Perkembangan Kognitif Anak Usia 0-6 Tahun

Perkembangan Kognitif Anak Usia 0-2 Tahun
Hari / Tanggal : Senin / 25 Januari 2016
Pemateri : Puti Ayu Setiani, S.Psi
Peresume : Kharisma

Kognisi mengacu pada proses dan produk di dalam pikiran yang mengarahkan hingga akhirnya “mengetahui”. Hal ini mencakup semua aktivitas mental seperti menyadari, mengingat, menyimbolkan, mengkategorikan, membuat rencana, menalar, memecahkan masalah, menciptakan, dan mengimajinasi.

Menurut Piaget, dua tahun pertama kehidupan berada pada tahap sensorimotor, dimana bayi “berpikir” melalui mata, telinga, tangan, dan semua alat sensorimotornya.

👀👂✋👣👃👅
Berikut merupakan periode perkembangan kognitif bayi 0-2 tahun

🐣Lahir- 3 bulan
Tiga tahun pertama dari kehidupan bayi adalah saat dimana mereka ingin tahu. Capaian perkembangan utama pada periode ini berpusat pada eksplorasi dasar-dasar indera dan pembelajaran mengenai tubuh dan lingkungan. Pada periode ini bayi mulai bisa:
Melihat suatu benda lebih jelas dengan jarak sekitar 13 inci
Fokus kepada objek yang bergerak, termasuk wajah dari pengasuh utama
Merasakan perbedaan nada dan volume
Melihat semua warna dalam spketrum visual
Merespon lingkungannya dengan ekspresi wajah
Mulai memahami bahwa tubuhnya bisa digerakkan

🐣3-6 bulan
Di awal masa balita, kemampuan persepsi bayi masih berkembang. Dari umur 3 – 6 bulan, indera penglihatan bayi berkembang dengan kuat. Pada tahap ini, umumnya bayi mulai mampu:
Mengenali wajah yang familiar
Merespon ekspresi wajah kepada orang lain
Mengenali dan bereaksi terhadap suara yang familiar dengannya
Mulai menirukan ekspresi wajah

🐣6-9 bulan
Pada periode ini, peneliti menemukan bahwa umumnya bayi mulai dapat:
Memahami perbedaan benda hidup dan mati
Menatap lebih lama pada hal-hal “yang mereka anggap tidak mungkin”, seperti benda yang tergantung di udara
Mulai mengenali sesuatu melalui sentuhan panas, dingin, keras, atau lembut.
Menunjukkan keteguhan dengan berusaha meraih benda yang diinginkannya

🐣9-12 bulan
Pada periode ini, bayi sudah mampu untuk:
Mencari benda yang disembunyikan yang ditutupi oleh selimut, pakaian, atau ketika tangan menyembunyikan benda tersebut di dalam pakaian
Pemahaman terhadao object permanen, yaitu kesadaran bahwa benda tetap berada di tempatnya meskipun benda tersebut sudah tidak terlihat.
Menirukan gerakan dan beberapa perilaku dasar, seperti bertepuk tangan, melambaikan tangan saat diminta, dsb.
Merespon dengan gerakan tubuh dan suara, mulai mengerti kata “ya” atau “tidak”.
Mampu memanipulasi suatu objek seperti membalikkannya, meletakkan objek yang satu ke objek yang lain, dsb.
Mengerti bahwa misalnya kucing dalam bukunya, mainan kucing, dan hewan peliharaan kucing adalah kucing meski sangat berbeda.
Belajar sebab-akibat, misalnya memukul benda akan menimbulkan bunyi.
Mulai mengembangkan kemampuan problem solving.

🐣12- 18 bulan
Memahami dan mampu merespon kata.
Mampu mengidentifikasi objek yang terlihat sama.
Belajar melalui eksplorasi.
Mampu meniru secara rasional, memahami maksud yang dilakukan modelnya. Maksudnya gini misalkan pada suatu waktu seorang anak melihat ibunya hendak menuang kismis ke dalam sebuah mangkok, namun malah tercecer di meja. Di kemudian hari seorang anak berusia 18 bulan memanjat dan mengambil kismis lalu mulai menuangkannya ke dalam mangkok. Hal ini mengindikasikan bahwa anak sudah mampu menyimpulkan maksud yang dilakukan ibunya dan menggunakannya untuk mengarahkan perilaku yang ditirunya.

