Materi Perkembangan Anak Usia 0-6 Tahun

Materi Grup WhatsApp Rumah Main Anak

Perkembangan Anak Usia 0-2 Tahun.
Oleh Puti Ayu Setiani, S. Psi.

“Every child is unique, and every family deals with different issues. There are some things, however, that many parents deal with around the same time. The way parents choose to deal with these issues has an important impact on how healthy and competent their children grow up to be. “

Kutipan tersebut saya dapat dari kata-kata awal pada laman http://www.parentfurther.com. Setiap anak adalah unik, dan masing-masing keluarga memiliki tantangan yang berbeda untuk dihadapi. Akan tetapi, terdapat beberapa hal umum yang sebenernya “wajib” tiap orang tua mengetahui tidak lain demi kebaikan anak mereka sendiri. Salah satu pengetahuan yang harusnya dimiliki oleh orangtua adalah pengetahuan mengenai tahap perkembangan anak. Nah, di sini saya akan sedikit memberi pembukaan bagaimana sih perkembangan anak di usia 0-2 tahun pertamanya.
Sebelumnya kita bicara mengenai apa itu pertumbuhan dan perkembangan ya. Pertumbuhan adalah perubahan besar, jumlah ukuran, atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu. Untuk anak usia 0-2 tahun misalnya perlu secara rutin ditimbang berat badannya, dan juga mengukur lingkar kepala dan juga lingkar lengan. Nah, mengukur lingkar kepala ini rutin dilakukan, mengapa? Hal ini menjadi salah satu deteksi dini hidrocefalus ataupun microcefalus. Untuk itu mengapa dateng ke Posyandu dan pengisian KMS harus rutin dilakukan untuk mengecek ini.

Selanjutnya, apa itu perkembangan? Menurut Soetjiningsih (1995), perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Aspek dasar perkembangan ini adalah perkembangan kognitif, emosi, sosial, motorik (kasar dan halus), dan juga perkembangan bahasa.
Prinsip perkembangan sendiri merupakan hasil interaksi dari genetis dan lingkungan. Perkembangan juga mengikuti hukum chepalocaudal, yang dimulai dari kepala ke kaki, dan proximidistal, dimulai dari bagian tengah tubuh ke samping. Contoh  prinsip chepalocaudal ini adalah ketika bayi, ukuran kepala aalah 1/3 dari panjang badan. Untuk proximidistal, contohnya bayi mampu miring terlebih dahulu sebelum akhirnya dapat tengkurap.

Untuk pembagian tahapan sendiri, Hurlock membagi masa 0-2 tahun menjadi masa neonatal (lahir- 2 minggu), dan juga bayi (2 minggu – 2 tahun). Perkembangan bayi di usia ini amatlah cepat karena masa ini merupakan masa-masa awal mereka mengenal dunia. Pembelajaran bayi yang utama melalui mendengar, melihat, dan merasakan, karena pada tahap ini dikenal periode sensorimotorik. Bahasa komunikasi pertama mereka adalah menangis. Menangis membuat orangtua tau bahwa mereka butuh makanan, kenyamanan, ataupun stimulasi (Berk, 2013). Lapar biasanya menjadi penyebab umum bayi menangis, namun mereka juga akan menangis ketika temperatur tubuh berubah saat diganti pakaiannya, bunyi yang tiba-tiba, atau terdapat stimulus yang “menyakitkan”. Bahkan bayi juga bisa menangis ketika mendengar suara bayi lain menangis. Kompak banget ya ternyata sesama bayi :D.

Bayi juga belajar lewat pengamatannya terhadap orang sekitar. Mereka dapat meniru ekspresi wajah dan juga gerak tubuh orang dewasa. Sering kan ngeliat bayi yang ikutan melet ketika orang di depannya melet, atau bayi yang dadah-dadah ketika mengantar orang pergi.

Di tiap kemampuan baru yang bisa dilakukan bayi, terdapat empat faktor yang saling mempengaruhi, yaitu:
1 Perkembangan sistem saraf pusat bayi (otak dan teman-temannya)
2 Kapasitas gerakan tubuhnya (yang berdasarkan umur)
3 Tujuan yang ada di pikiran bayi (motivasi internal yang dimiliki bayi. Secara naluriah, bayi memiliki tujuan ketika menggerakkan tubuhnya ataupun untuk mencapai tujuan tertentu), dan yang keempat
4 Dukungan lingkungan terhadap perilaku bayi.

