Kulwap “Weaning with Love”

📚Resume Materi Kuliah Whatsapp Grup Rumah Main Anak 4📚

Hari tanggal : Jum’at, 22 April 2016
Judul Materi : Weaning With Love
Penulis Materi : Dewi Kumalasari
Peresume : Lis Lestari

📝Materi

Assalamu’alaykum wrb.
 
Selamat pagi ibu-ibu, kali ini saya akan berbagi mengenai weaning with love (menyapih dengan cinta). Tema ini bisa dikatakan tema sentral kegalauan para ibu ketika si kecil akan memasuki usia 2 tahun, selain tema toilet training hehe..
 
WHO dan IDAI memang menganjurkan bahwa kegiatan menyusui sebaiknya dilakukan hingga usia dua tahun. Dalam islam pun, anjuran penyempurnaan penyusuan dikatakan hingga usia 2 tahun. Lantas, bagaimana jika si kecil sudah 2 tahun namun tak nampak tanda2 ia mau berhenti menyusu? Nah, tentunya ada yang bisa kita lakukan untuk membantunya. Meskipun ada yang mengatakan bahwa anak akan menyapih dirinya sendiri, namun peran kita sebagai orang tua agar menyiapkan si kecil untuk siap disapih juga akan sangat membantunya mencapai kesiapan penyapihan (weaning readiness). Nah, Kejelian orang tua mengenali weaning readiness adalah salah satu kunci keberhasilan proses weaning with love (wwl). Oke, kita bahas lebih lanjut ya si wwl ini..
 
❓Apa itu WWL?

WWL sendiri adalah salah satu teknik menyapih dimana proses penyapihan dilakukan secara sangat halus dengan sangat mempertimbangkan kesiapan si kecil. Inti dari WWL adalah proses yang lembut, bertahap, fleksibel, penuh kesabaran dan penghargaan terhadap si kecil. Jadi dalam WWL ini, tidak ada tipu-tipu atau aktivitas pembohongan ke anak, misalnya dengan mengoleskan obat merah ke puting agar anak tidak mau menyusu lagi. Proses WWL sendiri dapat dimulai paling tidak di usia anak 18 bulan karena di usia ini anak sudah mulai bisa diminta untuk menunggu pemenuhan kebutuhannya dibandingkan di usia yang lebih muda.
 
❓Bagaimana melakukan WWL?

Proses WWL dapat menjadi transisi yang sulit bagi si kecil. Selama proses penyapihan, tawarkan banyak pelukan dan ciuman untuk si kecil. Banyak ibu yang sedang menyapih khawatir memeluk atau mencium si kecil akan mendorong anak untuk meminta menyusui. Anak butuh pelukan atau kontak fisik dengan ibu untuk menggantikan kontak fisik yang berkurang karena kurangnya frekuensi menyusu. Buatlah waktu untuk focus pada si kecil, seperti saat sedang menyusuinya. Duduk atau berbaring bersama, lihat dia bicara dengannya, lakukan sesuatu dengannya. Biarkan dia tahu melalui berbagai cara bahwa kita tetap ingin dekat dengannya. Jika si kecil menunjukkan keinginan yang sangat kuat untuk menyusu, jangan ditolak. Namun jika selama proses penyapihan si kecil tidak memperlihatkan keinginan untuk menyusu, jangan ditawari (don’t offer, don’t refuse).
Anak biasanya menyusu karena dua alasan yaitu kebutuhan dan kebiasaan. Menyusu karena kebutuhan biasanya dilakukan ketika si kecil haus. Oleh karena itu, selama proses penyapihan, tawarkan banyak minuman yang menarik agar anak tidak merasa haus. Selain itu, tawarkan banyak makanan yang tinggi protein dan nutrisi untuk mengimbangi kehilangan nutrisi dari ASI. Sementara itu, menyusu karena kebiasaan biasanya dilakukan pada waktu dan tempat tertentu, misalnya di kamar sebelum tidur. Pada kondisi ini, hindari situasi dimana anak terbiasa menyusu, misalnya dengan membuat rutinitas baru seperti membaca buku sebelum tidur. Selain itu, berikan anak banyak kegiatan yang menyenangkan agar pikiran anak teralihkan dari kegiatan menyusu.
Selain itu, biasanya anak menyusu sebagai sarana untuk menyamankan diri, misalnya saat menangis ia minta menyusu, atau saat merasa bosan, ia minta menyusu dsb. Nah, disini tugas kita adalah dengan menyediakan bentuk dukungan emosional melalui berbagai cara, misalnya tepukan halus, elusan dsb agar ia belajar bahwa ada berbagai cara yang membuatnya nyaman selain menyusu.
 
 
❓Apa yang membuat WWL berhasil?