🐣18 bulan – 2 tahun
Pada periode ini anak mulai:
Meniru suara, mengenali benda berdasarkan namanya, dan memahami serta mengikuti dua-tiga langkah petunjuk.
Ketika menginginkan sesuatu, mereka sudah paham bahwa hal tersebut tidak hanya ditunjukkan secara verbal saja, namun mereka dapat membuat permintaan melalui gerakan tubuh, menunjuk, dan juga kata. Saat-saat ini biasanya dapat membuat frustasi baik bagi anak maupun orangtuanya.
Anak-anak memperlihatkan keinginan untuk mandiri dan mengembangkan kemampuan bantu dirinya.
Konsentrasinya meningkat. Mereka dapat mendengar suatu penjelasan mengenai suatu objek yang menariknya atau mendengarkan cerita pendek.
Mulai memahami “aku” dan “kamu”.
Mengimitasi perilaku melalui permaianan pura-pura.

❤Beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam membantu anak mengembangkan kemampuan kognitifnya :
💭Bantu bayi mempertahankan ketenangan, kesadaran perhatiannya dengan memposisikan mereka pada posisi yang nyaman, berbicara dengan tenang, dan melihat sesuatu bersama.
💭Bantu anak untuk tetap fokus dan perhatian dengan meminimalkan gangguan dan interupsi.
💭Ekspresikan minat dalam kegiatan mereka dan coba untuk memperlihatkan bahwa bunda percaya mereka mampu mencapainya.
💭Pancing rasa ingin tahunya dengan memberikan sesuatu melalui cara atau permainan baru.
💭Pancing rasa ingin tahunya dengan memperhatikan dan menanyakan hal-hal-baru, misalnya “Ayo kita lihat apa itu ya?”
💭Dukung motivasinya dengan memberikan permainan yang cukup menantang sehingga menarik minatnya namun tidak cukup sulit untuk dilakukan. Jangan lupa ekspresikan minat dan dorongan
💭Bunda juga terhadap permainan dalam permainan tersebut.
💭Dukung motivasinya dengan memperlihatkan kesenangan seperti seorang anak yang berhasil melakukan sesuatu.
💭Dukung pembelajaran melalui sensorimotornya dengan memberikan berbagai permainan model sensori yang dapat berasal dari air, pasir, tepung, bau, dsb.
💭Bantu anak mengembangkan memorinya dengan menjaga rutinitas dan pengaturan ruang.
💭Bicara pada anak mengenai hal apa  yang telah mereka lakukan di hari yang lalu.
💭Mendorong pemecahan masalah dengan tidak segera membantunya ketika mereka menghadapi masalah dengan bertanya misalnya “Wah, bolanya tidak meluncur, apa yang bisa kita lakukan ya?”
💭Berikan pilihan kepada anak agar ia dapat merasa lebih mandiri dan belajar untuk membuat keputusan (hal ini dilakukan ketika anak berusia sekitar di atas 18 bulan)
💭Seringlah bertanya kepada anak mengenai sesuatu, misal: “mengapa ya kalo di tangga kita harus berjalan pelan-pelan?” Hal ini membuat anak untuk belajar memahami sesuatu lebih baik dan memahami bagaimana lingkungannya bekerja.
💭Kunjungi tempat-tempat yang menarik agar ia langsung mengalami hal baru.
💭Berikan berbagai macam bentuk permainan.
💭Bermain dengan menggunakan alat-alat sehari-hari, disamping sangat baik untuk edukasi hal ini juga membuat nyaman kantong.

