Kulwap “Open Ended Play”

Resume Materi Kuliah Whatsapp Grup Rumah Main Anak 1- 4
(LIVE di RMA4)

Judul materi : Open Ended Play
Hari, tanggal : Kamis, 10 Maret 2016
Pemateri : Virginia Tanumiharjo
Peresume : Lis Lestari & Kharisma Rozita P

🙋CV Narasumber

Nama saya Virginia Tanumiharjo atau dikenal juga Nia. Saat ini saya berdomisili di Melbourne, Australia. Sekitar kurang lebih 15 tahun yang lalu saya memulai karir di bidang pendidikan, dengan fokus pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar. Saya juga meneruskan studi dan menyelesaikan master dengan specialisasi anak2 special needs. Sejak mempunyai Alex, saya berhenti bekerja dan lebih memilih untuk tinggal dirumah dan focus membesarkan anak sendiri. Sejak mempunyai Alex, beberapa tahun yang lalu lahirlah website Busylittlebunnies berikut dengan IG account @busylittlebunnies dengan harapan bisa menginspirasi banyak orang tua atau pendidik di luar sana cara bermain dengan anak yang mendidik dengan menggunakan barang-barang simple yang mudah dicari di rumah. 

Salam, 

Virginia Tanumiharjo
@busylittlebunnies

📝 Materi 📝

Apa sih yang dimaksud dengan Open Ended Play?

Permainan Open-Ended adalah sesuatu yang tidak mempunyai satu tujuan dan tidak terbatas pada satu objektif. Tidak ada aturan untuk diikuti, tidak ada ekspektasi, tidak ada masalah khusus yang harus dipecahkan, dan tidak ada tekanan untuk menghasilkan suatu produk akhir. Sebaliknya, Closed-Ended Play memiliki hasil yang ditentukan, jawaban yang tepat, dan pembatasan perbedaan individu. Beberapa contoh permainan Closed-Ended adalah puzzle, mewarnai gambar, do-a-dot, memory game, memasak. 

Permainan Open-Ended ini memberikan kebebasan kepada anak untuk bisa memilih apa yang mereka ingin lakukan, bagaimana mereka akan melakukannya, dan apa saja bahan yang mereka akan gunakan tanpa terbatas oleh aturan yang telah ditentukan.

Melalui permainan ini, mereka tidak takut untuk berbuat salah karena tidak ada suatu cara yang benar atau hasil akhir yang diharapkan dari permainan ini. Sedangkan untuk kita sebagai orang tua atau pendidik, banyak sekali yang kita dapat yaitu cara berpikir dan perkembangan mereka.

Pada umur berapakah anak bisa mulai diperkenalkan Permainan Open-Ended? 

Sekitar umur 1 tahun, anak mulai senang bereksperimen dengan barang-barang sekeliling mereka, seperti misalnya membongkar lemari dapur dan bermain-main dengan alat-alat dapur. Mereka ingin tahu apakah yang terjadi jika mereka mengaduk sendok sup di dalam panci kosong? Apa yang akan terjadi jika mereka memukul sendok sup ke dasar panci? Jika ada airnya apakah akan menghasilkan suara yang sama? Sendok sup bukan hanya berfungsi untuk mengambil / mengaduk makanan tetapi juga bisa untuk dijadikan alat musik dan sebagainya. Hal-hal yang terkadang buat kita tidak menarik, tetapi sangat menarik untuk mereka dan bisa membuat mereka berkonsentrasi cukup lama.

Apa manfaat permainan Open-Ended?

Dengan permainan Open-Ended, mereka diajak untuk meningkatkan daya imajinasi dan kemampuan berpikir secara simbolis dan abstrak. Hal ini membangun kreatifitas dan kecerdasan.

Sifat kreatif permainan Open Ended juga meningkatkan keterampilan kognitif, seperti memori kerja, flexibilitas kognitif dan self-regulation yaitu kemampuan untuk mengendalikan emosi dan perilaku, dan mengerahkan pengendalian diri dan disiplin.

