Perkembangan Sosial, Emosional & Kemandirian Anak Usia 0-6 Tahun

Senin, 22 Februari 2016

Perkembangan Sosial-Emosional&Kemandirian Usia 0-2 Tahun
Oleh Puti Ayu Setiani

Bayi mulai mengembangkan hubungan dengan orang-orang di sekitar mereka sejak lahir, namun proses belajar untuk berkomunikasi, berbagi, dan berinteraksi dengan orang lain membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang. Mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan emosi dan perilaku merupakan sebuah proses yang panjang. Anak-anak akan terus mengembangkan ketrampilan sosial-emosionalnya dengan baik pada saat remaja atau bahkan di usia dewasa muda.

Berikut merupakan capaian perkembangan emosi umum bayi:

👶🏻0-3 bulan

-Merasa nyaman dengan orang dewasa yang familiar dengan mereka
-Berespon positif ketika disentuh seperti tersenyum
-Umumnya akan terdiam ketika diangkat
-Mampu mendengarkan suara-suara
-Tersenyum dan senang ketika distimulasi secara sosial, misalnya diajak ngobrol
-Dapat ditenangkan oleh ayunan (diayun oleh orang dewasa)

👶🏻3-6 bulan

-Berespon ketika namanya disebut
-Mampu tersenyum dan tertawa dengan keras
-Menangis saat marah, dan mencari kenyamanan (seperti mencari kenyamanan di gendongan bunda)
-Suka melihat dan berada di dekat orang-orang yang familiar dengan mereka
-Mampu memperhatikan perbedaan antara dua orang berdasarkan penampilan, suara atau rasa  yang dirasakan oleh bayi
-Tersenyum pada dirinya sendiri di cermin
-Senang melihat bayi-bayi lainnya

👶🏻6-9 bulan

Di periode ini bayi mulai memperlihatkan preferensi terhadap orang-orang yang familiar dengan mereka. Di periode ini mereka :

-Mulai mampu membedakan antara orang yang dikenal dan orang asing, mereka akan merasa nyaman dengan orang yang dikenal dan merasa cemas di sekitar orang asing
-Mengekspresikan beberapa emosi seperti senang, sedih, takut dan marah
-Mulai memahami ketika perbedaan emosi yang ditampilkan orang lain (misalnya bayi Bunda menampilkan wajah cemberut ketika bunda berbicara dengan nada suara marah)
-Memperlihatkan rasa frustasi ketika mainannya diambil
-Berespon terhadap kata-kata dan gerak tubuh
-Mungkin menghibur diri/merasakan kenyamanan dengan mengisap jempol, memegang mainan khusus atau selimut. (dan masih dalam batas wajar jika masih terjadi di usia 2-5 tahun)
-Dapat marah ketika dipisahkan/berpisah dari orang atau orang-orang yang familiar dengan mereka
-Merespon atau menyentuh cermin ketika melihat wajah mereka

👶🏻9-12 bulan

-Bahagia ketika melihat wajah orangtua, mainan, atau cermin
-Memberikan perhatian untuk perintah sederhana seperti “No”, atau “Kasih ke Bunda”.
-Memahami kata tidak namun tidak akan selalu mematuhinya
-Menoleh ke asal suara ketika dipanggil namanya
-Meniru perilaku (misal melambaikan tangan ketika pergi, pura-pura menelpon)
-Mencoba untuk meniru suara atau gerakan wajah
-Berkata-kata dengan suku kata pengulangan seperti mama, dada
-Berteriak untuk mendapatkan perhatian
-Mengoceh
-Tersenyum dan menangis untuk mengekspresikan perasaan mereka
-Menunjukkan kasih sayang untuk orang-orang khusus dan penting dalam kehidupan mereka
-Memiliki keyakinan bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (misal jika menangis akan menghasilkan mereka diangkat atau mendapatkan makanan)
-Mengekspresikan kecemasan ketika berpisah dengan orangtua atau pengasuh utama

