Reward Untuk Si Kecil : Pisau Bermata Dua

Resume Materi Kuliah Rumah Main Anak
πŸ“˜πŸ“˜πŸ“˜πŸ“˜πŸ“˜πŸ“˜πŸ“˜πŸ“˜
Judul : Reward untuk Si Kecil: Si Pisau Bermata Dua
Hari/tanggal : Kamis, 16 Februari 2017
Pemateri : Dewi Kumalasari, M.Psi., Psikolog
Peresume : Aprida
πŸ“—πŸ“—πŸ“—πŸ“—πŸ“—πŸ“—πŸ“—πŸ“—

❀Pernahkah Bunda menjanjikan sesuatu pada si kecil agar ia mau menuruti apa yang bunda instruksikan? Sebagai contoh, β€˜Dek beresin mainannya ya, nanti kalo udah diberesin bunda beliin es krim’. Lantas si kecil pun yang tadinya enggan menjadi bergegas untuk melakukan apa yang Bunda instruksikan.

πŸ’›Dalam istilah psikologi, sesuatu yang dijanjikan apabila si kecil menunjukkan perilaku yang diharapkan dikenal dengan *reward*. Reward seringkali menjadi senjata bagi orang tua agar si kecil berperilaku seperti yang diharapkan orang tua. Pada dasarnya, pemberian reward memang menjadi salah satu sarana untuk membentuk perilaku, apalagi bagi anak-anak yang biasanya belum memahami manfaat dari perilaku tersebut.

πŸ’šNamun demikian, seperti judul dari artikel ini, reward dapat diibaratkan seperti pisau bermata dua. Artinya, ia bisa bermanfaat, namun bisa pula berbahaya apabila penggunaannya tidak tepat. Penggunaan reward dapat menjadi berbahaya manakala tidak dibarengi dengan diskusi/ pemberian pemahaman mengenai perilaku yang diharapkan. Tanpa pemberian pemahaman mengenai perilaku yang diharapkan, penggunaan reward hanya akan membentuk kepatuhan sementara. Mengapa? Karena dengan reward, si kecil belajar bahwa perilaku tertentu bertujuan untuk mendapatkan reward. Efek buruknya adalah jika di kemudian hari reward ini ditiadakan, perilaku yang diharapkan tersebut menjadi tidak muncul. Dengan kata lain, reward hanya akan membentuk motivasi eksternal pada diri anak, bukan motivasi internal. Dalam jangka panjang, hal ini akan membuat orang tua merasa kewalahan karena harus terus menerus menyediakan reward. Lebih jauh lagi, kesadaran anak juga tidak terbangun. Sebagai contoh, anak yang selalu dijanjikan diberikan waktu bermain gadget jika ia mau mandi tanpa diberikan pemahaman bahwa mandi adalah hal yang penting baginya (misalnya, jika tidak mandi maka akan banyak kuman di badannya dan hal itu bisa membuatnya merasa gatal-gatal), maka besar kemungkinan jika tanpa iming-iming gadget, ia enggan untuk mandi.

πŸ’™Lantas, bagaimana penerapan reward yang bermanfaat?

Yang penting untuk dipahami, *reward berguna sebagai pemantik motivasi*. Ketika anak belum memiliki ketertarikan/kemauan untuk melakukan perilaku yang diharapkan, maka reward dapat digunakan sebagai langkah awal bagi anak untuk melakukan perilaku tersebut. Misalnya, pada kondisi anak yang tidak mau makan sayur. Ada sebagian anak yang sangat resisten dengan sayur. Dalam kasus ini, kita bisa menggunakan reward sebagai pemantik motivasi, sehingga anak berpikir bahwa makan sayur berkaitan dengan sesuatu yang menyenangkan (reward).

πŸ’œLangkah selanjutnya ketika anak sudah mulai terpantik motivasinya adalah *berikan pemahaman mengenai manfaat perilaku tersebut dan dampak negatif jika perilaku tersebut tidak dilakukan*. Misalnya, dalam hal makan sayur, orang tua dapat memberikan pengertian bahwa makan sayur adalah sesuatu yang bermanfaat baginya dan efek negative jika tidak mau makan sayur. Tentunya, dalam memberikan pengertian ini harus sangat disesuaikan dengan usia anak agar dapat dengan mudah dipahami. Misalnya, kita bisa berkata bahwa β€˜makan sayur bisa membuat badan kita jadi ga gampang sakit, kalau ga gampang sakit kan jadi bisa main, kalau sakit kita ga bisa main, hanya bisa tidur-tiduran aja, kan ga enak’.

❀Berikutnya, orang tua juga perlu *memberikan pujian bagi anak apabila ia melakukan perilaku yang diharapkan sambil secara bertahap mengurangi frekuensi pemberian reward*. Orang tua juga dapat memperkuat perilaku dengan menekankan manfaatnya bagi si kecil. Misalnya, pada kondisi anak tidak mau makan sayur, orang tua dapat berkata β€˜wah kakak lahap makan sayurnya ya, hebat, pasti badan kakak seneng karena dikasih makanan yang bikin sehat’