———————————

❓✔️ Tanya Jawab :
1. Asslmkm..
terkait dengan materi usia anak 18 bulan yg mulai menunjukan keinginannya untuk mandiri.
Apakah tidak apa jika kita mengambil paksa benda yg dimainkan anak, krn kita merasa bahwa apa yg dilakukan tidak baik. Misalkan saja saat sedang minum tiba2 anak menuangkan air minumnya ke gelas lain dan begitu terus bergantian sampai air minum tumpah di lantai.
Kita sudah membujuk dan memberitahu. Namun jika anak masih belum mau berhenti dan kemudian kita mengambil begitu saja apakah ada akibatnya bagi anak selain menangis. Terimakasih.
Santi oktania / Omar,19m / Magelang / RMA4

Jawab :
Wa’alaikumsalam wr.wb mba Santi
Sesuatu yang bersifat memaksa tentunya tidak baik untuk perkembangan anak ya, Mba. Usia 18bulan memang rasa ingin tahu anak semakin besar. Ia juga ingin mengeksplor banyak hal. Sayang sekaki jika kita “matikan” potrnsi dan keingintahuannya dengan paksaan dan larangan. Alangkah baiknya jika kita dpt bersikap bijak namun tetap tegas. Ketika Bunda melarang anak melakukan sesuatu, sebaiknya Bunda menyediakan solusinya. Misal, dalam hal ini Bunda bisa mengajak anak bermain ‘practical life’ dengan menyediakan 1 nampan yg di atasnya disiapkan 2 buah gelas. Biarkan anak berlatih menuang air dari satu gelas ke gelas yg lain. Usahakan tempatnya bukan di meja makan atau ruang tempat keluarga makan bersama. Agar anak dpt membedakan kapan dan di mana ia boleh bermain tuang-menuang air. Boleh diajak di luar rumah (area parkir/bagian rumah yg bukan keramik) agar tidak licin. Namun, jikapun areanya licin, Bunda bisa sekaligus simulasi ke anak untuk mengelap lantai yg basah. Permainan tuang-menuang air ini banyak manfaatnya Bun. Bisa untuk stimulasi motorik halusnya, koorfinasi mata- tangan, menguatkan otot tangan, kontrol diri, fokus&konsentrasi, juga math (konsep pembagian). Jadi, sayang sekali jika kita larang hanya karena “lantai yg basah”. Alangkah baiknya jika kita arahkan. Semangat ya, Bun 🙂

————————————

2. Assalamu’alaikum,
Anak saya usia 22m kok aktivitasnya lebih sering menggunakan tangan kiri ya, apa ga akan kidal nantinya?
Satu lagi kalo untuk mengingat sesuatu kok yg awal yg dia ingat, misalnya “potong” (bahasa sundanya patah) diajarin patah, dia akan bilang potong lagi…
gimana caranya agar dia ingat dg kosakata yg baru?
(Rifsy / Fideria,22m / Sukabumi / RMA4

Jawab :
Wa’alaikumsalam wr wb mba Risfy..
Fideria dalam hal apa saja Mba suka menggunakan tangan kirinya? Biasanya dari aktivitas seperti bermain cat air, finger painting, kita dpt mengetahui preferensi (kecendrungan) tangan anak. Anak saya yg kecil pun sampai saat ini lebih dominan menggunakan tangan kirinya. Kidal ini bisa jadi karena gen. Seperti anak saya, yg kakeknya juga kidal. Jadi, Bunda bisa cek siapakah garis keturunan ‘ke atas’ yg kidal? Tidak mengapa jika anak kita kidal. Asalkan, dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama, nikai dan norma kita tetap mengajari dan melatihnya menggunakan tangan kanan, seperti makan&minum, salaman dengan orang yg lebih tua.
Untuk pertanyaan kedua, apakah sehari-hari di rumah menggunakan bahasa Sunda? Manakah yg lebih dahulu diperkenalkan ke anak, bahasa Sunda ataukah bahasa Indonesia? Jika memang dalam keseharian anak dan lingkungannya berbahasa Sunda maka wajar jika anak masih menggunakan kata “potong” sbg kata awal yg ia kenal. Seiring dengan usianya, asalkan Ayah-Bunda konsisten dlm menerapkan penggunaan bahasa maka anak akan mengerti dengan sendirinya.
Konsisten di sini maksud saya ialah ayah konsisten berbicara dengan bahasa Sunda kepada anak. Sedangkan ibu konsisten berbicara dengan bahasa Indonesia kepada anak. Jangan keduanya (Ayah-Bunda) campur2 menggunakan 2 bahasa tersebut langsung kepada anak. Hal ini yg membuat anak menjadi bingung bahasa. Semoga bisa dipahami ya, Mba. Lengkapnya nanti kita bahas lg di perkembangan bahasa ya, Mba 😘