👶🏻1 – 2 tahun

-Mengenali dirinya sendiri di cermin atau foto dan tersenyum karenanya
-Mulai mengatakan “no” ketika disuruh tidur atau permintaan lainnya
-Meniru tindakan dan kata-kata orang dewasa
-Memahami kata-kata dan perintah, dan menanggapinya
-Memeluk dan mencium orangtua, orang-orang yang akrab serta hewan peliharaan
-Mulai menunjukkan perilaku ingin membantu dengan tugas rumah
-Mulai merasa cemburu ketika dirinya tidak menjadi pusat perhatian
-Menampilkan rasa frustasi dengan mudah
-Mulai bermain dengan atau di samping anak lainnya, namun tidak akan benar-benar berbagi atau bermain bersama sampai usia 3-4 tahun (maka dari itu di usia ini merupakan masa peka bagi anak untuk diajarkan sharing)
-Dapat bermain sendiri selama beberapa menit
-Bereaksi terhadap perubahan dalam rutinitas sehari-hari (merasa tidak nyaman di tempat baru, dsb)
-Mampu berbagi sepotong makanan
-Mengembangkan berbagai emosi dan rasa frustasi (mulai tantrum, menunjukkan agresi dengan menggigit, memukul, dsb)
-Mulai menunjukkan kemandirian dengan lebih memilih untuk melakukan sesuatu “sendiri” tanpa bantuan.

Secara umum, beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mengembangkan ketrampilan sosial dan emosional anak adalah:

Berikan perhatian yang responsif kepada anak. Perhatian yang responsif ini adalah memberikan dukungan ketika anak sedang “belajar” tentang sesuatu sesuai dengan karakteristik yang mereka miliki. Karakteristik anak dapat diperoleh dengan Bunda mengobservasi bagaimana cara mereka bereaksi terhadap sesuatu, berkomunikasi, dsb. Dengan mengetahui ini Bunda dapat mengetahui bagaimana cara pengajaran terbaik yang dapat diberikan kepada anak.

Asuh anak dengan kasih dan sayang. Kasih dan sayang sudah pasti akan diberikan seorang Bunda kepada anaknya, namun terkadang perasaan kasih dan sayang ini akan menjadi sedikit lebih sulit ketika anak tantrum atau menangis berkepanjangan. Kesabaran dalam menghadapi situasi sulit dan interaksi yang baik akan lebih mampu menstimulasi otak mereka. Cinta dan kasih sayang akan memberikan pesan kepada anak bahwa mereka adalah orang yang spesial untuk kita, dan ketika bayi merasakan bahwa ia dicintai, ia akan mampu belajar untuk mencintai dan memahami orang lain.

Bantu anak anda belajar dengan cara yang tepat. Ajari anak bagaimana cara mengatasi masalahnya dengan baik. Misal ketika anak berebut buku dengan temannya, ajarkan bahwa untuk dapat mengatasi masalahnya (memenuhi keinginannya) ia dapat membacanya secara bersama-sama. Dengan membantu anak-anak bagaimana cara mengatasi perasaan, mengendalikan dorongan, dan membiarkan mereka mempraktikannya maka pada akhirnya mereka akan belajar untuk dapat menyelesaikan konflik mereka sendiri.

Ajarkan anak pengalaman memberi dan menerima dalam suatu hubungan adalah sesuatu yang menyenangkan. Hal ini akan membuat mereka belajar untuk memahami perasaannya dan peduli terhadap perasaan orang lain.

Segitu dulu sharing dari saya. Semoga bermanfaat.

Sumber:
http://www.zerotothree.org
http://www.parents.com
http://www.education.com
psychology.about.com
http://www.kamloopschildrenstherapy.org

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak 
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: www.rumahmainanak.com

***

Rabu, 24 Februari 2016

Perkembangan Psikososial dan Kemandirian Anak Usia 2-4 tahun
Oleh Chairunnisa Rizkiah, S.Psi

Dalam perkembangan manusia, ketiga aspek motorik, kognitif, dan psikososial saling berkaitan. Seperti yang sudah saya sampaikan di materi perkembangan motorik dan kognitif, penguasaan keterampilan baru membuat anak lebih percaya diri untuk ‘berpetualang’ di lingkungan yang lebih luas dan beragam serta mengembangkan kemandiriannya. Untuk tema perkembangan psikososial anak usia 2-4 tahun, saya ingin membahas beberapa topik, yaitu perkembangan emosi dan keterampilan sosial, bermain, dan kemandirian.