πŸ’•Pertanyaan selanjutnya, reward seperti apa sih yang efektif bagi anak?
Terdapat beberapa hal yang perlu untuk dipertimbangkan dalam pemilihan reward yang efektif bagi si kecil, yaitu
1⃣*Sesuaikan reward dengan usia si kecil*
Reward dapat memunculkan motivasi bagi si kecil apabila ia menyukainya. Oleh karena itu, dalam memilih reward, penting untuk memperhatikan usia dan kebutuhan si kecil. Sebisa mungkin, pilih reward yang memang memberikan manfaat bagi anak. Misalnya bagi anak usia 3 tahun yang sedang senang-senangnya bermain di taman, kita bisa memberikan reward dengan memberikan waktu tambahan untuk bermain di taman.
2⃣ *Berikan dari yang intensitas yang paling rendah*
Dalam memberikan reward, berikan dari intensitas yang paling rendah. Hal ini menjadi penting karena jika di awal orang tua memberikan reward dalam intensitas yang tinggi, maka pada kesempatan berikutnya anak hanya akan tertarik dengan reward yang intensitasnya yang sama atau lebih tinggi lagi. Misalnya, jika pada kesempatan pertama si kecil diberikan reward berupa waktu tambahan untuk bermain di taman selama 2 jam, maka di kesempatan selanjutnya waktu tambahan bermain di taman kurang dari 2 jam menjadi tidak menarik bagi anak.
3⃣ *Berikan dari hal-hal yang kecil dan sederhana*
Reward tidak harus sesuatu yang bernilai ekonomi, misalnya uang atau mainan. Orang tua dapat memberikan reward dari hal-hal yang sederhana, misalnya dibuatkan pesawat dari kertas, dibuatkan makanan kesukaan dsb. Apabila orang tua terbiasa memberikan reward yang besar, maka pada kesempatan berikutnya reward kecil menjadi tidak menarik bagi anak.
4⃣ *Waktu pemberian reward*
Pada anak yang berusia 2-3 tahun, reward akan efektif apabila diberikan dengan segera setelah perilaku muncul. Namun, di usia yang lebih tua, kita bisa menunda pemberian reward, misalnya dengan menggunakan sistem token, misalnya jika 3 kali perilaku muncul maka reward baru diberikan. Pada anak yang lebih tua, akan sangat baik apabila sistem token ini disepakati bersama.

❣Nah, sekian materi tentang reward bagi si kecil. Sekali lagi, reward bagaikan pisau bermata dua, maka gunakanlah sebijak mungkin agar sisi manfaatlah yang bisa kita dapatkan, bukan sebaliknya. Semoga bermanfaat 😊

*TANYA JAWAB*
1. 1. Assalamualaikum mba dewi. Alhamdulillah materi nya sudah sy baca sampai selesai. Oya, bagaimana kalau pemberian reward nya saat anak meminta nonton tv, sy selalu minta untuk membereskan maina bareng-bareng dan membaca beberapa doa2 terlebih dahulu sebelum nonton tv atau acara kesukaan anak2, apakah ini baik?
(Aenah, kuningan, usia anak 3 tahun, rma5)

_Jawab_
‘alaykumussalam wrb bunda bunda aenah.. Boleh boleh saja bunda, malah dg membiasakan seperti itu anak akan belajar untuk mengerjakan kewajibannya sebelum memanfaatkan waktu luangnya. Namun penggunaan tv masih sangat perlu dibatasi utk anak seusia anak bunda ya :)βœ…

2. Assalamualaikum mbak dewi.. Jika reward tidak lagi menarik utk anak (misal bermain smartphone saat weekend) krn anak tidak mau tidur siang, walaupun sudah diberi tau manfaat tidur siang. Bagaimana mengkomunikasikannya agar efektif?
(Nuning, ciputat, usia anak 15bulan, rma 5)

_Jawab_
‘alaykumussalam wrb.. Sebenarnya secara teori, sistem reward ini baru bisa dimengerti di usia di atas dua tahun. Mengapa? Karena di bawah dua tahun, biasanya masih sulit utk memahamkan konsep reward bagi si kecil. Utk kondisi anak bunda yang berusia 15 bulan, membiasakan tidur siang bisa melalui membiasakan menciptakan rutinitas tidur, misalnya masuk kamar, bercerita, bernyanyi sambil membelai dsb. Tentunya butuh waktu utk kebiasaan ini. Oya bun, sebisa mungkin hindari screen time (gadget, tv) sebelum si kecil berusia 2 tahun karena bisa berdampak buruk bagi perkembangan si kecil jika diperkenalkan dg gadget/tv terlalu dini.βœ…

3. Apakah anak yang sedang masa TT (toilet training) membutuhkan reward utk mempercepat proses keberhasilan TT. Jika perlu, bentuk reward seperti apakah yang efektif diberikan untuk anak laki-laki usia 2 thn yang sedang masa TT, sehingga ia lebih termotivasi lagi untuk dapat buang air di tempat yang seharusnya. Terima kasih
Dianita/ Cikarang/ 25m/ RMA 7

_Jawab_
Reward bisa berguna sebagai hadiah bahwa si kecil berhasil pipis pada tempatnya. Hal ini dapat memperkuat perilaku TT pada si kecil. Dalam kondisi TT, reward yang diberikan dapat berupa sistem token, misalnya setiap kali si kecil berhasil TT ia berhak mendapatkan 1 stiker. Lalu, dibuat aturan kumulatif, misalnya setiap 3 stiker bisa ditukar dengan hadiah X dsb. Dengan sistem token ini, diharapkan kebiasaan pipis pada tempatnya ini semakin intensif.βœ…

β€πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œβ€πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œ
FP FB : Rumah Main Anak
IG : @rumahmainanak
Web : rumahmainanak.org

Disclaimer :
Semua materi yang diposting sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s