Practical Life Skill

Judul materi : Practical Life Skills
Hari / Tanggal : Kamis / 28 Januari 2016
Pemateri : Julia Sarah Rangkuti
Peresume : Kharisma

Kemandirian merupakan salah satu aspek terpenting yang harus dimiliki setiap individu dan anak, karena selain dapat mempengaruhi kinerjanya, juga berfungsi untuk membantu mencapai tujuan hidupnya, prestasi, kesuksesan serta memperoleh penghargaan. Tanpa didukung oleh sifat mandiri, maka individu akan sulit untuk mencapai sesuatu secara maksimal, dan akan sulit pula baginya untuk meraih kesuksesan (Asrori, 2008: 130).

Hurlock mengatakan bahwa kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya (Hurlock 1991). Semakin dini usia anak untuk berlatih mandiri dalam melakukan tugas-tugas perkembangannya, diharapkan nilai-nilai serta keterampilan mandiri akan lebih mudah dikuasai dan dapat tertanam kuat dalam diri anak.

Kemandirian dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut berupa pemberian tugas tanpa bantuan dari orang lain. Kesempatan untuk belajar mandiri dapat diberikan orang tua atau lingkungan dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan pada anak dalam melakukan tugas-tugas perkembangannya. Peran orang tua atau lingkungan dalam mengawasi, membimbing, mengarahkan dan memberi contoh teladan tetap sangat diperlukan, agar anak tetap berada dalam kondisi atau situasi yang tidak membahayakan keselamatannya.

Bentuk kemandirian pada anak usia dini lebih berkaitan dengan hal yang bersifat fisik dan psikis. Kegiatan ini merupakan kebutuhan anak sehari-hari yang bersifat pribadi sehingga anak akan mampu melakukannya sendiri. Bagi anak usia dini, latihan kemandirian ini bisa dilakukan dengan cara melibatkan anak dalam kegiatan praktis sehari-hari di rumah, sebagai contoh melatih anak mengambil air minumnya sendiri, melatih anak untuk mencopot dan memakai sepatunya sendiri, melatih anak buang air kecil sendiri, melatih anak menyuap makanannya sendiri, melatih anak untuk naik dan turun tangga sendiri, dan sebagainya. Begitu pula kemandirian anak untuk menentukan pilihannya. Anak perlu mendapat kesempatan untuk belajar menimbang dan menentukan pilihannya. Anak akan terbiasa mengambil keputusan tanpa tergantung orang lain. Contoh memilih baju atau buku.

Peran orang tua sangat diperlukan dalam upaya pengembangan kemandirian anak. Diantaranya adalah pengembangan kemandirian melalui kegiatan yang menyenangkan, melalui ragam aktivitas bermain sambil belajar, salah satunya ialah ragam kegiatan bermain dan belajar dengan aktivitas practical life. Practical life merupakan suatu kegiatan kehidupan sehari secara langsung dalam proses pembelajaran pembekalan keterampilan hidup (life skill).

*Tujuan pengembangan Practical Life bagi anak adalah untuk (Depdiknas, 2007: 3):
1. Menyadari atau mengenal perilaku yang dikehendaki dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mentolerir adanya ragam perilaku yang mencerminkan adanya keragaman nilai.
3. Menerima perilaku yang dikehendaki dan menolak perilaku yang tidak dikehendaki, baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
4. Memilih perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang dikehendaki, misalnya disiplin, mandiri, sopan, ramah, hormat, dan menghargai orang lain.
5. Menginternalisasi nilai-nilai yang baik sebagai bagian dari kepribadian yang menuntun perilaku sehari-hari.
Berikut ini merupakan berbagai aktivitas practical life yang dapat dilakukan si kecil di rumah dengan pengawasan orang tua.

Aktivitas untuk diri pribadi, seperti makan sendiri, menuang minum sendiri, minum dari gelas sendiri, memotong kuku, mencuci muka sendiri, menggosok gigi, memasang tali sepatu, dan membuka tutup wadah.

Seringkali orang tua merasa bertambah repot jika si kecil turut membantu pekerjaan mereka di rumah. Tak sedikit pula orang tua yang melarang si kecil untuk melakukan aktivitas tersebut. Maka, jangan salahkan si kecil, jika saat besar nanti ia tak mau membantu Ayah-Bunda melakukan ragam aktivitas di rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, dan sebagainya. Melarang anak seringkali justru mematikan rasa ingin tahu anak. Orangtua juga dapat menghambat proses kemandirian anak. Saat anak diberikan kesempatan untuk mencoba, maka orangtua menumbuhkan ruang untuk percaya pada anak. Anak merasa dipercaya, dihargai, dan belajar bertanggung jawab. Oleh sebab itu, orang tua dapat memberi kesempatan pada si kecil untuk turut serta melakukan aktivitas Practicall Life Skill untuk membantu orang lain, khususnya orang tua di rumah, seperti berikut ini: mengganti seprai, menyapu lantai, membantu di dapur, membawa nampan berisi gelas, memasukkan binatang peliharaan ke dalam kandang, mencuci pakaian, mencuci kendaraan, dll.