1⃣ Perkembangan emosi dan keterampilan sosial
Seiring perkembangan kemampuan berpikir dan berbahasa, anak mulai mengenali emosi-emosi dasar, yaitu senang, sedih, takut, kaget, marah, dan jijik.  Emosi yang ditunjukkan oleh orang lain lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kata-kata juga ditangkap oleh anak dan menjadi semacam ‘petunjuk’ untuk bertingkah laku. Contohnya, saat melihat anak lain menangis, ada anak yang mengusap-usap tangan anak itu sambil berkata, “Jangan sedih, jangan nangis.” Anak juga tahu kalau orangtuanya marah karena orangtua bicara dengan suara keras, intonasi (nada suara) tinggi, dan ekspresi wajah cemberut. Atau, setelah pulang liburan anak bercerita ke gurunya, “Aku senang banget kemarin jalan-jalan ke Taman Safari.”

Kemampuan anak untuk mengenali emosinya sendiri dan emosi orang lain merupakan keterampilan sosial. Anak  jadi mengerti apa yang sedang ia rasakan, dan bisa mengerti perasaan orang lain. Tentu masih dengan pemahaman yang sederhana. Murid-murid saya di usia 3-4 tahun sudah bisa diajak berdiskusi tentang “orang yang tidak punya rumah” dan “orang yang tidak punya makanan”. Jawaban mereka, rasanya ga enak, kan nanti kelaperan, kan kasihan, kalau ga punya rumah sedih ya, kalau punya rumah senang ya karena ga kehujanan. Istilah “empati” yang sering kita dengar kalau membicarakan perkembangan psikososial anak, awalnya dari pengenalan emosi. Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, sehingga anak juga memahami sikap seperti apa yang perlu ia tunjukkan.

Jenis-jenis emosi tadi, dibutuhkan oleh anak. Sebagai orangtua tentunya ingin anak selalu senang ya, namun emosi-emosi lain juga punya peran masing-masing. Di usia 1-2 tahun, anak sudah mulai mengenal emosi takut bila bertemu orang asing atau masuk ke lingkungan baru. Kalau ditinggal oleh orangtua atau sosok lain yang dekat dengan anak, anak menunjukkan ekpresi wajah sedih sendu atau menangis. Sebagian anak juga merasa jijik bila memegang benda asing yang lengket atau memakan makanan yang rasanya aneh. Kalau anak ditinggal oleh orangtua atau sosok Emosi jijik ini menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang ‘beracun’ atau berbahaya. Maafin ya Bun kalau makanannya dilepeh karena rasanya aneh ^^” *P.S. saya baru nonton film Inside Out. Bagus deh, tentang perkembangan emosi anak*

Ada pula emosi yang lebih kompleks seperti rasa malu, menyesal/merasa bersalah, iri, dan bangga. Emosi-emosi ini disebut self-conscious emotions (emosi sadar-diri). Emosi-emosi ini membuat anak menilai dirinya. Anak mengenal emosi-emosi tersebut dari interaksi dengan orang lain. Anak merasa bangga bila berhasil atau dipuji, menyesal kalau ia tahu sudah menyakiti orang lain, malu kalau gagal atau melakukan kesalahan, dan iri bila melihat orang lain lebih baik. Emosi mana  yang lebih berkembang dalam diri anak, sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

Pemahaman terhadap emosi memungkinkan anak untuk melakukan regulasi (mengatur) emosinya. Mulai usia 2 tahun atau saat anak sudah bisa bicara, anak bercerita tentang perasaannya. Contohnya, “Aku ga suka kalau mama marah-marah.” (Nah loh…) Strategi lain yang diterapkan anak di antaranya berusaha memblokir rangsangan sensori yang masuk, misalnya menutup telinga atau matanya, berbicara sendiri (“gapapa kok, gapapa, kan nanti di rumah ketemu mama lagi”), atau melakukan kegiatan lain yang dapat membuat anak melupakan emosi negatif yang dirasakannya. Untuk belajar mengatur emosi, strategi-strategi tersebut sangat banyak dipelajari anak dari orangtua. Misalnya, kalau orangtua marah-marah sambil memukul meja, sangat mungkin anak menirunya. Sebaliknya, kalau anak mengekspresikan emosi marah dengan memukul atau melempar barang, lalu orangtua mengajarinya (dengan sabar dan konsisten) untuk sabar dan bicara baik-baik, anak juga belajar bahwa ada cara lain selain marah-marah.

