Temper Tantrum Pada Anak

📝Resume Materi Kuliah Whatsapp Grup Rumah Main Anak 4📝

Hari/tanggal : Rabu, 18 Mei 2016
Tema : Temper Tantrum
Narasumber : Chairunnisa Rizkiah, S.Psi
Peresume : Lis Lestari

📝 Materi

Assalamu’alaikum ibu-ibu hebat :mrgreen: Materi kali ini menurut saya ngeri-ngeri sedap. Hihi…Mudah-mudahan kita bisa banyak berbagi pengalaman juga ya.

Temper tantrum, atau yang lebih sering disebut tantrum, merupakan luapan emosi seseorang saat mengalami kondisi yang tidak menyenangkan. Emosi negatif dari stres yang dihadapi itu diluapkan dalam bentuk perilaku seperti berteriak, menangis, ngotot/tidak mau menuruti perintah, hingga memukul atau merusak barang. Tantrum adalah cara anak mengungkapkan rasa frustrasinya, ketika anak menginginkan sesuatu namun tidak keinginannya tidak dituruti, atau ketika anak tidak bisa menyampaikan keinginan, isi pikiran, ataupun perasaannya secara lisan karena keterbatasan kemampuan bahasa anak di usia tersebut. Tantrum juga lebih rentan terjadi bila anak sedang lelah, sakit, atau mengantuk.

Tantrum biasanya terjadi di usia toddler (1 tahun – menjelang 3 tahun). Usia 2 tahun sering disebut juga dengan istilah “terrible two”, atau umur 2 tahun dimana perilaku anak sedang “parah” dengan mulai munculnya teriakan, tangisan sambil guling-guling di lantai, dan pukulan. Seiring dengan perkembangan bahasa, pada umumnya tantrum semakin berkurang sebab anak semakin mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata dan bernegosiasi dengan orang lain. Tetapi patokan umur ini tidak menjadi jaminan bahwa tantrum akan secara ajaib tiba-tiba hilang sendiri setelah usia 3 tahun. Namun, cara orangtua menghadapi anak ketika tantrum dapat juga mempengaruhi kemampuan anak untuk mengatur emosinya di kemudian hari. Misalnya, walaupun sudah lewat usia 3 tahun, bila setiap kali tantrum keinginan anak dipenuhi, maka anak akan terbiasa untuk memaksa orang lain menuruti keinginannya dengan tantrum. Bahkan bila tidak dihentikan, sampai anak jauh lebih besar pun ia bisa terus menggunakan tantrum sebagai “senjata” untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kemampuan untuk mengatur emosi ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan adalah keterampilan yang diperlukan anak untuk dapat melakukan banyak hal di kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu, adalah peran orangtua dan pengasuh di sekitar anak untuk melatih keterampilan anak dalam menghadapi tantrum.

Berikut adalah poin-poin yang perlu diperhatikan dalam menghadapi tantrum anak:

1.Stay cool, stay calm. Tetap tenang dalam menghadapi anak, terutama dalam berbicara. Seingat saya kita sudah pernah membahas hal ini juga di sesi tanya jawab materi perkembangan psikososial dan kemandirian anak. Mudah di teori tapi praktiknya butuh usaha besar ya, hehe…Pemandangan saat anak sedang tantrum memang bisa memicu emosi negatif juga pada orang dewasa. Siapa juga yang suka mendengar teriakan melengking anak, melihat anak menangis berguling-guling, atau bahkan memukul. Bila orangtua merespon dengan emosi marah juga (contoh: berteriak menyuruh anak diam, mencubit, mengancam), dengan emosi sedih dan memelas (misalnya berkata “aduuuh…jangan nangis dong…”, “Ga kasihan sama bunda?”, “Malu nih dilihatin orang”), atau terlihat bingung mau melakukan apa, tantrum bisa makin menjadi-jadi dan berlangsung lebih lama. Saat tantrum, anak sulit untuk berkonsentrasi mendengar perkataan orang lain. Orangtua juga sangat mungkin merasakan emosi negatif juga seperti marah, sedih, bingung, dan takut. Ada baiknya menunggu sebentar hingga tangisan anak agak reda, bisa dengan menunggui di dekat anak atau agak menjauh. Sampaikan kepada anak dengan suara yang tenang, “Bunda tunggu dulu sebentar sampai kamu tenang ya.” Ada pula anak-anak yang akan menjadi lebih tenang bila dipeluk, walaupun saat akan dipeluk mereka mencoba meronta. Orangtua bisa mencoba untuk memeluk sambil tetap mengajak anak bicara, “Yuk, tenang dulu ya, stop dulu nangisnya ya…”