Stimulasi yang diberikan lingkungan kepada bayi merupakan suatu faktor penting agar bayi berhasil melakukan tugas perkembangannya. Akan tetapi, stimulasi yang berlebihan tidak selamanya baik bagi bayi. Stimulasi harus diberikan sesuai dengan kesiapan atau kematangan bayi sesuai dengan umurnya. Apa saja sih kesiapan dan kematangan bayi berdasarkan aspek dasar yang telah disebutkan tadi? Minggu depan, akan dibahas lebih detail ya mengenai tahap perkembangannya di masing-masing aspek ya. Stay tune! 🙂

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: http://www.rumahmainanak.blogspot.com

*** *** ***

Perkembangan Anak Usia 2-4 tahun.
Hari / Tanggal : Kamis / 26 November 2015
Pemateri : Chairunnisa Rizkiah, S.Psi
Peresume : Julia Sarah, S.Hum

————————-

Menurut saya pribadi, perkembangan di usia 2-4 tahun itu paling menakjubkan. Di rentang usia ini, benar-benar terasa kalau anak bukan lagi bayi yang masih kecil dan sudah siap untuk belajar lebih banyak hal baru.

Umumnya dalam ilmu perkembangan, anak rentang usia sampai 36 bulan masih disebut toddler. Toddler itu kurang lebih artinya berjalan dengan masih pelan-pelan dan masih berusaha menjaga keseimbangan. Mirip-mirip pinguin gitu, hehe. Kalau di Indonesia, kita lebih kenal istilah batita (bayi di bawah tiga tahun). Di usia ini, perkembangan motorik yang paling menonjol bisa dikatakan adalah keseimbangan anak sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Di usia 2 tahun umumnya anak sudah bisa berlari dan melompat-lompat. Dalam aspek kognitif, perubahan paling signifikan dibandingkan usia sebelumnya adalah perkembangan bahasa.

Anak di usia 2-3 tahun mempelajari banyak kata-kata baru dan mulai berusaha berbicara. Anak usia 2 tahun sudah bisa bicara dengan 1 atau 2 kata sederhana, selanjutnya berkembang jadi kalimat sederhana dgn 2-3 kata. Sedangkan dalam aspek psikososial, anak sudah mulai berinteraksi dengan anak lain dan terlibat dalam kegiatan bermain. Anak tidak lagi hanya mengenal anggota keluarga tapi juga mulai melakukan kegiatan dengan teman sebaya. Atau setidaknya anak mulai memperhatikan anak lain saat bermain dan menunjukkan ketertarikan. Ada juga anak yang akan lebih dulu menyapa orang lain.

Usia 3-4 tahun sudah masuk ke masa early childhood (masa kanak-kanak awal) atau disebut juga masa prasekolah. Di usia ini anak-anak biasanya sudah mulai terpapar dengan kegiatan yang berhubungan erat dengan akademik, misalnya memegang alat tulis, mengenal simbol (huruf, angka, dll) walaupun tidak harus selalu diikutkan ke sekolah formal. Kematangan motorik, kognitif, dan psikososial pada anak di usia 3-4 tahun ini menunjang kesiapannya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut.
Perkembangan motorik kasar dan motorik halus di usia 3-4 tahun ini semakin baik. Pada usia ini, otot anak lebih kuat, keseimbangan lebih baik, dan ditunjang perkembangan kognitif yang lebih advanced sehingga ia bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang sebelumnya masih sulit untuknya.

Contoh kegiatan motorik kasar adalah belajar naik sepeda, belajar memakai pakaian sendiri, naik-turun tangga, lari dan lompa. Contoh kegiatan motorik halus adalah belajar memegang peralatan makan, mengambil benda kecil dengan ujung jari, membuat coreran-coretan dan meniru bentuk, serta menggunakan gunting dan lem. Dalam aspek psikososial, anak lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau anak-anak lain. Karena perkembangan bahasa mereka juga sudah lebih baik, anak sudah bisa mulai berkomunikasi secara verbal untuk menyampaikan isi pikirannya.

