Kulwap “Reward & Punishment dari Sudut Pandang Islam”

📝Resume Materi Kuliah Whatsapp Grup Rumah Main Anak 1-4 (Live di RMA 3)📝

Judul Materi : Reward dan Punishment dari Sudut Pandang Islam
Narasumber : Miftahul Jannah
Hari, tanggal : Jum’at, 8 April 2016
Peresume : Lis Lestari

🙂 Curriculum Vitae
• Nama: Miftahul Jannah
• Pendidikan:
– S1 Fak. Psikologi UGM
– S2 Magister Profesi Psikologi bidang Pendidikan UGM
• Suami: Salman Al-Jugjawy
• Anak: Asiah Az-Zakhra
• Aktivitas:
Psikolog di sejumlah TK di Yogyakarta
Praktisi homeschooling
Konselor Peduli Sahabat
Penulis buku anak

📚 Materi Kuliah Whatsapp Rumah Main Anak 📚
〰〰〰〰〰〰〰
🎗Hadiah (Reward) dan Punishment (Hukuman) dalam Pendidikan Islam

Oleh : Miftahul Jannah, S.Psi. M.Psi
〰〰〰〰〰〰〰
🔵Ayat Al-Qur’an tentang ganjaran kebaikan dan keburukan

🔵Adanya ganjaran kebaikan (reward) dan ganjaran keburukan (punishment) telah diterangkan ALLAH Subhanahu wa ta’ala dalam firmannya:

“Barang siapa yang melakukan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barang siapa yang melakukan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (Q.S. al-Zalzalah : 7-8)

🔵Hadits tentang Rasulullah SAW memberikan hadiah kepada anak-anak

Rasulullah SAW pernah membariskan ‘Abdullah, ‘Ubaidillah, dan sejumlah anak-anak paman beliau, ‘Abbas r.a. dalam satu barisan. Kemudian beliau bersabda,”Barangsiapa yang lebih dahulu sampai padaku, maka dia akan mendapatkan anu dan anu.”

🏁Mereka pun berlomba lari menuju ke tempat Nabi SAW berada. Setelah sampai kepadanya, ada yang memeluk punggungnya dan ada pula yang memeluk dadanya dan Nabi menciumi mereka serta menepati janji kepada mereka (HR. Ahmad, Musnad Bani Hasyim 1739)

🔵Hadits tentang punishment jika anak belum melaksanakan syariat pada batas usia tertentu :

“Ajarilah anak sholat oleh kalian sejak usia 7 tahun dan pukullah dia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, ad-Darami)

🏅Artinya, pendidikan Islam mengakui adanya reward dan punishment.
===============
💎Tujuan pemberian reward:
1⃣ Penghargaan atas pencapaian anak atas target pengasuhan.
2⃣ Untuk mengukuhkan perilaku baik.
3⃣ Untuk menumbuhkan kasih sayang sebagaimana diajarkan Rasulullaah SAW.

🔴 Tujuan punishment:
Jika terjadi pelanggaran atas aqad dalam proses pengasuhan, agar tidak terulang kembali.
===========
⚠ Lalu bagaimana menerapkannya dalam proses pengasuhan, khususnya berkaitan dengan disiplin?

💎 Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah.” Fitrah dipahami bahwa setiap anak lahir dalam keadaan muslim, suci, membawa sifat-sifat baik.

🎓Orangtuanya yang kemudian berperan memelihara potensi-potensi kebaikan yang telah ALLAH titipkan kepada anak.

💎 Rasulullah SAW juga bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah)

💎  Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidaklah seorang ayah memberikan hadiah kepada anaknya yang lebih utama dari hadiah adab yang baik.” (HR. Hakim)

💎 Anas bin Malik ra bercerita, “Aku menjadi pelayan Rasulullah SAW selama 10 tahun. Selama itu beliau tidak pernah mengatakan uf (hus). Dan tidak pernah beliau bertanya ‘Mengapa kau kerjakan begini?’ atas sesuatu yang kukerjakan. Dan tidak pula karena sesuatu yang tidak kukerjaka beliau berkata, ‘Mengapa tidak kau kerjakan?’” (HR. Tirmidzi)