2.Tunjukkan otoritas. Mau tidak mau, anak perlu menyadari bahwa orangtua adalah tokoh yang mempunyai otoritas/wewenang. Ketika semua keinginan anak dituruti bila ia tantrum, anak jadi mendapatkan pemahaman bahwa ialah yang mengontrol orangtua. Dengan kata lain, anak merasa punya otoritas. Untuk sejumlah hal, anak memang dapat diberi otoritas, seperti memilih baju yang akan dipakai untuk jalan-jalan atau memilih mainan di rumah. Untuk tantrum, anak perlu memahami bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi.

3.Konsisten. Konsistensi dalam menghadapi perilaku tantrum anak anak membuat anak pelan-pelan menyadari bahwa ada aturan yang berlaku. Anak juga akan memahami bahwa tantrum tidak bisa dijadikan senjata karena tidak mempan pada orangtua. Pada situasi-situasi tertentu seperti saat anak capek atau sakit, tantrum bisa sedikit lebih ditoleransi mengingat kondisi anak yang memang sedang tidak fit.

4.Ajak anak bicara. Setelah tantrum selesai, sediakan waktu untuk mengajak anak bicara tentang apa yang terjadi. Saat itu anak biasanya sudah lebih tenang dan dapat diajak untuk melihat balik ke perilakunya tadi. Tadi apa yang dia inginkan, kenapa anak menangis atau berteriak, bagaimana solusinya. Di saat seperti ini, orangtua bisa lebih mudah untuk mendorong anak untuk bicara bila menginginkan sesuatu, dan tidak perlu menangis atau memukul. Jadi, proses belajar anak tidak selesai hanya sampai tantrumnya selesai ya Bun. Justru setelah kondisi emosi anak kembali stabil lah waktu yang tepat untuk mengajaknya bicara. Orangtua bisa mengajak anak bicara dengan menggunakan alat bantu seperti buku cerita, mengajak anak menggambar kejadian tadi, atau sambil makan cemilan bersama.

5.Antisipasi kemungkinan tantrum. Untuk hal ini, yang paling mengenal anak adalah orangtuanya sendiri. Dalam kondisi apa anak biasanya tantrum? Bila harus makan makanan yang tidak disukai? Bila disuruh berhenti bermain? Bila sedang di supermarket lalu tidak diperbolehkan mengambil barang yang ia inginkan? Dengan mengantisipasinya, anak akan lebih kooperatif dan tantrum berkurang. Misalnya, sebelum anak bermain di mall, beritahu berapa lama waktu bermainnya. Tunjuk di angka berapa jarum jam yang panjang nanti kalau waktu bermain anak habis. Penting, pastikan anak setuju. 5 menit sebelum waktu bermain habis, beri “ancang-ancang” kepada anak. Bila anak sering tiba-tiba menginginkan suatu benda saat berbelanja, sebelum pergi belanja ajak anak untuk bicara, hari itu apa saja yang akan dibeli, dan apa yang boleh dibeli oleh anak. Anak bisa diberi kesempatan untuk memilih satu atau dua makanan yang ia suka (dengan syarat dan ketentuan berlaku sesuai kebijakan orangtua, misalnya bukan permen atau bukan yang terlalu mahal). Anak diberitahu bahwa selain dari makanan yang sudah dipilihnya, orangtua bisa menolak karena tidak ada di daftar belanja. Bila anak sudah diberi kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan situasi yang tidak menyenangkan, ia juga jadi punya waktu untuk mengatur emosinya.