Anak juga mulai mengembangkan kemandirian dalam melakukan kegiatan, terutama dalam keterampilan-keterampilan baru yang ia sudah pelajari seperti makan sendiri, berpakaian sendiri, dan mengambil barang sendiri. Dengan kemampuan kognitifnya, anak juga sudah bisa mulai diperkenalkan dengan aturan yang berlaku.

————————

❓✔️ Tanya Jawab :

1. Boleh ikutan nanya ya bunda…😁anakku usia 2 tahun 10 bulan, gimana ya caranya biar anak percaya diri. Pernah ada kegiatan di sekolah anakku, jd anak yg kecil seusia anakku diminta utk tampil sambil pegang bendera kecil dikibar2in aja, gak disuruh ngomong ato nyanyi apa2. Anakku gak mau, dari sejak latihan sampe di hari H tetep gak mau tampil. Ini kenapa ya kira2? Aku agak khawatir karena terkadang kalau anakku misalnya mulai rewel atau minta sesuatu yg nggak kami kasih kalau kita lagi diluar, kita bilangnya “eh, diliatin sama mbak/ibu itu, malu loh, masa nangis2 gitu” Nah anakku biasanya berhenti nangis kalau sudah bgini. Ini kira2 apa karena sering kami beginikan, anakku jadi kurang pede ya, apakah ada kaitannya?
Makasih sebelumnya yaa bunda 😘
(Salwa/Fatih(2y10m)/Jakarta/RMA4)

Jawab: Halo bunda Salwa. Mungkin bunda bisa coba cek:
🔹apa sehari-hari anak memang tampil sebagai anak yg pemalu? Atau cuma kelihatan tidak PD ketika ia harus tampil di depan orang banyak?
🔹apa pernah ada kejadian lain yg mirip, yaitu anak berada di situasi dimana dia harus “tampil” dan dilihat orang banyak? Bagaimana reaksi anak saat itu?
🔹apa anak sejak dulu memang tidak tertarik pada aktivitas seni pertunjukan (menyanyi, menari/gerak dan lagu, main alat musik)? Atau justru kalau bersama orang2 yg dia kenal aslinya anak senang berekspresi lewat seni2 tersebut?

Anak ga mau tampil dgn cara apa? Menangis “ga mau! Ga mau!” (yg tandanya dia cemas dan takut) atau terkesan tidak berminat dan tidak termotivasi (“ga mau, ga suka”)?

Kalau anak berhenti menangis setelah diberi penilaian “Malu tuh dilihat Mbak/ibu itu”, berarti kita bisa kira2, anak tidak suka kalau “kelemahan” atau penampilannya yang kurang oke dilihat oleh orang lain. Saya tidak bisa langsung menyimpulkan “oh karena sering diancam seperti itu jadi anak kurang pede”. Perkembangan psikososial anak dipengaruhi banyak faktor seperti pengalaman, reaksi dari orang2 di lingkungan, dan nilai-nilai yang dipelajari anak. Tapi yang pasti, kita bisa sepakat ya kalau “ancaman” seperti itu tidak tepat guna. Anak perlu belajar berhenti menangis dengan mengontrol dirinya sendiri (dengan bantuan arahan orang dewasa), bukan karena tidak enak dilihat oleh orang lain yang bahkan ia tidak kenal. Kalau masih keci sih “cuma” “malu dilihat orang”, tapi lama2 orangtua bisa bablas merendahkan anak dgn “malu ah sama temen bunda…”, “malu ah sama bu guru…”,”malu ah, anak lain ga ada yg nangis…” dan malu ah malu ah lainnya yang membuat anak merasa dirinya delalu dinilai oleh orang lain.

Jadi setelah cek pertanyaan2 saya tadi, kesimpulan apa yg bisa diambil tentang perilaku ananda yg tidak mau tampil di panggung? Apa dia pemalu? Atau ada demam panggung karena ditonton orang banyak? Atau dia tidak berminat pada kegiatan seperti itu?
Kalau ini, yg bisa jawab bundanya sendiri 🙂 (Kiki)

————

2. Aslm mba, mau bertanya : jika seorang ibu ingin memasukkan anaknya ke playgroup di usia 2 thn, dengan tujuan menumbuhkan self confidence dan kemampuan bersosialisasi dng usia sebaya. Pertimbangan apa saja dlm memilih PG yg sesuai utk perkembangan motorik, sensorik, dan kognitifnya.
Kmarin survey pg, ada metode habitual, montessori, dan sentra. Mohon pencerahannya 🙂
(Puri/Aksan(15m)/tangsel/RMA4
Anaknya msh 15 m mbak.. tp saya lg berfikir mau masukin pg usia 2 thn nanti.