Permainan Open-Ended bisa diterapkan dalamdramatic play. Mereka dapat mengembangkan kemampuan sosial dan emosional dengan kemungkinan-kemungkinan “Apakah yang terjadi bila..” yang memperkuat pemahaman mereka tentang dunia di sekitar mereka dan konsekuensi tindakan mereka. Sediakan box berisi baju-baju, balok, kertas, pena di dramatic play area, biarkan mereka memilih apa yang mereka ingin lakukan. Seandainya mereka memutuskan untuk menjadi dokter, apa saja yang diperlukan oleh dokter? Bagaimanakah cara dokter berpakaian? menggunakan barang-barang yang sudah disediakan.

Di saat yang sama, mereka juga belajar empati, bekerjasama, memecahkan masalah dan ketrampilan kepemimpinan melalui open-ended dramatic play.

Permainan Open-Ended juga memberikan peluang kepada mereka untuk mengikuti topik yang mereka sedang gemari. Secara otomatis hal ini akan membuat aktifitas belajar itu jadi lebih menyenangkan dan lebih mudah dimengerti.

Bagaimana cara memfasilitasi Permainan Open-Ended?

Untuk anak yang sering kali mereka diberitahu bagaimana melakukan sesuatu seharusnya, atau terbiasa dengan mainan yang sudah jadi atau teknologi. Kebanyakan anak membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan permainan Open-Ended. Berikanlah mereka waktu, jangan diberi tekanan. 

Biarkanlah mereka untuk observasi sekeliling. Bahkan anak lain yang sedang bermain Open-Ended, dengan beriringnya waktu, mereka akan pelan-pelan bergabung. Setiap anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang begitu besar dan imaginasi yang tidak terbatas, jadi begitu mereka mendapat stimulasi yang benar, setiap kegiatan akan mempunyai makna yang berbeda. Ide mereka akan semakin berkembang dan mereka akan menjadi semakin percaya diri.

Berikanlah mereka waktu yang banyak untuk mengeksplorasi, eksperimen, membuat dan membuat ulang. Mereka belajar banyak sekali hal baru setiap kali mereka bermain.

Apa sajakah barang-barang yang bisa digunakan untuk aktifitas Open-Ended?

Aktifitas Open Ended bisa dicapai melalui materi-materi yang sangat sederhana. Semakin kompleks dan detail jenis mainan anak, mereka cenderung akan cepat sekali bosan. Seperti contohnya memory game, saat mereka selesai mengerjakan memory game, mereka merasa sudah selesai dan tidak tahu harus bermain apa lagi.

Lego / Balok adalah salah satu contoh materi Open-Ended. Mereka bisa berimajinasi dan menbangun benda apa saja. Di foto dibawah ini, Alex membuat mesin pencabut gigi, kalung berbentuk hati, kalajengking, dan alat tembak menggunakan Zoob.

Selain itu, bahan-bahan arts / crafts seperti spidol, kertas, gunting, cat air, lem dan lain lain, juga salah satu cara yang mudah untuk memulai aktifitas Open-Ended.

Bahan-bahan alami seperti pasir, batu, kayu, rumput, bunga, daun dan lain sebagainya, sangat mudah untuk dibentuk oleh imajinasi mereka.

Di kesempatan playdate, kita juga sempat menggunakan playdoh sebagai materi open-ended.

Barang bekas seperti tutup botol, styrofoam, kayu, dan lain sebagainya juga berguna untuk menjadi materi dasar. Dengan daya imaginasi mereka dapat membangun rumah beserta jalan setapaknya, mobil, api unggun seperti gambar dibawah.

Stik kayu pun bisa dijadikan berbagai macam hal seperti pedang kesatria, gitar bintang rock, sebuah perahu di sungai, kuda koboi, dan lain-lain.

Mari ajak si kecil bermain Open-Ended yuk! Duduk bersama si kecil dan bermain bersama mereka. Biarkan imajinasi dan kreatifitas mereka mengalir. Pasti akan banyak sekali yang bisa didapat dari permainan tersebut. Selamat bermain!