2⃣ Bermain
Bermain adalah urusan yang sangat serius bagi anak-anak, hehe…Awalnya anak bermain sendiri (solitary play), lalu mulai bermain sendiri tapi dengan ada anak lain di tempat yang sama (parallel play), kemudian bermain bersama anak lain (collaborative play), baik anak yang sebaya, lebih tua, atau lebih muda. Bermain bersama dapat mengembangkan keterampilan sosial di antaranya kemampuan untuk berbagi, menunggu giliran, menyampaikan keinginan kepada orang lain, dan melakukan percakapan.

Kegiatan bermain, selain untuk stimulasi perkembangan motorik dan kognitif, juga mengenalkan anak pada aturan. Anak usia 3-4 tahun sudah bisa bermain permainan bersama yang memiliki aturan, seperti ular naga (semua anak harus lewat ‘terowongan’), halang-rintang (harus melewati rintangan dengan cara tertentu), bermain pura-pura (siapa berperan jadi siapa, siapa yang bertugas memegang peralatan apa), dan permainan lainnya. Jadi, saat anak bermain dengan orangtua atau kakak yang jauh lebih tua pun, orangtua tidak perlu selalu mengalah ya 😁 Saat anak bermain dengan anak yang lebih kecil pun, anak perlu dibiasakan untuk tidak ‘sewenang-wenang’ mengambil atau merebut barang hanya karena ia lebih besar. Hal ini juga dapat membiasakan anak untuk mengenal fair play dan sikap menghormati orang lain sejak kecil.

Tentang bermain, saya tidak bahas terlalu banyak karena ini sudah jadi makanan sehari-hari grup Rumah Main Anak, hehe. Untuk anak usia 2-4 tahun, anak pada umumnya lebih berminat berinteraksi dengan anak lain, sebab lingkungannya juga sudah bertambah luas (tetangga, sepupu, teman di playgroup atau daycare, dan lain-lain). Bila diperlukan, misalnya kalau anak termasuk anak yang butuh waktu untuk dekat dengan orang baru, permainan yang sifatnya kolaboratif (bersama) dapat diarahkan dulu oleh orang tua. Yang pasti, setiap anak memiliki karakteristik yang unik. Tetap sabar dan dampingi anak untuk merasa nyaman dan yakin bahwa ia baik-baik saja di zona bermain itu.

3⃣Kemandirian
Sebenarnya poin ini juga sudah pernah saya bahas di tema-tema sebelumnya. Kemandirian dibentuk secara bertahap, dan tentunya sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Contohnya, anak usia 2 tahun akan sangat sulit untuk memasang kancing baju sendiri karena keterampilan motorik halusnya belum memadai. Namun menjelang usia 4 tahun, mereka sudah jauh lebih terampil. Mungkin kita juga bisa review lagi tahapan perkembangan motorik dan kognitif anak usia 2-4 tahun ya…

Dalam mendampingi anak untuk membentuk kemandirian, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Tentukan target dan bagi menjadi langkah-langkah yang lebih kecil. Misalnya memakai dan membuka sepatu sendiri. Awalnya bisa dicoba dengan sepatu yang mudah dibuka (tanpa tali atau Velcro). Tidak lupa, ajari anak untuk meletakkan sepatu dengan rapi di tempat yang tepat (rak sepatu, loker, atau tempat khusus sepatu)
2. Anak diberi contoh (dengan peragaan dan bisa juga dibantu gambar) dan diarahkan secara verbal. Di awal, anak mungkin perlu contoh dan dibantu lebih dari satu kali. Lama-kelamaan, anak bisa dipantau saja dari dekat tapi hanya perlu diingatkan cara melakukannya secara verbal
3. Prioritaskan keterampilan-keterampilan yang dalam waktu dekat sangat diperlukan anak dan akan sering digunakan. Untuk usia 2-4 tahun, contohnya toileting, makan sendiri, dan membawa barang miliknya sendiri (yang tidak terlalu berat). Memakai baju dan sepatu, tahapannya cukup banyak. Di usia 4-5 tahun pun baru benar-benar bisa dilakukan secara mandiri.
4. Hargai setiap usaha anak. Kalau belum berhasil saat ini, tetap semangati anak dan yakinkan bahwa ‘kegagalan’ itu tidak membuat anak jadi ‘jelek’.