Sebagaimana keberhasilan proses menyusui, keberhasilan proses menyapih pun melibatkan 3 pihak: ibu, anak, dan ayah. Kesiapan penyapihan dari ketiga pihak ini akan sangat membantu berjalannya proses penyapihan yang membahagiakan. Oke kita bahas satu persatu yaa..

👩 Kesiapan ibu
Menyusui bisa dikatakan sebagai kegiatan yang sangat membahagiakan bagi kebanyakan ibu. Oleh karenanya, penyapihan memiliki tantangan yang besar bagi Ibu. Menyapih membutuhkan waktu, kesabaran, energi dan kemampuan untuk mengantisipasi permintaan menyusu dari si kecil. Sebagai contoh, ketika biasanya cara paling ampuh meredakan kerewelan si kecil adalah dengan menyusuinya, maka dalam proses menyapih ibu harus siap dengan cara-cara lain yang membuat anak nyaman selain menyusu. Selain itu, ketidaksiapan ibu juga biasanya muncul karena kekhawatiran bahwa penyapihan akan berefek negatif, misalnya anak menjadi tidak dekat lagi dengan ibu.

👶 Kesiapan anak
Kesiapan penyapihan (weaning readiness) adalah tahapan perkembangan dan beberapa anak bisa mencapainya sebelum anak lain. Jika penyapihan nampak terlalu cepat  untuk si kecil, maka akan sangat baik jika kita memperlambat proses penyapihan atau bahkan memundurkan prosesnya. Jika si kecil nampak sangat kesulitan selama penyapihan, maka bisa jadi saat tersebut bukanlah saat yang tepat untuk penyapihan. Kita bisa menemukan bahwa dengan menunggu agak lebih lama, si kecil akan lebih siap untuk tahapan ini dan seluruh proses akan berjalan lebih mudah.
Berikut adalah tanda-tanda kesiapan anak untuk memulai proses penyapihan:
·         Usia setidaknya satu tahun
·         Anak sudah memakan berbagai macam makanan
·         Anak merasa nyaman dan aman berhubungan dengan ibu
·         Anak mulai menerima berbagai cara yang membuatnya nyaman
·         Anak dapat menerima alasan untuk tidak menyusu pada waktu atau tempat tertentu
·         Anak dapat tertidur atau tidur kembali tanpa menyusu
·         Anak hanya menunjukkan sedikit kecemasan ketika diminta untuk tidak menyusu

👨 Kesiapan ayah
Peran ayah memberikan dukungan yang sangat besar dalam proses penyapihan. Menyusui biasanya menjadi ritual anak sebelum tidur atau saat terbangun di malam hari. Nah, peran ayah berada pada waktu-waktu krusial tersebut, misalnya saat anak akan tidur, ayah yang membacakan buku untuknya atau saat si kecil terjaga di malam hari,ayah yang kembali menidurkannya. Selain itu, ayah juga berperan dalam memberikan penguatan bagi ibu dan anak, misalnya dengan memberikan pujian.
 
Oke itu dia penjelasan mengenai WWL, saya tutup dengan quote ini J semoga bermanfaat!

“While many people see weaning as the end of something – a taking away or a deprivation- it’s really a positive thing, a beginning, a wider experience. It’s a broadening of a child’s horizons, an expansion of his universe. It’s moving ahead slowly one careful step at a time. It’s full of exciting but sometimes frightening new experiences. It’s another step in growing up.”   The Womanly art of Breastfeeding, page 237
 
Sumber:
http://kellymom.com/ages/weaning/considering-weaning/how_weaning_happens/
Weaning With Love

❓✅Tanya Jawab

1⃣ Mba, ikut nanya ya.
Saya ibu seorang putri yg berusia 2 tahun kurang 3 hari.

Mau konsultasi terkait penyapihan. Kondisinya, kami sedang melakukan sapih secara bertahap dan dg membuat kesepakatan pada si anak. Di tahap awal, kami membuat kesepakatan bahwa mimik ummi hanya saat akan tidur siang dan malam hari. Kenyataannya, di luar waktu tersebut anak masih minta dan kami berikan, namun setelah diamati dia meminta karena kebiasaan saja.
Setelah tahapan tersebut, kami membuat kesepakatan kembali dg anak untuk full sapih. Ini berjalan mulai kemarin siang. Mengawali tidur siang dg tidak memberikan mimik ummi membuat anak menangis cukup lama dan berakhir dg tertidur (sepertinya karena kelelahan).
Tidur malam tadi alhamdulillah lebih mulus, lebih bs diberi pengertian dan lebih bs dialihkan.

Yang saya tanyakan, bagaimana prinsip don’t offer dont’t refuse diberlakukan di saat tahap full sapih seperti saat ini? Karena di kondisi2 kritis, seperti menjelang tidur, anak masih inget dan minta mimik ummi. Sejak kemarin, yg kami lakukan adlh konsisten tdk memberikan dg tetap memberikan kenyamanan untuknya. Alhamdulillah responnya sampai sekarang semakin membaik.

