Tahap Perkembangan Emosi Anak

Perkembangan Emosional Anak (0-2 tahun)

IMG_20151024_165400

Disarikan oleh: Maya Tri Bonda Sari

🌸 Menurut Crow & Crow (1958), pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang tampak.

🌸 Emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang luas.  Warna afektif disini dapat diartikan sebagai perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu, contohnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci, tidak senang dan sebagainya (Yusuf  Syamsu, 2006).

🌸 Kadang seseorang masih dapat mengontrol keadaan dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda fisiknya.

🌸 Ciri-ciri emosi pada anak:- Berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba- Terlihat lebih hebat dan kuat- Bersifat sementara/dangkal- Lebih sering terjadi – Dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya.

🌸 Perkembangan emosi pada masa anak-anak belum dipengaruhi oleh banyak penyesuaian terhadap faktor lingkungan luar, namun masih banyak dipengaruhi oleh gen/factor keturunan dan faktor lainnya semasa anak masih dalam kandungan.

🌸  Menurut Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan emosional anak menjadi beberapa tahapan, yaitu:

1⃣ Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini, bila dalam merespon rangsangan anak mendapat pengalaman yang menyenangkan, maka akan tumbuh rasa percaya diri dalam diri anak. Sebaliknya,  pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga.

2⃣ Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya.Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat menimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu.

3⃣ Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah.

4⃣ industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – puberitas.Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.👬👭👬👭👬👭👬👭

Dalam makalah Perkembangam Emosi (Amry Thanjung, 2010) ditulis bahwa:🌸 Di usia batita, anak berkembang ke arah kemandirian. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu. Dukungan dan kesabaran dari orangtua penting untuk membantu anak mencapai tugas perkembangan tersebut.

🌸 Tugas perkembangan emosi anak usia 0-5 tahun:

1⃣ Demonstrasi kasih sayangAnak usia ini senang mengeksplorasi berbagai perasaan menyenangkan yang timbul dari kontak fisik. Misal setiap kali orangtua membuka tangan, anak pasti akan berlari menghampiri untuk masuk dalam pelukan orangtuanya.

2⃣ Perhatian secara personalAnak selalu menuntut perhatian secara personal sebab di usia ini anak sedang berada dalam fase egosentris. Ia ingin semua menjadi miliknya dan hanya untuk dirinya.

3⃣ Mood gampang berubahMudah bagi anak berganti suasana hati dalam waktu sekejap. Di usia ini anak mulai sadar bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dari orangtuanya sehingga segala sesuatunya ingin dilakukan sendiri. Sementara di sisi lain kemampuannya masih sangat terbatas.

4⃣ Cari perhatianIni adalah salah satu ekspresi emosi yang khas dimiliki anak. Ia senang sekali “pamer” kemampuan.

5⃣ Suka menyengajaIni dilakukan semata-mata untuk melihat repons sekelilingnya.  Selain itu, anak belum paham risiko dari perbuatannya, tapi mungkin juga anak sekadar menikmati reaksi yang ditampilkan orangtua.

6⃣ Melempar sesuatu saat marahDi usia ini anak belum bisa mengendalikan emosinya secara sempurna tapi kemampuan motoriknya, terutama melempar benda, sudah bisa dilakukan.

7⃣ Keras kepalaDi usia ini anak sedang berada pada fase egosentris. Anak maunya menang sendiri dan keras kepala. Apa yang sudah jadi keinginannya seakan tak terbantahkan. Ini adalah bagian dari perkembangan yang wajar.

8⃣ NarsismeAnak usia ini selalu merasa dirinya yang paling baik, pintar, cantik/ganteng, disayang dan sebagainya, sehingga ia merasa berhak atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.🌸 Enam tahapan perkembangan emosi yang harus dilalui anak (6-12 tahun):

1⃣ Regulasi diri dan minat terhadap lingkunganKemampuan anak untuk mengolah rangsang dari lingkungan dan menenangkan diri. Bila anak masih belum mampu meregulasikan diri maka ia akan tenggelam dalam usaha mencari rangsang yang dibutuhkannya atau sebaliknya menghindari rangsang yang membuatnya tidak nyaman.

2⃣ Keakraban-keintimanKemampuan anak untuk terlibat dalam suatu relasi yang hangat, akrab, menyenangkan dan penuh cinta.

3⃣ Komunikasi dua arahKemampuan anak untuk terlibat dalam komunikasi dua arah, menutup siklus komunikasi (aksi-reaksi). Komunikasi di sini tidak harus verbal, yang penting ia bisa mengkomunikasikan intensi/tujuannya dan kemudian mengenal konsep sebabakibat (berpikir logis) dan konsep diri. la mulai menyadari bahwa tingkah lakunya berdampak terhadap lingkungan. Sehingga mulai muncul keinginan untuk aktif memilih/ menentukan pilihan dan berinisiatif.

4⃣ Komunikasi kompleksKemampuan anak untuk menciptakan komunikasi kompleks, mengekspresikan keinginan dan emosi secara lebih berwarna, kompleks dan kreatif. Mulai menyertakan keinginannya dalam bermain, tidak hanya mengikuti perintah atau petunjuk pengasuh/orang tua. Selanjutnya hal ini akan menjadi dasar terbentuknya konsep diri dan kepribadian. la mampu memahami pola karakter dan tingkah laku orang lain sehingga mulai memahami apakah tingkah lakunya disetujui atau tidak, akan dipuji atau diejek, dll sehingga mulai berkembang kemampuan memprediksi kejadian dan kemudian mengarah pada kemampuan memecahkan masalah berdasarkan keurutan logis.

5⃣ Ide emosionalKemampuan anak untuk menciptakan ide, mengenal simbol, termasuk bahasa yang melibatkan emosi.

6⃣ Berpikir emosionalKemampuan anak untuk menciptakan kaitan antar berbagai ide sehingga mampu berpikir secara logis dan sesuai dengan realitas. Mampu mengekspresikan berbagai emosi dalam bermain, memprediksi perasaan dan akibat dari suatu aktifitas, mengenal konsep ruang, waktu serta bisa memecahkan masalah secara verbal dan memiliki pendapatnya sendiri. Bila anak bisa mencapai kemampuan ini maka ia akan siap belajar berpikir abstrak dan mempolajari strategi berpikir.

📖 Sumber 📖📕Amry Thanjung (2010). Perkembangan Emosi (Psikologi). Makalah. 21 September 2013.

http://amry90.blogspot.co.id/2013/09/perkembangan-emosi-psikologi.html?m=1

📗Ahmad Multazam. Aspek Perkembangan Emosional (Afeksi) Pada Anak. 4 Mei 2013.

http://multazam-einstein.blogspot.co.id/2013/05/aspek-perkembangan-emosional-afeksi.html?m=1

–sumber :  Islamic Parenting Community —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s