🔘 Penutup : Orangtua yang memiliki anak anak berkemauan kuat adalah orangtua spesial. Karena anak anak Strong Willed adalah tipe anak yang Teguh Pendirian, tidak mudah goyah, jika diarahkan dengan baik dan tepat ia akan jadi pribadi yang tangguh dan hebat. Anak anak berkeinginan keras ini biasanya tumbuh menjadi anak anak yang Happy, antusias, selama mereka mendapatkan banyak outside play, batasan yang konsisten namun juga flexibel, dan pasokan kesabaran serta kasih sayang yang tak pernah berhenti (Harvey Karp)

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: http://www.rumahmainanak.com

***

Jum’at, 26 Februari 2016

Perkembangan Sosial-Emosi dan Kemandirian Anak Usia 4-6 Tahun
Oleh Juditha Elfaj

Perkembangan sosial adalah proses kemampuan belajar dan tingkah laku yang berhubungan dengan individu untuk hidup sebagai bagian dari kelompoknya. Di dalam perkembangan sosial, anak dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan sosial (kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan) di mana mereka berada.

Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam hubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Saat  berhubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupan anak yang dapat membentuk kepribadiannya, dan membentuk  perkembangannya menjadi manusia yang sempurna. Perilaku yang ditunjukkan oleh seorang anak dalam lingkungan sosialnya sangat dipengaruhi oleh kondisi emosinya. Perkembangan emosi seorang anak itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terdekatnya. Maka, sangatlah bijak apabila kita berusaha menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membantu perkembangan emosi anak.

🎈Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Prasekolah
– menerima tanggung jawab sesuai usia dan perannya
– enjoy dengan pengalamannya
– menyelesaikan masalah dengan segera
– membuat keputusan dengan resiko konflik yang minimum
– tetap pada pilihannya, sampai menyadari bahwa pilihannya itu salah 
– merasa puas dengan kenyataan 
– mampu menggunakan pikiran sebagai dasar untuk bertindak 
– dapat berkata tidak pada situasi yang mengganggunya 
– dapat berkata ya pada situasi yang membantunya 
– dapat menunjukkan kemarahan secara tepat 
– dapat menunjukkan kasih sayang
– dapat menahan rasa sakit dan frustrasi
– mampu berkompromi 
– mampu mengkonsentrasikan energi pada tujuan 
– mampu menerima dirinya

🎈Bagaimana menyikapi ananda?
Pada periode ini, anak akan belajar menghadapi emosi ketika maksudnya diterima atau ditolak (learning initiative vs guilt).

Usia 3-6 tahun, merupakan masa bermain untuk anak. Saat ia bermain, secara naluri kadang anak berinisiatif untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Di saat ia berinisiatif inilah, ia akan belajar apakah lingkungan akan menanggapinya dengan baik, atau malah mengabaikan.

Jika sambutan baik yang ia terima, maka anak akan belajar 3 hal, yaitu:

– Mampu berimajinasi, mengembangkan ketrampilan melalui bermain aktif, termasuk berfantasi.
– Mampu bekerjasama bersama teman.
– Mampu menjadi “pemimpin” dalam permainan, seperti ia menjadi “pengikut” permainan.

Sebaliknya, ketika inisiatifnya selalu ditolak, maka anak akan selalu merasa takut, sangat bergantung pada kelompok, dan tidak berani untuk mengembangkan pikirannya.

Demikian yang bisa sampaikan pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat dan dapat kita kembangkan lagi dalam diskusi.

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak 
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: www.rumahmainanak.com

***

Disclaimer :
Semua materi yang di posting sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

http://www.jendelakeluarga.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s