Semoga bermanfaat. Ayo diskusi dan berbagi pengalaman 🙂

Referensi:
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2009). Human Development. 11th ed. New York: McGraw-Hill
http://www.babycenter.com/0_tantrums_11569.bc
http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/tantrums.html
http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/discipline.html?tracking=P_RelatedArticle

❓✅ Tanya Jawab

1⃣ Sy mau menghentikan kebiasan minum susu dgn Botol dot kpd anak sy menjadi minum susu dgn gelas.  Nah, disini dia sering nangis, ngamuk, sampai teriak. Sy sdh berusaha stay n calm, tapi anak nya sangat keukeuh. Sy bilang sy akan tunggu kaka selesai nangis, anaknya malah nangis terus hingga 1 jam. Akhirnya sy menyerah krn kasian liat dia nangis terlalu lama. Bagaimana trik mengatasi hal tersebut.

Diah kurniati/Kalsel/RMA4

Jawab :

Bunda Diah yg baik,
Ananda umurnya sekarang berapa tahun ya? Masalah transisi dari dot ke gelas ini menurut saya juga ada hubungannya dengan proses weaning, dan tantrum itu jadi cara anak untuk menolak. Apa ananda juga masih minum air putih dengan dot?

Dalam menghadapi tantrum pada anak, menunggu sampai anak berhenti sendiri memang tujuannya supaya anak belajar mengontrol diri sendiri dan jadi paham bahwa tidak semua yg dia inginkan bisa dituruti. Tapi, utk kasus menolak minum dgn gelas ini, tentunya perlu ada hal lain juga yg dilakukan krn bunda juga pastinya tdk mau anak terus2an minum dari dot. Dot itu menyenangkan karena anak biasanya minum dot sambil tiduran, tidak perlu takut tumpah dan bahkan tidak sadar kalau minumannya habis. Bahkan sampai bisa ketiduran saking enaknya ngedot. Kalau langsung pindah dari dot ke gelas, ada anak2 yg awalnya tidak suka karena minumnya akan tumpah2 dan tidak bisa sambil tiduran. Padahal kalau sudah selesai masa penyapihan, baiknya anak mulai belajar utk makan dan minum seperti “anak besar”, bukan lagi ngedot seperti “adik bayi”. Hal ini saya pikir perlu dibahas dgn anak, justru sebelum anak mulai tantrum 🙂 Misalnya, anak belajar pakai gelas yg ada sedotannya dulu, yang penting anak bisa belajar utk minum dengan cara duduk. Bunda juga bisa beli gelasnya bersama2 dgn anak supaya dia bisa pilih sendiri motif yg dia suka. Beri tahu terus-menerus, anak sekarang sudah makin besar, yuk belajar minum pakai gelas. Susu yg diberikan di gelas bisa setengahnya dulu, kalau anak sudah berhasil habiskan bisa ditambah sebagai reward. Bukan cuma susu, air putih dan jus juga perlu mulai pakai gelas. Mungkin bunda2 yg lain juga bisa sharing pengalaman transisi dari dot ke gelas 🙂 Dari pengalaman saya, kalau anak menolak minum dari gelas, gelas yg sudah diisi susu tetap saja ditaruh di meja atau tempat yg bisa dilihat anak. Anak dialihkan ke kegiatan lain sambil diberitahu, kalau mau minum nanti di situ ya susunya. Disiapkan juga air putih di gelas untuk anak kalau haus saat berkegiatan. Tentunya proses ini butuh waktu dan pembiasaan. Dengan adanya proses yg konsisten, anak tidak merasa “dicekoki” dan menolak dgn cara tantrum. Mudah2an jawabannya membantu ya 🙂

2⃣ Saya ingin bertanya apakah ada kaitannya tantrum terjadi dengan  pola asuh dari orang tua ?dan bagaimana pola asuh yang sebaiknya diberikan agar tantrum tidak menjadi satu satunya jalan bagi anak untuk menunjukkan keinginannya dengan cara menangis, berteriak, dsb?

