebut. Ayah dan ibu harus menaati peraturan yang dibuat bersama dengan anak.

Misalnya, bila ibu berjanji memberikan hadiah istimewa bila anak menjalankan shalāt dengan rutin, maka janganlah ayah merusaknya dengan memberikan hadiah yang lebih besar untuk hal lain, sedangkan anak tidak rutin menjalankan shalāt.

Begitu pula sebaliknya, bila ibu memboikot keinginan anak karena ia mengabaikan shalāt, janganlah ayah membatalkan hukuman itu karena kasihan terhadap anak.

​Setelah bersepakat, orang tua dapat menerapkan metode pengajaran dengan lebih terperinci dan bertahap berdasarkan usia dan kemampuan anak. Sebaiknya jangan berpindah ke tahapan selanjutnya sebelum anak berhasil pada tahapan sebelumnya.​

*_Usia 3-5 tahun_*

❖ Pada usia ini anak mulai menunjukkan minat terhadap sesuatu dan suka meniru orang-orang di sekitarnya, karenanya, ajaklah ia berdiri di samping kita ketika kita shalāt, atau ajaklah ia ke masjid.

❖ Apabila ia menirukan gerakan shalāt kita, pujilah ia, dan biarkan ia menirukan shalāt kita sesering mungkin. Salah satu kesalahan sebagian orang adalah melarang anaknya shalāt dengan alasan ia masih sangat kecil.

❖ Bila kita membawa anak ke masjid, sebaiknya perhatikan juga adab-adab terhadap orang lain. Apabila ia menangis atau mengganggu, kita bisa menggendongnya, atau meninggalkannya di rumah saja.

❖ Pada usia ini sebaiknya mulai ditalqinkan surat al Fatihah, mu’awidzatain, dan surat al Ikhlash.

*_Usia 5-7 tahun_*

❖ Pada usia ini, anak mulai bisa memahami kalimat-kalimat yang panjang, maka sebaiknya kita ajari mereka tentang nikmat-nikmat Allāh, kasih sayangNya, kebesaranNya, dengan menyebutkan contoh-contoh pemberianNya kepada kita, sehingga membangkitkan kecintaan dan kerinduan anak terhadap kasih sayang Allāh, selanjutnya mengajari mereka bahwa semua itu melazimkan ketaatan kepadaNya, salah satunya dengan mengerjakan shalāt.

❖ Memberikan teladan nyata dengan melaksanakan shalāt dengan tertib di depannya.

❖ Memberikan pelajaran ringan tentang aqidah, kisah isra’ dan mi’raj, kisah nabi dan sahabat yang berkaitan dengan shalāt, sehingga tertanam kecintaan dan kebutuhan terhadap shalāt.

❖ Menjauhi cara-cara keras pada usia ini, dan mengajari mereka melaksanakan shalāt secara bertahap, misal melaksanakan shalāt subuh dulu, baru ditambah dengan shalāt dhuhur, selanjutnya ditambah dengan shalāt ashar, dan seterusnya.

❖ Mengajari pentingnya dan cara-cara bersuci,

❖ Sering memberikan pujian dan hadiah apabila mereka mengerjakan shalāt.

*_Usia 7-10 tahun_*

[Bersambung ke Bagian 3]

Disarikan dari kutaib berjudul “Kaifa Nuhabbibus Sholah li Abnāinā”, ar.islamway.net

Ummu Sholih, di Madinatu Qur’an, Jonggol
_____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

***

🌍 BimbinganIslam.com
Ahad, 29 Sya’ban 1437H / 05 Juni 2016M
📝 Materi Tematik | Nak, Yuk Shalāt ! (Bagian 3)

〰〰〰〰〰〰〰

NAK, YUK SHALĀT ! (BAGIAN 3)

*_Usia 7-10 tahun_*

❖ Pada saat anak menginjak usia 7 tahun, katakan padanya, bahwa mereka memasuki usia yang istimewa, yaitu usia diperintahkannya shalāt, bila perlu berikan mereka hadiah berupa baju shalāt, mukena, dan sajadah.

❖ Menghindari kalimat tanya seperti: “Apakah kamu sudah shalāt?” karena dapat membuka peluang untuk berbohong, sebaliknya, gunakan kalimat yang tegas dan mengingatkan, seperti: “Waktunya shalāt, nak!”, atau: “Ibu sedang menunggumu untuk shalāt, sebelum habis waktunya”.

❖ Sering-seringlah menyemangati dengan mengatakan: “Ayah ibu bangga sekali bila kamu rajin shalāt”. Tampakkan kepada mereka bahwa kebahagiaan dan kebanggaan terbesar mereka adalah ketika mereka rajin mengerjakan shalāt, dan maafkanlah kesalahan kecil mereka ketika mereka mudah disuruh mengerjakan shalāt.

❖ Mengajak mereka untuk shalāt berjamaah, karena itu akan lebih menyemangati mereka, terutama untuk anak laki-laki karena tabiat mereka senang keluar rumah dan bertemu teman-temannya, maka ajaklah mereka shalat berjama’ah di masjid.