—————————————

3. Assalamu’alaikum wr.wb..
nama saya Ema, putri saya Diyang 24 bulan. Selama ini setiap saya #invitationtoplay setiap hari Diyang lebih banyak sudah mampu dikasih intruksi dan menjalankan meski kadang ada juga yang diabaikan. Permasalahannya.. setiap kali sedang kegiatan belajar sambil bermain Diyang masih tergoda sama ‘godaan’ yang lewat. Misal ada suara bunyi dari luar atau omnya lewat. Biasanya  ya sudah..lebih seringnya bubar jalan kegiatannya dan  susah untuk diajak melanjutkannnya.
Kalimat apa ya yang harus disampaikan pada putri saya setiap ada ‘godaan’ untuk menyelesaikan kegiatan ‘belajar’nya?
Sekian dan terimakasih 🙂
Ema / Diyang,24m / Karawang / RMA4

Jawab :
Wa’alaikumsalam wr wb Bunda Ema..
Betul Mba, ada 2 faktor yang membuat anak “terganggu” dengan aktivitas belajar (bermainnya). Ada faktor eksternal, seperti situasi dan kondisi. Apakah anak sedang lapar? Apakah anak sedang mengantuk? Apakah ada pengalih di sekitarnya yg lebih menarik saat Bunda ajak main? Misal, ada TV yg sedang menyala atau ada teman2 sebayanya yg sdg heboh di luar rumah.
Lalu, jika faktor eksternal sudah aman perhatikan juga faktor lainnya Bunda, yaitu kegiatan bermain itu sendiri. Apakah terlalu mudah untuk anak? Atau sebaliknya, apakah terlalu sulit? Anak-anak akan mudah bosan jika permainannya terlalu mudah ataupun terlalu sulit.
Jika kita ingin aktivitas kita lancar, maka pastikan semua faktor tadi sudah aman terkendali 🙂 Jikalau memang sudah terlanjur ‘tergoda’ bisa kembali Bunda buat “seru” aktivitasnya. Misal, “Wahhh..Diyang, lihat ini poni bonekanya jadi lucu karena baru setengah diguntingnya, yuk kita lanjut gunting lagi.” Jangan lupa disertai dengan ucapan, intonasi, serta gesture yg SERU dari Bunda sendiri.

Happy playing, mom Diyang 😘

—————————————
*Pertanyaan Diskusi Grup

4. Saya pernah dtg ke seminar buku anak..
disitu dijelaskan ttg pemaparan golden age pd anak & ditayangkan juga video dr pakar bernama simon goldman (klo ga slh namanya) yg menjelaskan bahwa sedari bayi, bayi sudah bisa diajarkan membaca ..
di tayangan itu juga dimunculkan video anak berusia 9/10m (Luarnegeri).. yg si ibunya memperlihatkan kartu berisikan tulisan..
dan si anak mmg bisa mbaca semua kartunya dgn benar..
tp sy juga pernah dpt info kalau anak jgn terlalu dipush dipaksa belajar sejak dini,
yg mau saya tanyakan..peran orangtua sejauh mana dlm merangsang perkembangan kognisi anak <2 thn..
apakah diperbolehkan bayi belajar membaca?
mimin s./ nay (3y2m),kay & ray (8,5m) / RMA4