————————

❓✔️ Tanya Jawab :
Assalaamu’alaykum..
Saraaahh.. Nanya dong 😁
Untuk life skill ini Najm (36m) bisa dibilang cukup ok, misalnya pakai baju sendiri (mulai dari usia 24m). Nah tapi dia akhir-akhir ini nggak mau pakai baju sendiri (cukup lama bahkan sudah berjalan beberapa bulan nggak mau pakai baju sendiri).

Nah pertanyaannya:
Kira-kira wajar nggak?
Dan itu nggak cuma dalam hal pakai baju tapi juga beberapa hal lain nya yang dia sudah mandiri (makan, dll)

Treatment nya gimana y? Cara ngomong yang efektif biar dia semangat lagi.

Tararengkyu sarah 😘
(Tamia/ Najm (36m)/ kalbar/ RMA4)

Jawab :
Halo ka Tamiaaa…
Saya juga baru belajar setelah terjun langsung ngajar anak2 cimit2 3-4 tahun, kalau ternyata “tahu/bisa” dan “langsung mau praktik” itu ga selalu sinkron 😅 Untuk anak yg bisa pakai baju sendiri tapi masih sering minta dibantu, berarti dari pihak orangtua/pengasuh utama yang perlu lebih dulu “tega” melepas anak. Saya sendiri lebih sering mengingatkan anak, “Kalau sudah bisa makan sendiri kan berarti sudah besar, sudah hebat, kan. Kalau sudah bisa sendiri, masa masih harus disuapin?” Karena “ga bisa” dan “ga mau” itu berbeda. Sekali dibantu, lain kali minta dibantu lagi. Bukannya orangtua jadi “jahat”, tapi ibaratnya mengajari anak naik sepeda, anak tidak akan bisa mengandalkan diri sendiri kalau sepedanya masih terus dipegangi kan…
Kalau anak punya saudara, bisa juga diajak lomba, siapa dulu ya yang lebih cepat habis makanannya. Eh tapi jangan ngebut2 juga ya 😅 Atau ibu makan bersama anak. Sambil mengobrol, makan juga jalan, anak diajak menyendok makanannya satu-satu.

Untuk memakai baju juga begitu. Beri anak batas waktu, berapa lama utk pakai baju. “Ayo, mama tunggu di luar ya. 10 menit aja pakai bajunya.” Kalau pakai sepatu saat mau berbaris keluar, murid2 saya juga diberi waktu yang cukup. Ada anak yg lamaaaa sekali pakai sepatu karena minta dibantu, padahal dia bisa pakai sendiri. Kalau teman2nya sudah banyak yg selesai, saya beri waktu sebanyak hitungan sampai 10, atau kalau belum selesai juga ditambah 10 hitungan lagi. Sambil disemangati, “ayo, ayo, pasti bisa!” Jadi lebih cepat deh karena ga mau ditinggal 😁 *bu gurunya rada ‘tega’

Apa pernah dicoba anak dibiarkan sama makanannya, ga disuapin, selama 10 menit aja? Murid saya juga ada beberapa yg nangis gerung2 heboh kalau keinginannya ga dituruti (karena udah ada aturannya dan dia juga tahu). 5 menit, udahan nangisnya. “Disuruh apa? Makan kan…bisa sendiri kan. Perlu pakai nangis ga? Kalau nangis makannya selesai ga? Ayo coba, satu suap dulu sendiri. Pasti bisa.” Anak 3 tahun sudah bisa mengerti kata2 itu bun. Mereka dgn sadar pakai strategi “nangis” kalau mau “memaksa” kok..Memang kitanya yg perlu tegas tapi tetap “cool”
Dari interaksi dgn anak di situasi2 seperti itu, saya juga belajar kalau selalu ada ruang buat anak untuk berkembang, asal orang dewasa di sekitarnya mau kasih kesempatan. 💪💪💪 Kenapa anak nangis? Alasannya beda2. Tapi dlm situasi ini, nangis itu jadi “senjata” anak supaya keinginannya dituruti. Kalau dituruti? Lain kali dia nangis lagi kalau mau minta disuapi. Ga selesai-selesai dong. Untuk selanjutnya, justru siap2nya bisa sebelum makan ya. Anak dikasih waktu untuk “pemanasan” dulu. “Nanti kan kita mau makan. Kakak makan sendiri ya. Kan sudah besar, sudah hebat. Bisa kan? Ok?” Nah itu bun yang bisa dilakukan sambil dielus kepalanya dan dipeluk 🙂
( Kiki, Tim Ahli )

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Tangerang, Juli 2015
IG @juliasarahrangkuti
FB Julia Sarah Rangkuti
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Web : http://www.rumahmainanak.com

***

Disclaimer :
Semua materi yang di share sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

http://www.jendelakeluarga.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s