Jawab : Halo bunda Puri.
Waah sudah siap sekolah yaa Aksan. Sebelumnya Bunda dan suami perlu juga merumuskan ‘alasan’ mengapa si kecil harus masuk PG. Pada sebagian besar Bunda yg bekerja biasanya disebabkan agar anaknya mendapat stimulasi yg tepat sebab orgtuanya bekerja. Namun, pd sebagian besar full time mother biasanya menunda sementara sebab bisa mendampinginya di Rumah (faktor lain ada jg yg alasan ekonomi). Apapun ‘alasan’ itu, Bunda dan keluarga jg harus mempersiapkan serta melihat kesiapan di kecil. Mempersiapkan si kecil jg termasuk ‘lulus toilet training’.
Hal lain yg perlu Bunda perhatikan ialah pemilihan sekolah. Tepat sekali jika Bunda sudah survey ke berbagai sekolah. Bunda dapat memilih sekolah yg lbh banyak ‘bermainnya’, sekolah yg tdk menekankan anak untuk mengisi lembar kerja, sebab fitrah anak usia dini ialah bermain. Salah satu hal yang dapat dilihat juga ialah lapangan sekolah yang luas.

Stimulasi perkembangan motorik anak usia dini akan lebih baik jika lebih diutamakan dibandingkan dengan stimulasi kognitifnya. Area lapangan yang luas disertai dengan ragam permainan yang dapat menstimulasi motorik kasarnya dapat menjadi salah satu tolak ukur pemilihan sekolah PG. Semoga menjawab ya, Bun  (Sarah)

————-

3. Kalau Rana, usia 2 tahun sdh banyak bicara, gunting2 dan lem pun sdh lancar. tapi kalau soal lompat 2 kaki masih ragu-ragu, adakah stimulasi yang bs saya lakukan secara psikologi, selain mengajaknya lompat di kasur atau di trompolin.
(Bunda Rana/Rana(29m)/Kupang/RMA4)

Jawab : Hai Bunda Rana yang baik. Untuk kemampuan melompat, dari contoh yang bunda berikan sepertinya melompatnya lebih ke arah atas. Anak yang baru belajar melompat lebih mudah untuk melompat ke arah depan (hopping, seperti kelinci dan kanguru). Meloncat ke atas (jump) setahu saya memang lebih sulit karena anak harus mengangkat seluruh badannya ke atas. Meloncat-loncat bisa di atas tempat tidur sambil diberi semangat juga baik, “ayo loncat loncat yang tinggi” dan diberi contoh, atau meloncatnya ya bersama-sama orangtua. Supaya lebih seru, bisa sambil bermain. Misalnya pura2 mau tangkap nyamuk atau pura2 jadi kelinci. Pakai musik juga bisa seru, misalnya menonton video kartun suara hewan sambil meniru gerakannya. Saya punya lagu favorit di kelas kalau ut meniru gerakan hewan, judulnya “Animal action”. Mungkin bisa dicari di youtube 😁 Kalau kegiatan yg ini manfaatnya bukan cuma utk latihan melompat saja. Anak juga bisa diajak lihat targetnya sendiri. Misalnya, loncat sampai bisa menyentuh garis di dinding (lompat di tempat ke arah atas) atau lompat dari satu ubin ke ubin yg lain. Yang penting orangtua yg mendampingi sabar, krn anak juga belajar setahap demi setahap. Mudah-mudahan jawaban ini bisa membantu yaa (Kiki)

————–

4. Uda A (4th) sebenarnya sdh bisa melakukan banyak hal sendiri, termasuk makan sendiri. Tapi klo di rumah ada saya (klo siang saya kerja), uda biasanya slalu  minta disuapi. Apakah ini normal? Sampai umur berapa kira2 saya bisa mentoleransinya?
Erni/jakarta/RMA4

