Syuting Khalifah Trans 7

IMG-20151203-WA0012[1]

Syuting di Sela-sela Rapat IPC Milad 🙂

Hari ini kali kedua kami rapat mempersiapkan acara Milad Pertama IPC yang Insya Allah akan diselenggarakan bulan Januari 2016 mendatang. Bertempat di Teras Masjid Salman ITB kami berkumpul. Karena anggota panitia mayoritas sudah menjadi ibu maka sebagian besar membawa anak dengan common problem ‘tidak ada orang yang bisa dititipkan’ (itu sebenarnya problem saya pribadi sih hehe..) kapan-kapan hunting day care wilayah Bandung ah..

20151203_095348[1]

Hari menjelang pukul 11 siang, saat itu ada pemuda yang menghampiri kami “Saya dari Khalifah Trans 7 mau mengajak kesediaan ibu-ibu sekitar 7 orang untuk menjadi jamaah kajian Ustad Budi Ashari sekitar 30-60 menit…” Kira-kira begitu yang disampaikannya. Setelah kami berdiskusi singkat akhirnya menyetetujuinya. Asik masuk TV! 😀

Singkat cerita akhirnya kami (ibu-ibu) duduk manis mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Ustad Budi Ashari sedangkan anak-anak bebas mondar-mandir sekitar area syuting, makan biskuit bahkan menangis sesekali tidak masalah karena memang mereka diberikan ‘kebebasan berekspresi secara natural’, begitu yang disampaikan salah satu crew 😀 Selepas syuting sambil menimba ilmu, kami ditraktir makan siang oleh Tim Khalifah Trans7 di Kantin Salman ITB. Alhamdulillah.. (Fa biaayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban)

CYMERA_20151205_072829[1]

Tausiyah singkat namun padat mengenai kisah salah seorang tukang tarik himar (keledai) yang berhasil menjadi orang nomor 1 di seluruh wilayah Andalusia (Masya Allah) beliau adalah Muhammad Bin Abi Amir. Berikut cerita singkat yang kurang lebih sama dengan yang disampaikan oleh Ustad Budi Ashari.

Sumber : muslim.or.id

# DARI HIMAR MENUJU KURSI KHILAFAH #

Yang hendak saya tuturkan ini merupakan salah satu kisah nyata yang mengundang decak kagum dalam catatan panjang sejarah umat Islam. Kisah nyata berlatar Daulah Umawiyah II di ranah Andalusia. Sejarah meriwayatkannya kepada kita. (admin: maka itu bacalah dengan seksama)

Adalah tiga remaja yang bekerja sebagai tukang tarik himar atau keledai pikul,mereka menerima upah dari jasa mengangkut barang-barang orang dengan keledai mereka dari satu tempat ke tempat lain. Pada suatu malam setelah membanting tulang seharian ketiga remaja tanggung itu duduk-duduk bercerita ngalor-ngidul selepas makan malam.

Salah seorang di antara mereka, Muhammad demikian namanya, berkata, “Coba kalian bayangkan saya ini adalah khalifah…! Nah apa permintaan kalian berdua?”

Kedua temannya menyanggah, “Hei Muhammad, tidak mungkin!”
“Anggap saja saya ini betul-betul jadi khalifah!”
Salah seorang kawannya berkata, “Itu mustahil.” Sementara yang kedua berkata, “Muhammad, kamu pantasnya hanya jadi penarik himar. Jadi Khalifah..?! Kamu tidak mungkin menjadi khalifah, dan tidak pantas. Kamu hanyalah penarikhimar, tukang himar, titik!!”

Muhammad menanggapi, “Sudah kukatakan kepada kalian, anggap saja iya.Anggap..! Bukan membicarakan mungkin atau tidak mungkin!!”

“Nah, apa permintaanmu..?” Kali ini Muhammad melemparkan pertanyaan kepada temannya yang pertama.
“Baiklah… Saya menginginkan kebun yang subur!” Akhirnya dia menuruti Muhammad.

“Apa lagi?”
“Kuda satu istal!”
“Apa lagi?”
“Seratus orang budak wanita!”
“Apa lagi Bung..?””
“Seratus ribu Dinar emas!”
“Apa lagi?”
“Itu saja, wahai Amirul mukminin!”

Sementara percakapan berlangsung, Muhammad tenggelam dalam imajinasinya yang dipenuhi rasa optimis yang membara. Ia membayangkan sedang menduduki kursi kekhalifahan. Dia merasakan seolah sedang melimpahkan pemberian yang berlimpah, merasakan betapa bahagianya bisa membahagiakan orang lain, bisa memberi setelah selama ini hanya menerima dan menerima, membiayai orang lain setelah sebelumnya selalu berusaha mengais rezeki, merasa hebat memerintahkan ini dan itu padahal biasanya hanya menjalankan permintaan para pelanggan.

Masih dalam kondisi menikmati fantasinya itu, Muhammad pun menoleh kepada kawannya yang kedua kemudian berkata bak Khalifah, “Hei Bung! Sekarang giliran Anda, apa yang Anda minta?!”
Kawan yang kedua ini berkata, “Muhammad, kamu hanya tukang himar,tukang keledai, tidak pantas menjadi khalifah…!”