Sumber: http://busylittlebunnies.com/2016/02/08/open-ended-play-date/

❓✅Tanya jawab

1⃣ Hallo mom Nia terimakasih sharingnya sebelumnya juga saya pernah mendapat tanggapan waktu ikut lomba open ended play bersama @ayomain, saya Ema ibu dari @diyangjingga 26 bulan. Saat ini kami memang selalu memberikan beberapa maianan pada display untuk waktu per minggu. Biasanya kami rotasi perubahan mainannya meski lebih banyak berujung open ended play seperti misal huruf magnetik Diyang usahakan bisa berdiri berjejer panjang *katanya bikin kereta* 😁. Apakah kita perlu selalu mendampingi anak ketika mereka open ended play atau dihampiri ketika mereka selesai bereksplorasi saat open ended play? Terimakasih mom 😘

(Ema_karawang_diyang_26m_RMA4)

Apakah permainan open ended ini kita sbg orang tua hanya mengamati saja atau kita pun bisa ikut bermain sambil menjelaskan jika ad suatu pembelajaran bwt si kecil? terima kasih 🙂

(Martha_palembang_20m_RMA1)

Jawab :
Halo Mba Ema & Mba Martha, Terimakasih untuk pertanyaannya. Senang sekali mendengar respon-nya tentang mengaplikasikan permainan open-ended dirumah.

Permainan Open Ended ini memang cenderung baik karena anak bisa betah untuk bermain lebih lama dibandingkan dengan permainan Closed Ended. Ada baiknya jika kita sebagai orang tua, mendampingi mereka ketika bermain sehingga kita bisa sekaligus untuk mengobservasi tentang pengetahuan mereka atau bahkan juga keterampilan2 tertentu yang perlu digali lebih dalam lagi.

Mendampingi bukan berarti misalnya selama 30 menit bermain lalu kita harus mendampingi terus. Tetapi mungkin sebagian waktu, kita bisa mendampingi dan duduk bersama. Kita ikutan main, tidak perlu dengan sengaja bilang sama anak, “Nak, sini deh, mama bikin gedung caranya begini.” Melainkan, kita bisa main berkreasi sendiri dan menyeletuk sendiri saja, kalau anak tertarik dia akan melihat dan otomatis memulai percakapan dengan anda.

Sering kali, seorang anak sepertinya tidak memperhatikan apa yang orang sekitarnya lakukan, tapi sebenernya percaya atau tidak, mereka observasi kita dan lingkungannya setiap saat. ✅

2⃣ Apakah jenis permainan open atau close ended play sangat mempengaruhi kepribadian anak nantinya? Dan apa open ended play cocok dengan semua anak-anak dengan karakter anak yang berbeda?

(widya_quinsha_30m_RMA4)

Jawab :
Halo Mba Widya👋🏻

Permainan Open Ended / pun Closed Ended pastinya mempengaruhi kepribadian anak nantinya.

Sewaktu anak lahir, mereka dibekali dengan rasa ingin tahu dan imajinasi yang tidak terbatas. Makanya kalau dilihat anak batita senang sekali main dengan alat-alat dapur misalnya, karena mereka sering melihat orang tuanya di dapur, mereka ingin tahu ada apa sih di dapur, sepertinya menarik sekali. Hanya kadang kita sebagai orang tua suka tidak mau repot, mencegah anak untuk bermain di dapur dengan alasan berbahaya.
Dengan memberikan permainan open-ended, mereka diberikan kebebasan itulah untuk berkreasi dan berimajinasi tanpa ada batasnya (tentunya selama itu aman).

Kalau anak hanya dibiasakan mengerjakan permainan Closed Ended saja, mereka cenderung menjadi orang yang tidak bisa melihat suatu masalah dari berbagai sisi.

Jadi sebenarnya alangkah baiknya jika kita bisa mengimbangi antara Permainan Closed – Ended dan Open-Ended. ✅

3⃣ Terima kasih mba nia atas sharing informasinya.

Sudah lama saya tertarik dengan open ended play, tapi saya sendiri adalah tipikal yg terbiasa dgn pola pikir close ended, sehingga saya ragu apakah saya bisa mengarahkan anak dlm jenis permainan ini.

Apakah jika anak yang terbiasa bermain close ended bisa di arahkan cara bermain open ended? Umur berapa paling lambat untuk mengenalkan open ended pertamakali?

(erni_jakarta_adli&asyraf_4.5 & 2 thn_RMA4)

Jawab :
Halo Mba Erni 👋🏻 Sama-sama, Mba. Saya senang bisa berbagi dan semoga bisa bermanfaat ya:)

Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengubah sesuatu yang baik, Mba. Jadi jangan menyerah. 🙂

Umumnya permainan Open-Ended bisa mulai diperkenalkan saat anak berumur 1 tahun. Untuk anak-anak yang belum terbiasa untuk bermain Open-Ended, mereka akan cenderung melihat / observasi lingkungan / kegiatannya dulu. Kuncinya adalah memberikan waktu mereka sebanyak-banyaknya untuk terbiasa dengan konsep bermain Open-Ended.