Jawab: Halo Bunda Erni. Wahh Uda hebat sudah bisa makan sendiri. Saat Uda meminta disuapi saat Bunda pulang bisa jadi sebenarnya ia sedang mencari perhatian Bundanya dengan cara tersebut. Usia 4 tahun, anak sudah bisa diajak berdialog, termasuk juga sudah mengerti rules sesuatu ya Bunda. Bunda bisa berdialog padanya mengapa ia senantiasa minta disuapi, juga berusaha tetap memintanya makan sendiri (dengan menguraikan alasannya) dan tentunya memberi perhatian ekstra kepadanya saat itu dalam bentuk yang lain. Tetap semangat, Bunda. Uda hanya ingin diperhatikan =) (Sarah)

—————-

5. Anak saya usia 2th 5bln kemampuan psikososialnya msh kurang. Enggan bermain dg anak2 sebaya kecuali dg anak2 yg dia kenal. Kalo bermain di playground cenderung menolak bermain dg teman2nya.jika ditempat yg asing masih takut dg orang asing. Kecuali jika didatangi tamu, dy tidak takut. Sy bekerja, suami bekerja 2 minggu sekali keluar kota. Bagaimana ya cara agar anak saya mau bergaul? Apakah menyekolahkan di paud adl cara yg tepat?
Yulia/tangerang/2th5bln/RMA4

Jawab: Halo Bunda Yulia.
Reaksi anak saat bertemu orang asing dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal di antaranya berupa temperamen, yaitu kecenderungan untuk bereaksi dengan pola tertentu di beragam situasi. Ada anak yang “anteng” dibawa ke mana saja dan cepat beradaptasi dengan orang baru (easy child), ada anak yang di awal cenderung menjaga jarak tapi sebenarnya hanya butuh waktu untuk mulai mau berinteraksi dengan orang baru (slow to warm up child), dan anak yang untuk didekati dan diubah jadwal rutinitasnya butuh usaha yang cukup keras (difficult child). Faktor eksternal berupa cara orangtua mengajari anak tentang orang asing. Apakah anak diajari untuk dapat menghadapi orang asing, atau justru ditakut-takuti bahwa orang asing itu jahat (“kalau ga stop nangisnya nanti dibawa sama tante itu loh”, “nanti dipanggilin pak polisi loh”, dll), atau sebaliknya orangtua terlalu mudah membiarkan anak disentuh (misalnya anak dicubit-cubit pipinya atau langsung digendong) dan diberi sesuatu oleh orang yang bahkan tidak dikenal juga oleh orangtua.

Nahh..anak Mba Yulia termasuk yang manakah?
Anak slow to warm up dan difficult di awal kelihatannya sama. Bedanya, anak slow to warm up belum mau bergabung di kegiatan baru atau berinteraksi dengan orang baru karena dia merasa perlu “Cek ombak” / lihat medan dulu baru merasa nyaman. Sedangkan pada anak yang temperamennya difficult, tempat baru berarti rutinitasnya berubah dan dia frustrasi. Anak difficult juga biasanya tidak teratur dalam pola sehari2, misalnya jam mengantuk, jam lapar, dan jam buang air besar. Jadi anak mba difficult atau slow to warm up? 🙂

Bagi anak yang masih sangat kecil, rutinitas yang mendadak berubah bisa bikin kaget dan takut. Sebelum pergi main ke taman, apa anak sudah diberitahu nanti akan pergi ke mana dan akan ada apa/siapa di sana? Anak juga butuh persiapan untuk menghadapi hal baru. Ada anak-anak yang walaupun takut-takut tapi masih mau sedikit mendekat kalau ditemani orangtuanya, apalagi kalau memang masih kecil, di bawah 3 tahun.