💎 Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami r.a. menyampaikan kisahnya ketika ada yang bersin ketika sholat berjamaah dan dia menjawab, “Yarhamukallah”, “Ketika Rasulullah selesai sholat beliau memanggilku (untuk menasihati). Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, aku tidak pernah melihat seorang guru, baik sebelum dan sesudah beliau, yang lebih baik dari beliau. Demi Allah, dia tidak membentakku, tidak memukulku, tidak pula mencelaku. Tetapi beliau menasihatiku dengan santun…” (HR. Muslim)

💎 Amru bin Ash ra menceritakan, “Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyuruh melakukan kebaikan kecuali beliau orang pertama yang melakukannnya. Sebaliknya, beliau tidak melarang perbuatan tercela kecuali beliau orang pertama yang meninggalkannya.”

💎  Imam Ghazali Rah.a. mengatakan, “Jangan Anda banyak mencela anak, karena dia akan menjadi terbiasa dengan celaan. Akhirnya dia akan bertambah berani melakukan keburukan, dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi.” (Ihya’ Ulumuddin)

💟Meneladani dari Rasulullah SAW, maka:

☘Uswah/teladan dari orangtua adalah hal yang paling penting dalam proses pengasuhan, khususnya dalam menanamkan kedisiplinan.

☘ Jika anak melakukan kesalahan, jangan dicela. Tetapi beri nasihat dengan santun.

☘ Beri anak pemahaman/ penjelasan tentang disiplin yang kita harapkan dicapai anak.

☘Pendidikan adab sejak usia dini insya Allah akan memudahkan proses pengasuhan dikemudian hari.

☘ Atas kesalahan anak, tegurlah perbuatannya, bukan pribadinya. Katakan, “Perilakumu salah,” bukan “Kamu anak yang tidak sholih.”

☘ Hukuman adalah pilihan terakhir, setelah proses-proses sebelum itu dilalui (contoh/teladan, transfer nilai, pembiasaan) namun anak masih melanggar.

☘ Jangan memarahi anak di depan orang lain, karena itu akan merusak harga dirinya.

☘ Jangan mengancam anak dengan sesuatu yang sebenarnya tidak akan dilakukan orangtua, agar anak tidak menganggap bahwa orangtua hanya main-main saja.

☘ Setiap perilaku anak pasti dalam rangka memenuhi kebutuhannya, sekalipun perilaku yang ditunjukkan anak tidak dikehendaki orangtua Karena itu periksa dulu apa motivasi anak melakukan suatu perbuatan.
〰〰〰〰〰〰〰〰
Pustaka:
🔘 Prophetic Parenting
🔘Ar-Rasul Al-Mu’allim
🔘 Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah
🔘 Pribadi dan Budi Pekerti Rasulullah SAW

❓✅ Tanya Jawab

1⃣ Assalamu’alaikum ummu zahro yg sholihah.. Kapan waktu yg ideal utk mulai memberikan reward n punishment pada buah hati?

(Ummu salman, 2y10m,RMA1)

Jawab :

Jawaban mba Janah : Jika merujuk materi yang saya rangkumkan tentang akhlak Rasulullah SAW kepada Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, juga hadits-hadits yang lain, maka dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah SAW sungguh memperlakukan anak-anak dengan memuliakan mereka. Jike merujuk pada hadits tentang sholat, maka itu menunjukkan bahwa punishment itu adalah untuk dicegah. Jikalau bisa target-target pengasuhan tercapai tanpa harus ada punishment . Adapun perkara reward, bergantung tujuannya. Jika kita berbicara perspektif umum, tanpa melekatkan pada reward sebagai teknik modifikasi perilaku, maka reward kepada ananda tidak ada batas usia minimal. Kalau saya boleh katakan, dengan mengikhtiarkan diri kita memperoleh pasangan yang sholih, mengikhtiarkan diri kita menjadi istri yang sholihah, itu awal hadiah kepada anak. Jadi bahkan sebelum kita beroleh anak dari ALLAH ✅

2⃣ Bismillah mb miftahul jannah yg shalihah, saya ingin bertanya, sejak usia berapa anak diajak untuk melakukan shalat dan diajarkan gerakan tata cara shalat yg benar? Bagaimana menerapkan reward n punishment yg tepat dlm kaitannya dgn mengajak anak shalat? Jazakillah khayran