Rangkuman Jawaban member RMA 4 :
# Apa yang dimaksud metode glen dolmand ya. Jadi sedari bayi anak diberi berbagai macam flash card… Metode ini diawal penemuannya memang sangat hits dan digemari. Namun, banyak juga ahli psikologi yang mengkritisi metode ini. Karena kawatir adanya overstimulated pada anak usia dini. Adapun sebagian ahli yang akhirnya memberi jalan tengah, bahwa metode flash card tetap dapat diberikan sebagai salah satu (bukan utama) stimulasi kognitif anak. Dengan tetap mempertimbangan perkembangan aspek2 lain seperti afeksi, motorik, sosialnya.
sekarangpun anggapan ttg golden age sedang dikritisi krn adanya kekawatiran overstimulasi untuk anak usia dini. Karena, di psikologi sendiri, setiap usia adalah golden age. Ada pencapaian (milestone) untuk masing2 usia 🙂 ( Asrining Tyas )

# Kalau saya pribadi menyarankan 6thn ke bawah lbh banyak distimulasi sensori-motoriknya drpd kogitifnya.
Metode flashcard ini anak bisa baca tulisan di kartu, namun belum tentu menumbuhkan minat baca pd anak. Yg kita lebih butuhkan ialah menumbuhkan minat baca pd anak, bukan anak bisa baca secepat mungkin di usia dininya.
Kalau metode Montessori bahkan pengenalan flashcard (gambar-tulisan) ini urutannya belakangan. Anak diajarkan bunyi fonem dulu, huruf dulu, merangkai kata dengan benda konkrit, baru merangkai kata dengan melihat gambar (flashcard).

Tiap anak di rentang usianya ada fitrahnya sendiri mana yg harus dikembangkan. Dan anak di bawah 6 tahun, fitrahnya sensori-motoriknya yg berkembang pesat.
Ketika kita menstimulasi sesuatu yg tdk bersesuaian dr fitrahnya, maka bisa ada yg tidak seimbang dr diri mereka 🙂

Dalam Islam pun tiap usia adalah golden age  sebenernya. Ada hal2 yg harus dikembangkan sesuai usianya. Tapi, yg membedakan, di usia dini ini anak2 lbh menyerap banyak hal yg masuk ke dlm alam bawah sadarnya. Alam bawah sadar ini dlm diri manusia perannya lbh besar drpd alam sadar itu sendiri. Inilah "spesialnya" usia dini 🙂 ( Julia Sarah )

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Follow us:
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Web : http://www.rumahmainanak.com

*** *** ***

Perkembangan Kognitif Anak Usia 2-4 tahun
Oleh Chairunnisa Rizkiah, S.Psi.

:idea:Perkembangan kognitif adalah perubahan dan kestabilan dalam kemampuan mental (mental abilities), seperti kemampuan belajar, atensi, daya ingat, bahasa, kemampuan berpikir, penalaran, dan kreativitas (Papalia, Olds, dan Feldman, 2009). Kata ‘mental’ mengacu kepada hal-hal yang berhubungan dengan pikiran. Sederhananya, perkembangan dalam aspek kognitif mencakup perkembangan kemampuan seseorang untuk berpikir, memproses informasi, serta menggunakan informasi yang sudah diperoleh.

:idea:Aspek kognitif memiliki peran yang penting dalam perilaku manusia. Kemampuan kognitif juga berhubungan dengan kedua aspek lainnya, yaitu motorik dan psikososial. Kita membutuhkan kemampuan untuk menyerap informasi dari lingkungan dan menggunakannya untuk beradaptasi. Misalnya saat belajar menaiki tangga, anak memproses informasi bahwa naik tangga itu caranya dengan satu kaki bergantian. Saat anak berinteraksi dengan teman, anak juga memproses informasi bahwa orang lain senang kalau ia mau berbagi mainan dan tidak suka kalau mainannya direbut. Pikiran seseorang juga berhubungan dengan perasaan dan perilakunya. Ketiga aspek ini biasa disebut 3P (pikiran-perasaan-perilaku). Misalnya, jika anak berpikir ia dimarahi karena berbuat salah, ia merasa sedih, lalu perilaku yang muncul adalah menangis atau menjauh dari orang lain.