“Hei kawan, sudah kubilang ini bukan yang sebenarnya, tapi hanya anggapan!! Andaikata saya ini adalah khalifah apa yang kamu minta kawan!” Muhammad tidak menyerah menghadapi olokan kawannya ini.
“Meskipun langit runtuh menimpa bumi, Engkau tidak akan sampai ke kursikekhalifahan, paham…!!?”

“Terserah kamu mau bilang apa, yang penting apa yang kamu inginkan…?”
“Baiklah kalau begitu…Dengar baik-baik Muhammad! Jika kamu jadi khalifah maka dudukkan saya di atas seekor keledai menghadap ke belakang. Lalu arak saya sepanjang jalan kota, perintahkan juru seru mengumumkan di sepanjang jalan. Suruh dia mengakatan begini: perhatian-perhatiaaaan..!!! Orang ini adalah Dajjal penipu! Siapa yang berjalan bersamanya atau berbicara dengannya, maka akan saya masukkan ke penjara.”
Percakapan tiga sekawan kuli angkut itu pun berakhir sampai di sini malam itu.

Subuh-subuh sekali Muhammad telah bangun, lalu melakukan shalat sunah Fajar. Setelah itu dia tetap duduk sambil berpikir memutar otak, mencerna kembali diskusinya semalam. Benar,orang yang mengurus Keledai tentu tidak akan sampai kepada kekhilafahan, demikan dia membatin. Lalu dia pun memikirkan langkah pertama yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita-citanya itu. Akhirnya dia merasa yakin telah mendapatkan jawabannya.

Ya, dia memutuskan pertama sekali harus menjual keledainya.
Setelah keledainya laku terjual dia mulai langkah berikutnya untuk mendekatkan dirinya ke pusat kekuasaan. Dia memutuskan untuk menjadi polisi kota. Begitu diterima, Muhammad bekerja dengan sungguh-sungguh.

Pekerjaan kasar dan berat ketika menjadi tukang himar telah menempa dirinya menjadi pekerja keras. Tradisi kerja keras itu dilanjutkannya dalam menjalankan profesi barunya ini, ditambah lagi dengan cita-citanya tinggi. Kesungguhannya ini membuat kagum orang-orang di sekelilingnya: atasan, rekan-rekan seprofesi, dan orang-orang kebanyakan yang mengenal dirinya. Karirnya melejit hingga khalifah mengangkatnya menjadi Kepala Kepolisian Andalusia.

Pada saat menjabat Kepala Kepolisian itulah Khalifah Umawiyah meninggal dunia digantikan oleh putra mahkota yang masih sangat belia Hisyam al-Mu`ayid billāh yang masih berusia sepuluh tahun. Memperhatikan situasi ini, para pejabat tinggi negara memutuskan membentuk dewan mandataris atau pelaksana tugas khalifah dari unsur luar Bani Umayah, guna menghindari terjadinya perebutan kekuasaan dalam keluarga Umawiyah.

Akhirnya diangkatlah sang kepala polisi Muhammad bin Abi Amir, Ibnu Abi Ġalib, dan al-Muṣḥafi untuk menerima mandat tersebut. Dalam pelaksanaan tugas dewan tersebut, Muhammad bin Abi Amir tampil lebih dominan sehingga mendapat kepercayaan lebih dari ibunda Khalifah. Akhirnya urusan tersebut diserahkan sepenuhnya kepadanya.

Dia pun menetapkan kebijakan-kebijakan penting, seperti larangan bepergian bagi Khalifah tanpa seizin dirinya, dan memindahkan urusan-urusan kepemerintahan ke istananya. Dia menata kembali angkatan bersenjata dan menjadikannya lebih kuat dari semula, lalu mengerahkan bala tentara untuk melakukan ekspansi atau perluasan wilayah kekuasaan Bani Umawiyah.

Dia berhasil memenangkan berbagai pertempuran dan penaklukan secara gemilang, mengalahkan kehebatan raja-raja sebelumnya dari klan Umawiyah. Bahkan sebagian ahli sejarah menganggap periode pemerintahannya tidak termasuk periode Umawiyah, tetapi mereka sebut sebagai era dinasti ‘Āmiriyah. Muhammad bin Abi ‘Āmir, tukang keledai pikul itu, akhirnya benar-benar menduduki kursi kekhalifahan, dengan menyandang gelar al-Ḥājib al-Manṣūr.

Pembaca yang dirahmati Allah, kisah ini belum berhenti sampai di sini. Pada suatu hari, tiga puluh tahun setelah memutuskan berhenti menjadi tukang himar, saat Muhammad bin ‘Āmir yang bergelar al-Ḥājib al-Manṣur berada di singgasananya, dia teringat kedua orang sahabatnya tempo dulu. Dia pun memerintahkan seorang prajurit untuk menemui mereka.