(Kiki, Jogja, 30 bulan, RMA3)

Jawab :

Pendidikan dan pengasuhan kita insya ALLAH akan mudah kalau kita mengikuti urut-urutan yang tepat. Rasulullah SAW katakan, “Mulailah pendidikan anak-anakmu dengan kalimah Laa ilaa ha Illallaah.” Kita lihat juga sejarah. Selama 13 tahun dakwah Rasulullah SAW di Makkah, yang dilakukan Rasulullah SAW adalah menguatkan iman para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Jadi, sebelum masuk bab membiasakan sholat, pastikan ayah-bunda sudah mendidikkan iman kepada ananda. Yang kedua, adalah adab. Haditsnya sudah ada di materi. Kemudian, lihat hadits sholat. Perintah untuk sholat kepada anak adalah usia 7 tahun. Ini juga berlaku untuk syariat yang lain. Misal: puasa, menutup aurat. Sebelum usia itu sifatnya adalah pengenalan dan pembiasaan. Kapan mulai dikenalkan sholat? Rasulullah SAW sabdakan jika anak sudah bisa membedakan tangan kanan dan kirinya. Kalau saya lebih senang menggunakan istilah positive reinforcement daripada reward. Positive reinforcement tidak harus berwujud fisik. Usapan di kepala, pelukan, tasbihat sebagai wujud syukur atau pujian itu bisa berlimpah-limpah kita berikan kepada anak. Kalau reward mungkin butuh materi, ya :). Jadi sebelum usia 7 tahun, jika anak sudah mulai kenal sholat, banyak2lah diberi penguatan (positive reinforcement), agar anak mencintai sholat, sehingga usia 7 tahun sudah bisa sholat tanpa disuruh. Jangan ada punishment sebelum usia 10 tahun. 7-10 tahun itu mulai kita tegaskan tentang perintah sholat. Sampaikan bahwa jika sampai usia 10 tahun anak belum sholat atas kesadaran sendiri maka orangtua diperintah untuk menghukum. Ajak anak mendiskusikannya ✅

3⃣assalamu’alaikum Mba Miftah. Saya Tyas, bunda dari Azzam 3 tahun 8 bulan. MasyaAllah, luar biasa sekali materinya 😍 Yang ingin saya tanyakan, untuk perkara beribadah, bolehkah diberlakukan juga pemberian reward? Contohnya begini Mba, sebulan ini anak saya mengaji di TPA, anak saya tipe pemalu dan butuh waktu untuk bisa berbaur dengan teman-teman dan pak uztad-nya. Kemudian, saya adakan kesepakatan dengan dia, jika dia mau mengaji dengan pak ustadz maka sepulang mengaji saya akan belikan kue untuknya. Hari itu akhirnya dia mau mengaji dengan Pak ustadznya. Pertemuan berikutnya, dia yang menagih, “Kalau aku mau ngaji, beli kue ya bun”. Kekawatiran saya, anak saya menjadi demanding dengan hadiah tiap pulang mengaji. Mohon pencerahannya 🙏🏻:)
Terima kasih. Wassalamu’alaikum.

(Tyas / Tangerang / Azzam 3thn 8 bln / RMA 4)

Jawab :

Waalaykumussalaam bunda Tyas. Pe er kita sebagai orangtua adalah kita sering terlalu cepat jump to conclusion atau jump to solution menurut kita. Masalahnya sebenarnya belum terjawab, tapi kita sudah menyimpulkan bahwa solusinya ini. Misalnya untuk kasus Azzam, apakah bunda sudah mengajak Azzam ngobrol apa yang membuat dia malu berbaur dengan teman dan ustadz? Apa yang membuat dia belum nyaman? Bagaimana agar Azzam nyaman? Ini yang sebenarnya perlu ditemukan jawabannya. Selama Azzam belum nyaman dengan teman2 dan ustadzanya, maka kuelah yang akan menjadi motivasi Azzam.✅

4⃣ Salam kenal bunda M. Jannah. Saya ingin tanya bagaimana tips dan trik supaya kita tidak mudah mengancam anak tetapi anak bisa mematuhi kita.