:idea:Seperti halnya orang lain, anak-anak usia 2-4 tahun juga memiliki pikiran mereka sendiri. Di usia ini kemampuan berbahasa juga mulai berkembang lebih baik, sehingga mereka mulai lebih banyak mengeksplorasi dunia sekitar mereka dengan bahasa. Pertanyaan “ini apa?” sering muncul seiring bertambahnya kosakata dan kemampuan untuk memahami bahasa. Oleh karena itu, pembahasan perkembangan kognitif di sini akan mencakup perkembangan kemampuan berpikir dan bahasa. Dalam perkembangan kognitifnya, anak akan banyak belajar tentang “konsep”. Contohnya:
konsep jumlah (ada berapa banyak benda dalam kelompok benda ini?) dan angka (angka ini artinya ada berapa banyak benda?)
konsep waktu (kapan sesuatu terjadi?)
konsep urutan (apa duluan, lalu apa, lalu apa lagi? Apa yang pertama, apa yang terakhir?)
konsep warna (warna yang seperti ini namanya apa?)
Anak mulai menghubungkan informasi-informasi yang ia peroleh, lalu membuat kesimpulan. Misalnya, hewan yang kakinya empat, berekor, memiliki kumis, dan berbunyi “meong” adalah hewan kucing. Atau semua warna yang seperti itu disebut warna biru.

:idea:Secara umum, anak usia 2 tahun mulai dapat melakukan hal-hal berikut:
•Menunjuk benda atau gambar bila nama bendanya disebutkan
•Mengenali nama orang-orang, benda, dan bagian-bagian tubuh yang familiar baginya
•Berbicara dengan kalimat sederhana (2-3 kata)
•Bertanya tentang nama benda, “ini apa?”
•Mengikuti instruksi sederhana, misalnya “pakai sepatu” dan “ambilkan gelas”
•Mengulangi kata yang didengar
•Memahami arti gestur/isyarat yang familiar baginya, seperti anggukan (iya, boleh), gelengan (bukan, tidak, jangan), telapak tangan di depan (stop, tos)  
•Menunjuk gambar dalam buku yang menarik baginya
•Menemukan benda yang disembunyikan (di tempat yang tidak terlalu sulit), misalnya di bawah selimut atau di balik pintu
•Mengelompokkan benda atau gambar sederhana berdasarkan satu kesamaan, misalnya bentuk atau warna. Note: anak mungkin belum mengenal nama warnanya, tapi ia tahu bahwa warnanya sama
•Bermain peran dan permainan pura-pura (make-believe play), misalnya pura-pura mengangkat telepon, memasak, atau menaiki mobil