Dia menerangkan ciri-ciri kedua kawannya itu dan di tempat mana mereka dapat ditemukan. Prajurit itu dapat menemukan kedua orang dimaksud tanpa susah payah, persis seperti yang diceritakan oleh al-Manṣur, masih dua orang sahabatnya di masa lalu, masih di tempat yang dulu, masih dengan pekerjaan dan keahlian yang dulu.

Prajurit itu pun berkata kepada mereka, “Amirul Mukminin memanggil kalian!”
“Apa salah kami? Kami tidak melakukan pelanggaran.” Jawab mereka.
“Beliau memerintahkan kami untuk mencari dan menghadapkan kalian!” Prajurit itu menegaskan.
Akhirnya kedua orang tukang himar itu mematuhi perintah. Mereka takjub saat memasuki istana al-Manṣūr, mereka berdecak, “Dia kawan kita dulu, Muhammad.”
Muhammad al-Ḥājib al-Manṣūr berkata, “Kalian kenal dengan saya?”
Mereka kompak, “Ya, tetapi kami khawatir Anda tidak kenal lagi dengan kami.”
“Oh, saya tidak melupakan kalian.”

Berikutnya sambil memandang kepada hadirin yang ada di majelis itu,al-Manṣūr berkata, “Tiga puluh tahun yang lalu saya bersama kedua pria ini, kami sama-sama tukang himar. Pada suatu malam kami bertiga berbincang-bincang. Saya berkata kepada mereka jika aku adalah khalifah apa permintaan kalian? Dan masing-masing telah menyampaikan permintaannya. Lalu dia memandang kepada laki-laki yang pertama, “Apa yang telah engkau minta, Fulan?”

Dia mengingat dan mengulang jawabannya tiga puluh tahun yang silam, “Kebun yang subur.” Al-Manṣūr pun berkata, “Kebun ini, ini, dan ini sekarang menjadi hak milikmu!”“Apa lagi?” Kawan lamanya itu menjawab, “Kuda satu istal.” Al-Manṣūr bertanya lagi, “Apa lagi.” Dia segera menjawab, “Seratus orang hamba sahaya perempuan.” “Apa lagi?” Jawabnya, “Seratus ribu Dinar uang emas.” Al-Manṣūr pun berkata, “Permintaanmu dikabulkan! Apa lagi?” Orang itu menjawab, “Itu saja, wahai Amirul Mukminin.” Tetapi al-Manṣūr menukas, “Engkau juga akan mendapatkan tunjangan bulanan, dan bebas menemui saya kapan saja!”

Selesai dengan yang pertama, al-Manṣūr pun menoleh kepada kawan lamanya yang kedua, “Apa yang telah engkau minta kepadaku?” Kawannya itu menjawab dengan kecut, “Maafkan saya wahai Amirul Mukminin!” al-Manṣūr menyela, “Tidak, demi Allah saya tidak akan mengampunimu sampai engkau sampaikan di hadapan mereka semua!” Orang itu berkata, “Ingat persahabatan kita wahai Amirul Mukminin..!?” “Tidak! Sampai Engkau sampaikan kepada mereka!”

Akhirnya laki-laki itu pun berkata, “Baiklah, saya dulu berkata bahwa jika Engkau jadi khalifah maka dudukkanlah saya di atas seekor keledai menghadap ke belakang. Lalu arak sepanjang jalan kota, perintahkan juru seru mengumumkan di sepanjang jalan. Suruh dia mengakatan: perhatian-perhatiaaaan..!!!

Orang ini adalah Dajjal penipu! Siapa yang berjalan bersamanya atau berbicara dengannya, maka saya penjarakan.”Al-Ḥājib al-Manṣur Muhammad bin Abi ‘Āmir pun bertitah, “Penuhi permintaannya supaya dia ingat Innallāha ‘alā kulli syay`in qadīr (bahwa Allah Mahakuasa).

Pembaca, Muhammad bin Abi ‘Āmir menjual himarnya untuk memenangkan impian. Tetapi sesungguhnya bukan sekedar himar, melainkan beban-beban berat yang ada bersamanya, yang juga pikul oleh banyak orang, seperti ungkapan, saya tidak mampu, saya tidak pantas, saya tidak berguna, saya tidak bisa apa-apa dan sejenisnya.

Dia menyingkirkannya dan menukarnya dengan ungkapan, saya bisa insya Allah. Oleh karena itu jika Anda benar-benar ingin mewujudkan impian Anda, maka katakan dengan penuh keyakinan, “Saya bisa insya Allah!” dan ingatlah selalu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatunya.” Dan janganlah melanggar rambu-rambu syariat Allah yang telah dipancangkan-Nya.

Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi
Via: Majalah Qiblati

“Bermimpilah dan teruslah berusaha.. Bermimpilah karena dengan mimpi Allah akan mudahkan langkah kita untuk dapat berpindah hingga mencapai mimpi kita tersebut”- Ustad Budi Ashari

Jazakumullah khairan katsiran Ustad Budi Ashari dan Tim Khalifah Trans7 🙂

:: 3 Desember 2015 ::

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s