(Fitri, Mujahid (25mo), Sidoarjo, RMA3)

Jawab :

Salam bunda Fitri. Caranya wujudkan atau laksanakan ancaman itu, Bunda. Artinya, usahakan ngga ada ancam-mengancam dengan anak kalau kita pada akhirnya ngga menunaikan ancaman itu ya, Bunda. Kalau gertak sambel aja, akhirnya anak-anak akan meremehkan orangtua. Dan pengasuhan dengan banyak ancaman juga tidak baik untuk anak-anak kita. Bismillah kita niat memperbaiki pola komunikasi dengan anak sehingga tidak perlu ada ancaman untuk anak bisa patuh. Sebagai ganti ancaman, yuk kita biasakan membuat aqad dengan anak. Aqad bersama. Mengikat anak dan orangtua. Insya Allah ini akan lebih efektif.✅

5⃣ As-salāmu’alaykum mba Miftah.. Mau nanya untuk anak umur 2 – 3 tahun, sampai sebatas mana kita boleh menghukum mereka? Maksudnya biasanya saya kalo marah dgn diam (apakah ini boleh)
Kalo pun marah dgn merendahkan suara dan nangis… Apakah ini termasuk dlm punishment? Dan reward, kemarin2 sempet mau melakukan hal tersebut tp ada keraguan krn takutnya anak berpikir kl mau melakukan sesuatu ada imbalannya…  Apalagi anak saya sekarang suka ngomong “tidak bisa…” Padahal menurut saya dia bisa… Bolehkah reward dilakukan dr umur anak 2,5 tahun?
Terima kasih, wassalamu’alaikum

(Asti/RMA 4)

Bagaimana memarahi anak yg benar supaya tidak mengulangi lagi kesalahannya Apakah boleh mendiamkan anak ketika marah?
(Vivi, sidoarjo, RMA2)

Jawab :

Waalaykumussalaam Bunda Asti dan Bunda Vivi. Di kelas2 parenting saya banyak menemukan bahwa umumnya kita tidak terbiasa mengomunikasikan perasaan. Termasuk kepada anak. Mendiamkan anak boleh. Tapi dikomunikasikan. Sampaikan bahwa “Bunda sekarang merasa marah karena…. (sebutkan perilaku anak yang membuat marah)… Izinkan Bunda mendiamkan (sebut nama anak) karena bunda khawatir akan mengucapkan kata-kata yang tidak baik kalau bunda tetap ngomong.” Itu contoh saja. Jika anak merasa tidak bisa, tugas kita adalah membantu dia menunjukkan pada dirinya bahwa dia bisa dengan didampingi. Jika anak sudah membuktikan berikan postitive reinforcement. Tidak usah reward. Untuk kesalahan yang berulang, jika sudah buat aqad, tinggal mengingatkan aqad Bund. Dalam membuat aqad, kita sekalian buat kesepatakan konsekuensi jika terjadi pelanggaran. Konsekuensi itu pengganti punishment. Kalau konseskuensi anak sudah tahu bahwa dia akan mendapat konsekuensi jika melanggar aqad. ✅

6⃣ Assalamuallaikum mbak jannah… Langsung aja ya mbak.. Nara (21 mo) termasuk anak yg jarang dilarang buat ‘bereksperimen’ dg segala jenis bermainan. Tp hal ini justru jd bumerang buat saya krn ketika dia mulai bisa nyrempet aturan yg sdh disepakati dari awal, misalnya makan maunya sambil main, minum air kran, melempar barang selain bola. Gimana ya mbak cara untuk memberikan pemahaman ttg No/yes? Dan what should I do berkaitan dg reward dan punishment krn saya termasuk tipe ibu yg jarang melarang, lbh suka menjelaskan apa yg seharusnya

(Pipit/Semarang/Nararya/RMA 3)

Jawab :

Barokallah Bunda Pipit untuk keberhasilan menjadi ibu yang mampu tidak melarang anak. Sangat jarang yang sabar untuk tidak melarang anak.Untuk anak sebenarnya yang dimodifikasi adalah lingkungannya, Bunda. Misal: buat suasana makan di tempat yang nggak memungkinkan untuk main, jauhkan barang-barang pecah belah dari jangkauan anak, akses ke air kran dibatasi. Itu idealnya 😄 Ananda komunikasinya sudah lancar? Masukan ini untuk toddler ya. Modifikasi lingkungannya, karena mungkin komunikasi masih terbatas.✅