❖ Pada usia ini, dapat diajarkan hukum-hukum bersuci secara lebih detail, sifat shalāt dan wudhu Nabi shalallahu alaihi wasallam, doa-doa dan dzikir dalam shalāt, dan mulai merutinkan mereka shalāt 5 kali sehari, walaupun tidak harus tepat pada waktunya.

❖ Setelah mereka terbiasa mengerjakan shalāt 5 waktu, ajarkanlah mereka untuk segera shalāt begitu mendengar adzan.

(Bullet)Membangkitkan kepekaan anak terhadap shalāt.

🔗 Misalnya, bila anak meminta izin untuk tidur sebelum waktu isya’ maka katakanlah, “Sebentar lagi isya’ shalāt dulu bersama kami”.

🔗 Atau ketika ia hendak pergi menjelang ashar, tahanlah dulu sambil berkata: “Sebentar lagi ashar, shalāt dulu, baru kamu pergi”.

Teruslah melatih kepekaan dan keterikatan mereka dengan shalāt, agar mereka menyadari pentingnya shalāt di atas segala kegiatan.

❖ Apabila mereka telah mengerjakan shalāt dengan rutin, maka ajarkanlah mereka sunnah sunnah shalāt, shalāt-shalāt sunnah, dan dzikir-dzikir setelah shalāt.

Ajarkan juga kepada mereka rukhsoh- ruksoh yang berkaitan dengan shalāt, seperti kapan boleh bertayamum, kapan boleh menjamak dan mengqashor shalāt, dan sebagainya, dengan menyebutkan bahwa Allah Maha Pemurah dan tidak menghendaki kesulitan bagi kita, dan agama Islam ini adalah agama yang mudah.

❖ Ajarkan mereka untuk tidak malu mengajak teman yang belum mengerjakan shalāt, sekaligus ajarkan mereka untuk tidak mengejek atau merendahkan teman yang tidak shalāt, melainkan perintahkan mereka untuk mendakwahi teman tersebut dengan cara yang baik.

❖ Carilah media-media yang memudahkan kita mengajari tata cara shalāt, seperti gambar-gambar tata cara wudhu dan shalāt, atau kaset dan cd tentang hal tersebut.

▪ Mengenai pukulan pada anak berusia 10 tahun yang tidak mengerjakan shalāt, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

🔗 Pukulan itu tidak menyakitkan,
🔗 Tidak memukul di tempat yang dilarang, seperti wajah,
🔗 Tidak memukul di depan orang lain,
🔗 Tidak memukul ketika sedang marah,

▪ Dan yang perlu diperhatikan adalah pukulan yang diperintahkan oleh Rasulullah adalah pukulan untuk memperbaiki dan mengobati kebandelan anak, dan bukan sekedar kekerasan dan hukuman yang dapat menimbulkan masalah baru.

Karena itu, apabila orang tua atau pendidik melihat bahwasanya anak tersebut tidak dapat diperbaiki dengan pukulan, atau justru semakin membangkang dan berbohong bila dipukul, maka hendaknya ia berhenti memukul anak tersebut dan mencari cara lain untuk mendidiknya.

Demikianlah beberapa cara melatih anak mengerjakan shalāt. Tentu masih ada cara-cara lain yang dapat diterapkan, selama cara-cara tersebut mengedepankan sikap hikmah dalam mendidik dan dalam koridor syari’at. Beberapa hal juga harus diingat dalam mengajarkan anak untuk shalāt, yaitu:

▪Pendidikan shalāt, seperti juga pendidikan adab dan akhlak yang lain, memerlukan waktu sampai terbentuk kesadaran melaksanakannya. Karena itulah Rasulullah memerintahkan orang tua mengajari anak shalāt saat berusia 7 tahun dan baru memerintahkan memukul setelah berusia 10 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa mengajarkannya shalāt memiliki tahapan-tahapan yang dilaksanakan selama rentang waktu 3 tahun, sampai anak terbiasa melaksanakannya, dan barulah anak dihukum untuk memberikan peringatan terhadap kelalaian dan kemalasannya ketika berumur 10 tahun.

▪ Sekedar perintah dan nasehat saja tidak cukup, tetapi memerlukan tahapan dan metode yang jelas,  terarah dan bertahap.

▪ Semakin awal kita memulai akan semakin mudah bagi kita, maka jangan sia-siakan kesempatan mengajarkan shalāt kepada mereka sejak kecil, dan jangan sampai kita baru mengajarkan shalāt setelah mereka berumur 10 tahun.

Yang terakhir dan terpenting adalah banyaklah berdoa untuk anak-anak kita agar mereka termasuk orang-orang yang mendirikan shalāt, dan sandarkan keberhasilan usaha kita hanya kepada Allah. Sebaik apa pun metode yang kita ambil, tidaklah akan berhasil tanpa pertolongan dari Allah.

Dan semoga, Anda dan saya termasuk orang-orang yang sukses membentuk generasi yang mencintai shalāt!

Disarikan dari kutaib berjudul “Kaifa Nuhabbibus Sholah li Abnāinā”, ar.islamway.net

Ummu Sholih, di Madinatu Qur’an, Jonggol
_____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Disclaimer :
Semua materi yang di share sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s