Widya / tangerang / rma 4

Jawab :

Bunda widya yg baik,
Pola asuh sangat berhubungan dgn perkembangan anak, bukan cuma berhubungan dgn tantrum tapi juga life skills anak secara umum. Tantrum lebih sering terjadi bila orangtua terbiasa langsung memenuhi semua keinginan anak supaya anak tidak menangis atau supaya anak tenang. Ini dikenal dgn pola asuh permisif. Jadi kesannya anak yg mengatur-atur orangtua, bukan sebaliknya orangtua yg punya otoritas. Dalam menghadapi tantrum, pengasuhan orangtua itu ibaratnya seperti ini: kalau anak menangis minta makan permen padahal sedang sakit batuk. Apakah orangtua akan tetap menolak keinginan anak supaya tidak makin sakit, atau menuruti keinginan anak supaya dia berhenti menangis tapi nanti sakitnya makin parah? Pilihan yg pertama itu pola asuh yg menunjukkan adanya otoritas/kontrol dari orangtua, sedangkan yg kedua itu permisif krn anak diberikan apa saja yg dia inginkan walaupun dampaknya nanti buruk utk si anak sendiri. Jadi, walaupun anak kelihatannya masih kecil, dia tetap perlu tahu bahwa ada hal yg boleh dan tidak boleh. Tidak boleh krn bahaya, tidak sehat, atau krn tadinya sudah janji utk tidak dilakukan.
Namun demikian, tantrum ini adalah sesuatu yg banyak muncul pada usia dini, terutama saat anak mulai bisa bicara tapi kosakatanya masih terbatas dan masih sulit utk mengungkapkan keinginannya secara lisan. Jadi, seperti yg sudah saya sampaikan di materi tantrum ini, dihadapi saja, Bun 🙂 Banyak orangtua yg bingung, salah asuh apa kok anak sampai menangis gerung2 begini. Padahal kalau kita lihat tahapan perkembangan anak, memang mungkin anak sulit utk mengungkapkan keinginan dan belum tahu caranya “bernegosiasi” tanpa menangis. Makanya, di situlah peran orangtua utk mengarahkan dan mengajari anak bagaimana caranya. Memang ada anak2 yg karena sejak kecil dibiasakan dgn adanya aturan dan diajarkan utk bisa menunggu, tidak mengalami tantrum “parah”, “cuma” murung sebentar lalu bisa mengontrol dirinya dgn beralih ke kegiatan lain. Tapi ada jauh lebih banyak anak yg mengalami episode tantrum menangis “seru”. Kalau ada pola asuh yg bisa menjamin 100% anak bebas tantrum, saya juga mau deh belajar 😁 Tapi krn perkembangan anak dipengaruhi berbagai faktor, pola asuh bisa membantu meminimalisasi dan mengantisipasi kemungkinan tantrum, tapi tidak ada jaminan 100% mencegah tantrum. Sebagai orangtua, jangan merasa kecil hati kalau anak mulai menunjukkan perilaku tantrum. Justru tantrum adalah kesempatan utk anak belajar mengembangkan keterampilan sosial dan regulasi emosinya, dgn dipandu oleh orangtua. Semoga jawabannya bermanfaat 🙂
🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃

Follow us :
FP Facebook : Rumah Main Anak
Instagram : @rumahmainanak
Web : http://www.rumahmainanak.com

Disclaimer :
Semua materi yang di posting sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s