:idea:Sedangkan anak usia 3-4 tahun, selain bisa melakukan hal-hal di atas, juga mulai dapat melakukan hal-hal berikut:
•Berbicara dengan kalimat sederhana 3-5 kata
•Menggunakan kata ganti seperti “aku”, “kamu”, “dia”, dan “kita”
•Mengikuti instruksi bertahap, bisa 2 atau 3 tahap sekaligus. Misalnya, “pakai sepatu, ambil tas, lalu berbaris di depan pintu”
•Mulai memahami konsep jumlah dan berhitung, dengan jumlah yang terus bertambah. Anak usia 3 tahun sudah bisa menghitung jumlah benda sampai 10. Konsep “berhitung” dan “mengenal angka” itu berbeda. Anak bisa menghitung sampai 5 tapi ia tidak harus tahu bagaimana tulisan angka 5.
•Mengenal beberapa nama warna. Biasanya warna-warna dasar seperti biru, merah, dan kuning dan warna-warna yang mudah diingat namanya 
•Memahami masalah bila dikaitkan dengan diri sendiri. Misalnya, “Kalau aku dipukul, nanti sakit”
•Mengingat cerita, lagu, atau kata-kata yang pernah didengar atau ditonton, sebagian atau seluruhnya. Juga menceritakan kembali kejadian yang pernah dialami
•Memahami konsep persamaan dan perbedaan, dengan contoh benda yang konkrit. Berdasarkan pemahaman ini, anak bisa mengelompokkan benda berdasarkan kesamaannya. Misalnya “sama’sama makanan”, “sama-sama mainan”, dan “sama-sama buat masak”
•Menyusun puzzle sederhana
•Mengenali susunan kata tertentu yang sudah familiar, seperti tulisan nama panggilannya sendiri dan tulisan yang sering terlihat di rumah atau playgroup/TK tempat ia sekolah
•Mengenal beberapa huruf dan angka
•Bermain dengan imajinasi dan fantasi. Contohnya, pura-pura jadi astronot di bulan, main masak-masakan, pura-pura jadi ibu, dan lain-lain
•Memahami simbol dan artinya. Misalnya “dua” berarti ada dua benda, dan huruf “i” itu huruf yang bentuknya “i”
•Mulai memahami konsep posisi seperti “di dalam”, “di luar”, “di depan”, “di belakang”, “di sebelah/samping”, “di atas”, “di bawah”, dan “kiri-kanan”
•Bertanya dengan kata apa, siapa, kapan, mana, bagaimana (misalnya “gimana caranya?”). Pertanyaan “kenapa” mulai lebih banyak muncul menjelang usia 4 tahun
•Mengenal konsep urutan (sequence) kejadian. Contohnya kegiatan dari anak bangun tidur sampai malam, atau langkah-langkah memasak untuk membuat masakan sederhana seperti jus buah
•Mulai mengenal konsep waktu, seperti sekarang, besok, dan waktu-waktu tertentu seperti “kalau sudah pulang sekolah” dan “malam nanti”. Konsep waktu yang lampau seperti “kemarin” lebih sulit bagi anak usia ini

💡 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendampingi dan menstimulasi perkembangan kognitif anak:
1. Menyediakan sarana informasi, seperti buku, video, suara, kegiatan menjelajah lingkungan, bertemu expert, kegiatan bermain, dan bercerita bersama anak.
2. Terbuka terhadap pertanyaan “ini apa?” “Kenapa?” dan lain-lain yang akan banyak diajukan anak, dan bukan justru menyuruhnya berhenti bertanya karena “berisik”. Kalau orangtua sedang berbicara dengan orang lain atau sedang membicarakan hal lain, anak bisa diminta menunggu sebentar sampai urusan yang lain itu selesai. Anak juga bisa dimintai pendapat terlebih dulu, misalnya “menurut kamu kira-kira kenapa ya?”
3. Jawablah pertanyaan sesuai dengan apa yang orangtua ketahui saja, dan tidak perlu gengsi untuk mengakui kalau ada yang tidak diketahui. Anak malah bisa diajak mencari tahu jawabannya bersama-sama
4. Hindari membuat asosiasi antara dua hal yang bisa membuat anak salah paham, apalagi untuk mengancam anak agar menuruti orangtua. Misalnya, “kalau nangis nanti ditangkap pak polisi”, “kalau ga mau masuk nanti ada badut loh”, atau “kalau nakal nanti disuntik bu dokter”. Jangan heran kalau nanti anak malah takut datang ke dokter atau takut bertemu pak polisi 😅 Atau, gampang memberikan label “nakal”, “bandel”, “bodoh”, dan sebagainya. Akibatbya, setiap kali anak melakukan kesalahan ia akan lebih mengingat label itu daripada mengenali kesalahan dan memperbaikinya
5. Saat anak bertanya pertanyaan yang “ajaib” atau menggunakan kata-kata yang maknanya bisa berbeda/ambigu, orangtua bisa bertanya dulu untuk memastikan apa yang dimaksud anak. Misalnya anak bertanya “kenapa sih dia nakal?”, tanya dulu apa yang dimaksud anak dengan “nakal”. Kalau dengan murid saya dulu, nakal ternyata berarti “ga mau bagi-bagi makanan” #tepukjidat
6. Orangtua juga bisa mulai bertanya duluan untuk menarik perhatian anak dan memulai topik baru. Misalnya, “tadi kan kita ke kebun binatang. Adek lihat hewan apa aja?” Jadi kegiatan rekreasi bisa direview di akhir hari untuk mengetahui seberapa banyak informasi yang anak dapatkan. Kalau yang anak ingat di kebun binatang ternyata cuma “aku tadi makan es krim enak”, mungkin lain kali orangtua perlu usaha lebih keras, hehe…