Oia, semakin banyak pengalaman anak bertemu dengan orang baru (TPA, playgroup, sepupu, tetangga, dll) anak bisa belajar untuk melatih keterampilan sosialnya. Makanya memang acara bermain jadi sarana yang baik juga untuk mengekspos anak ke lingkungan sosial. Kalau anak awalnya tidak mau, diajak pelan-pelan saja sambil terus didampingi. Anak juga belajar kok selama proses itu, tapi dengan caranya sendiri. Kalau untuk memasukkan ke paud bisa cek jawaban nomor 2 yaa. Untuk mempersiapkan anak sekolah tentu ada banyak faktornya, bukan semata-mata agar anak mampu bersosialisasi saja. 🙂 Semangat dan terus bersabar, Bunda (Sarah dan Kiki)

————–

6. Zahwah sudah mulai suka pengAKUan. Maksudnya semua benda dibilangnya..”nyak (punya) aku ini..” bahkan tahan rebutan sampai si “lawan” kalah dan nangis.. sampai saya gk enak hati.. Ini gm ya bunda.. saya pernah baca sikap ini ada sisi baiknya juga.. bahwa si anak belajar mempertahannkan miliknya (mohon koreksi jika salah hee).
Bagaimana cara menyampaikan ke anak cara berbagi ya bunda..
Terimakasih penjelasannya
Septi/lampung/2thn 2bln/RMA.4

Jawab : Hai Bunda Septi, sifat  ‘ego’ yang dimiliki anak 0-5 tahun memang masih sangat tinggi yaa sehingga anak masih enggan untuk berbagi. Anak tidak mau berbagi mainannya di usia seperti itu adalah hal yang lumrah. Kenapa? karena dia masih egosentris, dan sedang belajar konsep kepemilikan, bahwa apa yang menjadi miliknya adalah haknya. Itu bagus. Inilah mengapa anak-anak suka berebutan mainan ya, Bun. Anak-anak usia dini memang masih perlu pengawasan dan pendampingan oleh orang dewasa saat bermain. Dalam hal ini, pengawasan yang dimaksud ialah pengawasan dari ‘luar arena’ bermain si anak, orang tua boleh turun tangan jika ada nilai-nilai yang tidak tepat dilakukan anak saat ia bermain, misalnya : anak berantem.

Karena dalam usia ini anak masih beranggapan bahwa semua barang ialah miliknya, maka konsep “bergantian” akan lebih mudah ia terima dibandingkan konsep “berbagi” (dalam pandangan anak, istilah berbagi berarti barangnya tidak kembali lagi, hihi). So, Bunda bisa mengajaknya untuk “mainnya bergantian yaa.” Bunda bisa membuat jam2an yang dapat diputar jarum menitnya untuk memudahkan anak mengetahui batas waktu ia bermain dan bergantian. “Kakak main sampai jarum panjangnya di angka ini ya. Teman Kakak nanti dari angka ini ke angka ini.” Semoga membantu ya, Bun. (Sarah)

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: http://www.rumahmainanak.blogspot.com

*** *** ***

Perkembangan Anak Usia 4-6 Tahun
Oleh Juditha Elfaj

🎈Pendahuluan
Anak pada rentang usia 4-6 tahun merupakan individu yang sedang belajar menguasai tingkatan lebih tinggi dari bberapa aspek, spt gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi dengan lingkungannya. Ia sedang mengalami perubahan perilaku dari tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, dan dari ketergantungan menjadi lebih mandiri. Perkembangan ini tentunya ditujukan pada perubahan yang sistematik, progresif, dan berkesinambungan.
Adalah hal yang penting bagi kita sbg orangtua utk memahami perkembangan anak usia ini, agar dapat membantu proses pembelajaran anak serta memberikan perlakuan yang tepat kepadanya.

🎈Karakteristik
Menurut Montessori (Hurlock, 1978), anak pada usia 3-6 tahun berada pada masa sensitif, dimana suatu fungsi perlu dirangsang dan diarahkan agar tidak terhambat perkembangannya. Misal, fungsi kemampuan bicara. Jika pd periode ini tdk dirangsang (distimulasi, dilatih, dll), maka anak akan mengalami kesulitan di masa berikutnya. Selain itu, pd masa ini anak jg sensitif thdp keteraturan lingkungan, eksplorasi lingkungan thdp objek kecil dan detail, serta sensitif thdp lingkungan sosial.
Erikson (Helms & Turner, 1994) memandang pribadi usia 4-6 thn sebagai fase sense of invitiative. Pd periode ini anak hrs didorong mengembangkan inisiatif atau prakarsa. Jika ia tdk mendapat hambatan dr lingkungannya, maka anak akan mampu mengembangkan prakarsa dan daya kreasinya, sehingga ia mampu tumbuh dengan percaya diri dan mandiri. Namun, jika ia terlalu sering mendapat larangan dan teguran, anak dapat diliputi perasaan guilty atau bersalah. Oleh krn itu, kepercayaan, kasih sayang, dan komunikasi yang baik dapat mendukung keberhasilan kita mendapingi perkembangannya pada masa ini.
Menurut pakar pendidikan Islam Asy Syantut (1994), selepas usia 4 tahun anak mulai mengenal dan meniru orang-orang di sekitarnya selain orangtuanya. Oleh karena itu, selain menyediakan lingkungan yang baik, kebiasaan-kebiasaan baik dari orangtua yang membentuk perilaku yang kuat pada anak harus sudah disiapkan pada masa sebelumnya.