Terimakasih atas jawabannya 🙏🏼:)

(Refa, Malang, 2 thn, rma 4)

Jawab:

Mba Refa dan si kecil yang kuat. Alhamdulillah ya Allah beri kemudahan dlm menyapih si kecil. Menurut saya, jika memang sudah memilih konsisten full tidak lagi menyusui, dilanjutkan saja Mba. Terlebih sekarang kondisinya sudah semakin membaik. Bismillah, InsyaAllah si kecil sdg belajar beradaptasi tidur tanpa mimik bunda. Tentunya anak akan masih ingat dan akan minta mimik Umminya. Bayangkan, 2 tahun lamanya ia menyusui dan harus berpisah dalam jangka waktu sebentar, hal ini tentulah tidak mudah baginya ya, Mba. Sangat mungkin ia rewel, menangis, sedih, bahkan tantrum. Bunda bisa “dont refuse” jika memang si kecil benar2 nangis hingga tantrum dan tak mau apa2 selain ‘nenen’. Tapi, jika ia masih bisa tidur setelah dialihkan perhatiannya dgn kegiatan lain seperti baca buku cerita, mendongeng, ngaji, nyanyi, murojaah, dll maka tidak perlu ditawarkan lagi. Berilah berbagai kenyamanan lain sebagai gantinya. Pastikan padanya meski tidak menyusi lagi, Ummi tetap sayang padanya..✅

2⃣ Mbak,waktu penyapihan yang baik dimulai dari usia anak berapa?Karena Khafa,anak saya kalau tidur terutama tidur mgalam hrus nenen dlu kalau tidak dia menangis.

(Aghesti,Makassar,12m,RMA 4)

Jawab:

Halo Mba Aghesti yang baik. Waktu penyapihan bisa dimulai sejak mendekati usia 2 tahun. Namun, jauh-jauh hari sebelum usia tersebut (misal: 3 bulan sebelum menyapih) kita bisa mulai melakukan dialog padanya. Misalnya dengan mengatakan, “Kakak, nanti jika usia kakak sudah 2 tahun Kakak berhenti nenennya ya.”
“Kak, lihat deh Abang A (bisa sebutkan sepupu/temannya yg lebih besar) sekarang sudah tidak nenen lg ke Bundanya, soalnya mereka sudah besar. Anak yg sudah besar sudah tidak nenen lg Ka. Kalau kakak mau minum susu nanti bisa dari gelas, ok.”
Mengapa dialog ini harus dikabari dari jauh-jauh hari? Agar anak tidak kaget. Dialog ini membantu menyiapkan perasaan dan psikologis anak saat nanti ia akan berpisah dengan sesuatu yg ia senangi. Selamat berdialog, Bunda. ✅

3⃣ Semangat pagi bundaa
Materinya ini paaaaas bangeeetttt..
Barra bulan depan udah waktunya disapaih nich, kalau siang sich dia udah jaraaang banget minta nenen
Kalau malam dia gak bisa bobok kalau gak sama nenen trus kalau kebangun gak langsung dinenei dia gak bisa bobok lagi
Gimana yaa cara ngerubah kebiasaan anakku itu

Dewi/madiun/23m/rma4

Jawab:

3⃣ Halo, Mba Dewi dan Barra di Madiun. Sepertinya kasus ini memang sama dengan banyak ibu lainnya ya, Mba. Termasuk saya, hehe. Kalau tengah malam anak bangun, susui, tidur lagi deh, hihihi. Namun, karena saat ini Barra sudah besar yg pertama kali perlu Bunda lakukan ialah: meyakinkan diri bahwa Barra sudah besar, sudah waktunya disapih. Lalu, niatkan untuk menyapihnya dengan sungguh-sungguh. Mintalah bantuan dan kerja sama dari suami serta libatkan Allah swt selalu dalam urusan ini. Mengapa? Sebab menyusui adalah perintah langsung dari Allah swt. Dan menyapih pun perintah langsung dari Allah swt. InsyaAllah, jika kita melibatkan Dia maka Dia akan membantu kita.

Menjelang masa2 penyapihan, bisa dikurangi dulu frekuensi menyusui, misal: tidak menyusui di siang hari. Setelah lulus siang hari tidur tanpa menyusui, maka tingkatkan malam tak tidur tanpa menyusui. Caranya? Seperti yg ditulis dalam materi, berikan anak kenyamanan dalam bentuk lain. Ajak anak beraktivitas mendongeng, baca buku, bermain, dll hingga ia lelah. Anak menangis minta ASI? Bisa jadi diawal2 iya, mintalah bantuan dan kerja sama Ayahnya. Saat anak terbangun tengah malam? Silakan diberi minum air putih. Anak terbangun karena haus, maka Ayah/Bunda bisa sediakan air putih di kamar utk diberikan padanya saat ia terbangun. Saya tidak merekomendasikan memberikan susu di tengah malam (terlebih jika dengan menggunakan dot), sebab jika diberikan susu tanpa anak sikat gigi lg akan menimbulkan carries pd gigi anak kelak. Lagi pula, saat kita dewasa, saat terbangun tengah malam pun kita tak minum susu untuk minum, bukan? Yang kita minum ialah air putih. Semangat, Bunda ✊🏽✅

4⃣ Apa dampak negatif jika kita tetap menyusui anak hingga usia 2 bahkan 3 tahun lebih?