Sekian materi perkembangan kognitif dari saya. Semoga bermanfaat 🙂

Referensi:
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. Human Development. 11th ed. New York: McGraw-Hill
http://www.education.com/reference/article/Ref_Cognitive/ 
https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/preschool.aspx 
http://firstyears.org/miles/chart.htm

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak 
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: http://www. rumahmainanak.com

*** *** ***

Perkembangan Kognitif Anak Usia 4-6 Tahun 
Oleh Juditha Elfaj 

Usia ini masih termasuk dalam rentang tahap pra-operasional (2 – 7 tahun), dimana kemampuan menerima rangsangan anak masih terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas. Namun, perkembangan kognitif (daya pikir) pada masa ini sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hal ini terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat. Sehingga bisa dikatakan bahwa seorang anak membangun kemampuan kognitif melalui interaksinya dengan dunia di sekitarnya.

🎈A. Pengetahuan umum dan sains 
1. Mengenal benda berdasarkan fungsi (pisau untuk memotong, pensil untuk menulis) 
2. Menggunakan benda-benda sebagai permainan simbolik (kursi sebagai mobil) 
3. Mengenal gejala sebab-akibat yang terkait dengan dirinya 
4. Mengenal konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari (gerimis, hujan, gelap, terang, temaram, dsb) 
5. Mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri 
6. Mengklasifikasikan benda berdasarkan fungsi 
7. Menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif dan menyelidik (seperti: apa yang terjadi ketika air ditumpahkan) 
8. Menyusun perencanaan kegiatan apa yang akan dilakukan 
9. Mengenal sebab-akibat tentang lingkungannya(angin bertiup menyebabkan daun bergerak, air dapat menyebabkan sesuatu menjadi basah) 
10. Menunjukkan inisiatif dalam memilih tema permainan (seperti: ayo kita bermain pura-pura seperti burung) 
11. Memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari

🎈B. Konsep bentuk, dan pola 
1. Mengklasifikasikan bentuk atau warna atau ukuran 2. Mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis atau kelompok yang berpasangan dengan 2 variasi 
3. Mengurutkan benda berdasarkan 5 seriasi ukuran atau warna 
4. Mengenal perbedaan ukuran: “lebih dari”; “kurang dari”; “paling/ter”
5. Mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran (3 variasi) 
6. Mengklasifikasikan benda yang lebih banyak kedalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis, atau kelompok berpasangan yang lebih dari 2 variasi 
7. Mengenal pola ABCD-ABCD 
8. Mengurutkan benda berdasarkan ukuran dari paling kecil ke paling besar atau sebaliknya

🎈C. Konsep bilangan, lambang bilangan dan huruf 
1. Mengetahui konsep banyak dan sedikit 
2. Membilang banyak benda satu sampai sepuluh 
3. Mengenal konsep bilangan 
4. Mengenal lambang bilangan 
5. Mengenal lambang huruf 
6. Menyebutkan lambang bilangan 1-10 
7. Mencocokkan bilangan dengan lambang bilangan 8. Mengenal berbagai macam lambang huruf vocal dan konsonan

Tahap perkembangan ini hanya panduan garis besar. Ingatlah bahwa kecepatan berkembang setiap anak berbeda-beda. Sangat penting untuk membiarkan anak untuk belajar dengan tingkat kecepatan yang nyaman bagi dirinya. Bunda dapat mendorong perkembangan si kecil dengan berbagai cara, seperti dengan memberi anak nutrisi terbaik, dengan membiarkan anak untuk menjadi mandiri, dan dengan memberi mereka kesempatan untuk belajar hal baru dengan mengalaminya sendiri.

Follow us : 
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: www.rumahmainanak.com

Disclaimer :
Semua materi yang di posting sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

http://www.jendelakeluarga.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s