🎈Ciri Perkembangan Usia 4-6 tahun
☆ mulai mampu memnuhi kebutuhan fisik scr sederhana
☆ mulai mengenal kehidupan sosial : berkawan, mengikuti aturan, dll
☆ masih memerlukan perlindungan org lain
☆ mampu meniru kesibukan orang dewasa lewat permainan
☆ mulai tumbuh dorongan mengeksploitasi lingkungan, ditandai dengan sering bertanya utk mengumpulkan informasi

Adapun perkembangan anak usia 4-6 tahun di berbagai aspek (motorik, kognitif, bahasa, dll) akan dibahas pada tulisan berikutnya.
Semoga bermanfaat.
Terima kasih.

Tanya Jawab :
1. Mbak, anak sy 6 th 1 bln.  Bisa dibilang mandiri utk seusia nya. Kadang saya kasihan di usia nya 6 thn,  sdh punya adik 2 org.  Saya takut anaknya jd merasa kurang diperhatikan. Krn sy juga bekerja.  Apa yg harus saya perhatikan dari kondisi anak ini mbak… Sehingga saya yakin dia tdk kekurangan kasih sayang atau perhatian dr kami ortu nya.

Yuanita_RMA4

Jawab : Hai mba Yuanita. Alhamdulillah ya Mba sudah mandiri. Yang diperlukan tentu saja quality time bersama ayah dan ibunya, terlebih jika keduanya sama2 bekerja. Bunda bisa menyempatkan diri untuk mengobrol bersamanya berdua saja, tanpa ada adik2nya. Bertanya tentang aktivitasnya, teman2nya, mendengar ceritanya, atau melakukan apapun yang ia sukai (menemaninya menggambar atau bermain lainnya). Begitu pula ayahnya, sempatkanlah berdiskusi berdua saja dengan si sulung tanpa ada ibu dan adik2nya, baik bercerita, berdongeng, bermain, dan sebagainya. Yang pasti, saat berquality time dengannya jauhkan dari hal2 yang dapat menganggu seperti gadget, tv, hp, dll. Agar bonding ibu-anak, ayah-anak tetap kuat meski kedua orangtuanya bekerja.

Dan, di saat orangtuanya libur pastikanlah bahwa hari libur tersebut diisi dengan kegiatan2 berkualitas untuk memperhatikan tumbuh kembang anak2.

[7:21PM, 11/27/2015] Lis Lestari RMA: 2. Aslmkm mba lies…mau nanya kalo anak usia 3-5tahun itu kan sudah menginjak sekolah, baik itu PG/TK kalo sudah bisa mngenal huruf baiknya diarahkan les baca, les mwarnai atau tdk, bebankah utk anak kalo bnyak kegiatan belajarnya?

(Rifsy, fideria, 20m, sukabumi, rma4)

Jawab : Wa’alaikumsalam Mba Rifsy. Secara fisiologis, di usia 0-6 tahun otak kananlah yang berkembang lebih pesat. Sedangkan perkembangan pesat otak kiri baru dimulai saat memasuki usia 7 tahun. Memahami ini, akan membuat kita mafhum mengapa para ahli menyarankan untuk tidak mengajarkan calistung pada memasukkan anak usia dini. Namun, boleh2 saja mengenalkan huruf dan angka pada anak usia dini, asal disesuaikan dengan fitrah usia mereka, dibuat se-fun mungkin dalam kegiatan bermain, bukan dengan metode drilling.