7⃣ Assalamu’alaikum..
Anak saya 6 tahun sekarang masih sekolah TK, sekarang di sekolah masih sejalan dg metode disiplin dirumah yaitu diluruskan jika berbuat salah, menerima  konsekuensi atas kesalahan, misal air tumpah ya dibersihkan, tapi tidak ada hukuman. Tidak ada hadiah atas perbuatan baik, namun tetap dipuji dan diberi penghargaan. Namun bbrp bulan lagi akan masuk SD yang menggunakan metode reward, yaitu diberi bintang jika melakukan kebaikan. Apakah akan efektif jika pembentukan disiplin di rumah dan di sekolah (SD) tidak sama? Terima kasih.
Note:saya berencana memberlakukan hukuman pada usia 10 tahun anak, sesuai dg perintah sholat, anak boleh dipukul (pelan) jika usia 10 thn tdk mau sholat. Mohon dikoreksi. Terima kasih.

(Mega /jakarta/salma/6 tahun/RMA4)

Jawab :

Waalaykumussalaam. Saya ikut mendoakan agar ananda sudah terbiasa sholat atas kesadaran sendiri sebelum usia 10 tahun ya, Bund. Aamiin… Memberi bintang jika melakukan kebaikan disebut token, Bund. Silakan dikonfirmasi lagi ke sekolah. Kalau memang menerapkan token economy, biasanya anak harus mengumpulkan sejumlah bintang dulu. Nanti bintang yang terkumpul bisa ditukar dengan reward. Asalkan kita senantiasa membangun dialog dengan anak tentang ikhlashul amal, tentang niat yang lurus, tentang motivasi internal, insyaAllah metode tersebut tidak mengapa, Bund.✅

8⃣ Siang Mba Jannah..mau tanya ya.. Bagaimana sebaiknya menghadapi anak yang kekeh minta ini itu padahal ortu sudah memberi pemahaman begini begitu, malah saat diberitahu si anak menangis sambil teriak2 demi sesuatu itu.
Maturnuwun 😀
👇🏾
misal anak kita mau minta mainan gtu atau pergi kemana eh ttp kekeh ngeyel pdhl udah diberi pemahaman kalau ortu sdg gak ad uang gtu mbk..
( Malika, RMA2, Keenan 9m, Semarang)

Jawab:

Halo Mba Malika. Untuk bayi 9 bulan, masih sangat bisa diberi pengalihan perhatian Mba. Karena bayi usia ini memang belum bisa diajak berkomunikasi 2 arah. Tetap semangat ya, Bun. Mari kita sama2 menyesuaikan oerlakuan kita dengan perkembangan si kecil. Jadi di usia ini bukan berarti si anak tidak mau memahami, tp memang belum bisa memahami disebabkan usianya masih terlalu dini, Bun. Semoga kita bisa menyesuaikan ekspektasi kita sesuai dgn usia dan perkembangan si kecil ya, Bun..

9⃣Bismillah.. Saya ingin bertanya, apakah reward dan punishment bisa diberlakukan juga ke kawan main anak-anak kita? Mohon maaf, terkadang ada kawan main anak yang misalnya suka merebut, suka memukul. Di awal sudah diberi rule, ttg main yg bergantian, ttg main bersama2, tdk boleh memukul, tdk boleh berebut, dsb. Tp pd kenyataannya masih saja melanggar rule. Sudah diingatkan, tapi dilanggar lagi. Dan ini adalah kawan main anak kita yg saya yakin pasti ada perbedaan dalam pola pendidikan dalam keluarganya. Terima kasih.

(widhya, tangsel, rma2, 30bulan)

Jawab :

Bentuknya bisa teguran langsung, Bund. Jadi ketika terjadi pelanggaran, ditegur saat itu juga. Lalu berikan mainan kepada yang berhak. Untuk anak-anak, memang masih kodratnya untuk diingatkan berulang-ulang, Bund. :)✅

Follow Us :

Instagram : @rumahmainanak
Facebook : Rumah Main Anak
Web : http://www.rumahmainanak.com

***

Disclaimer :
Semua materi yang di share sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

http://www.jendelakeluarga.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s