Ken Andari/Ali, 10m/tangerang

Jawab :

Halo, Mba Ken yg baik. Sejauh ini, jika dilihat dr segi kesehatan saya belum menemukan referensi yg tepat apa dampak negatifnya. Karena saya percaya bahwa ASI InsyaAllah baik untuk dikonsumsi anak. Jika dilihat dr sisi perkembangan lainnya, anak 2y ke atas kemampuan bahasa dan kognisinya sudah makin berkembang. Nalarnya pun semakin jalan. Bayangkan jika ia membicarakan “aurat” ibunya kemana-mana 😆 Disebabkan nalar anak semakin berkembang, maka kemampuan akan sebab-akibat pun semakin berkembang pula. Oia, lagipula menyapih ini sendiri pun InsyaAllah dapat memandirikan anak.

Namun, jika kita kita lihat dalam Alqur’an (silakan dibaca terjemah Qur’annya ya Buibu).
1. QS. Lukman: 14
“…ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam DUA TAHUN,…..”

2. QS. Al-ahqaf: 15
“…ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah TIGA PULUH BULAN….”

3. QS. Al-Baqarah : 233
“Para ibu hendaklah menyusukan anak2nya selama DUA TAHUN PENUH, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan….

…Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya, ….”

Seluruh ayat Al-qur’an menyatakan bahwa menyusui sampai 2 tahun lamanya. Perintah menyusui dan menyapih ini langsung dari Allah swt. InsyaAllah banyak manfaat dari segala hal yang belum/tidak kita ketahui secara kasat matanya.

Di dalam QS. Al-Ahqaf yg dimaksud 30 bulan adalah sejak masa kandungan. Mengapa? Sebab ada banyak bayi yg lahir tidak 9 bulan, tapi prematur. Sehingga jika 2 tahun = 24 bulan dan bayi prematur misal 6 bulan, genaplah 30 bulan..

Bagaimana jika lebih dr 2 tahun? Kita bisa baca kembali surat Al-Baqarah ayat 233. Barangsiapa yg ingin MENYEMPURNAKAN masa menyusuinya, maka susui selama 2 tahun. Adakah yg lebih baik dari sempurna di mata Allah swt? 😍😍

Atau bagaimana jika 2 tahun lebih-lebih dikit? Lebih seminggu gitu, misalnya? Bismillah, jika memang kita sudah berusaha dr jauh-jauh hari, lebih-lebih dikit semoga InsyaAllah tidak apa2 ya, Bun.

Trus, jika yg terjadi malah kurang dari 2 tahun? InsyaAllah tidak mengapa jika memang merupakan musyawarah Bunda dan Ayahnya. Mengapa boleh? Sebab, ada banyak ibu yg ternyata hamil lagi sebelum selesai masa menyusui anak pertamanya (seperti saya contohnya yg hamil anak kedua saat Kenzie masih 9 bulan, hehe). Pada beberapa ibu, ada yg tidak “kuat” untuk melakukan NWP (nursing while pregnant), atau mungkin ada pula ibu sakit dan tdk memungkinkan menyusui hingga 2 tahun penuh. Dan, luar biasanya “kebolehan” ini pun sudah ada dalam QS. Al-baqarah ayat 233. Maha Besar Allah swt yg senantiasa mengetahui urusan manusia, hingga hal-hal detail sekalipun. 😍😍

Bunda2, menyapih adalah “dialog iman” pertama kita dengan anak kita. Bagaimana kita berdialog dengan anak, menyampaikan bahwa perintah Allah swt pd Bunda utk menyusui Kakak cukup sampai di sini. Bunda, berkuat hatilah, jangan sampai alasan “tak tega” pada anak menjadikan kita lalai mengamalkan perintah Allah swt.

Namun, ingat2 juga…masa menyapih ini bisa menjadi ‘ancaman’ bagi jiwa anak jika kita lakukan dengan kasar. Maka, berlemah lembutlah dalam urusan menyapih anak, Bunda2 yg kuat. ✅

🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak
FP Facebook : Rumah Main Anak
Web : http://www.rumahmainanak.com

***

Disclaimer :
Semua materi yang di share sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

http://www.jendelakeluarga.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s