Apakah lembaga les tersebut mengajarkannya dengan cara bermain? Atau anak harus senantiasa berkutat dengan buku dan alat tulis? Jika ya, akan lebih baik jika tidak dileskan. Sebab, stimulasi untuk anak di bawah 7 tahun lebih ditekankan pada stimulasi “kepala ke bawah” (motorik) daripada stimulasi “kepala ke atas” (kognitif, bahasa). Semoga menjawab ya 🙂 (Sarah)

3. Assalamualaikum bunda lis..saya ingrita..:)
Bunda..keponakan saya 5thn skrg sudah TK..tapi dia tdk mau sekolah sendiri, jd sampai skrg msh hrs ditunggui ibu nya..pun ibu nya harus selalu berdiri didepan jendela dan melihat ke dalam kelas..jk ibunya menunduk atau tak telihat sebentar saja dia akan keluar kelas dan menangis..dia anak yg penyayang tetapi juga mudah sekali ‘mutung’ atau ngambek jika keinginannya tdk terpenuhi..kira2 apa yg harus dilakukan ya bunda untuk mengarahkan perilaku anak agar menjadi lebih baik?
Terima kasih atas sharingnya bunda :):):)

Ingrita dewi puspasari/ magelang/ rma4

Jawab:
Halo, Mba Ingrita. Sebelum anak dimasukkan sekolah sekiranya orangtua perlu mempersiapkan anak yaa. Karena siap bersekolah bukan sekedar perkara bisa baca-tulis-hitung, namun lebih penting dari itu adalah mempersiapkan School Maturity (kematangan masuk sekolah) dan School Readiness (Kesiapan masuk sekolah).  

Kematangan, acuannya adalah pertumbuhan biologis yang perlu dicapai sebelum anak masuk sekolah. Termasuk dalam hal ini adalah kematangan otak untuk memahami konsep membaca, menulis, menghitung, dan memahami sudut pandang orang lain.

Dalam hal ini, ada beberapa kematangan yang perlu dimiliki anak, di antaranya:

1. Kematangan Emosi
– Tidak “terikat” lagi dengan ibu sehingga anak dapat berpisah dengan ibu dalam waktu yang cukup lama.
– Dapat menerima otoritas lain (seperti ibu/bapak guru)
– Mampu mematuhi aturan sekolah
– Mampu menyesuaikan diri dengan suasana sekolah serta dapat mengendalikan emosinya (misalnya tidak cengeng atau mudah marah).

# Untuk mempersiapkannya, Bunda dapat melatih mengenali emosi, sering mendongeng yang memainkan berbagai watak dan karakter, dll

2. Kematangan Sosial
– Anak lebih mandiri
– Mampu memilih kegiatan yang ingin dilakukannya.
– Tidak lagi diliputi perasaan ragu-ragu/takut dalam menentukan kegiatan tsb
– Anak telah memiliki kesadaran akan tugas yang dihadapinya
– Mampu menyelesaikan tugas yang dipilihnya (dalam menyelesaikan tugas yang dipilih sendiri dibutuhkan inisiatif daripada tugas yang diberikan guru).

Jika anak menangis saat melihat orangtuanya tidak ada, bisa disiapkan lagi kematangan emosi dan kematangan sosialnya ya, Bun.

Semoga menjawab ya Bun.
(Sarah, disarikan dari materi “Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah” oleh Thasya Sugito).

4. Anak saya sangat suka membaca *dibacakan* buku. Perkenalan dgn huruf pun sudah dilakukan dgn metode sambil bermain. beberapa sudah hapal, tangannya pun sudah luwes memegang alat tulis. Nah kadang saya pancing dengan worksheet2 sesuai usianya (preschool), tapi tergantung moodnya, kalau mau ngerjakan ya dikerjakan kalau ga tidak dipaksa. Begitu sudah pas kah?

Khusnul/halmahera utara/3y4m/RMA4

Jawab:
Boleh2 saja, Mba Khusnul. Yang penting anaknya senang, tidak ada pemaksaan, dan bukan menjadi aktivitas utama dalam kegiatan bermain sehari-hari😘 (sarah)

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: http://www.rumahmainanak.blogspot.com

*** *** ***

Disclaimer :
Semua materi yang di posting sudah melalui persetujuan founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

http://www.jendelakeluarga.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s