Setelah mereka mengobservasi lingkungan / kegiatan, lama-lama mereka akan mau mendekati dan mencoba kegiatan tersebut. Kita sebagai orang tua dirumah, punya satu hal yang terpenting pada saat mengenalkan kegiatan Open-Ended pada anak-anak yaitu menjadi pendengar yang baik. Tidak memberi komentar negatif atau mendorong anak untuk membuat sesuatu, karena ketika anda mendorong anak untuk membuat sesuatu… Siapakah yang mengatur sekarang? Siapakah yang mempunyai obyektif dalam kegiatan ini? Orang tua! Padahal, permainan Open Ended yang memegang kendali adalah si anak. ✅

4⃣ Dear mb virginia, untuk permainan open ended play ini, merupakan permainan yg mengasah cara berfikirnya yah? Klo untuk motorik, kasar apa halus mb? Oiya, untuk anak 1-2 tahun disarankan permainan open endednya seperti apa aja yah mb? Terimakasih

(Ayu_hafidz_12m_RMA1)

Hai mba nia, mau tanya nih.. anak saya usia 17bulan.. saat ini saya dan suami bikin jadwal main untuk setiap harinya sama anak.. khusus weekend sabtu-minggu kami open-ended play.. kalau untuk anak 17bulan kira2 sebaiknya dikasih materi apa ya mba? Karena anak saya lebih happy kalau melakukan banyak gerakan (misal lari) daripada duduk dan fokus dengan materi yg ada. Jd saat ini open-ended play selau main di halaman rumah dengan materi seadanya 😁

(Kiky_bontang_abhiysanta_17m_RMA1)

Jawab :
Hi Mba Ayu👋🏻 Dalam setiap permainan tanpa kita sadari mereka juga melatih banyak aspek tumbuh kembang mereka seperti contohnya permainan Open Ended dengan menggunakan Playdoh dan alat-alat dapur. Otomatis kreatifitas dan imaginasinya berjalan saat mereka menciptakan sesuatu. Selain itu, saat mereka menekan / menusuk2, meremas playdohnya.. Kemampuan motorik halus mereka, koordinasi mata dan tangan yg penting untuk banyak kegiatan lain dalam kehidupan mereka seperti mengancing baju, menulis dan lain sebagainya juga terstimulasi kan, Mba.

Seperti kata Mba Kiky ((Halo juga Mba Kiky👋🏻 )), anaknya suka bermain diluar rumah yang lebih ke motorik kasar.. Permainan Open Ended dengan eksplorasi di taman misalnya, banyak sekali yang bisa didapat, selain indera penciuman, peraba dan penglihatan terstimulasi. Setelahnya bisa menghasilkan banyak diskusi dari apa yg ditemukan sama anak di taman.  Begitu kira-kira, Mba Ayu.

Mba Kiky dan Mba Ayu, mainan anak untuk anak umur 1-2 tahun? Permainan Open Ended seperti memberi kertas dan alat arts and crafts; taman; sensori bins seperti air dan alat-alat yg bisa ditemukan disekitar rumah; berbagai ukuran roll tisue, dll..

Kalau anaknya engga suka di dalam rumah / cenderung suka lari2.. Open-Ended bermain dengan kumbangan air bisa juga dijadikan alternatif misalnya. ✅

5⃣  Selamat pagi mbak virginia, tim materi, dan tim pemandu. Materi pagi ini bagus sekali. Kalau saya boleh menarik kesimpulan, apakah benar kunci pada open ended play adalah membebaskan anak untuk berkreasi? Apakah ada batasan yang perlu orang tua sampaikan pada anak sebelum memulai permainan? Terima kasih.

(widhya, rma 2, tangsel, qsd_29bln)

Mba mau nanya, untuk open ended play berarti memang tdk ada kah batas waktu yg membatasi mereka bermain? Atau sampai bosan?

(Nunik, rma 2, bunda Naufal Nafis)

Jawab :
Hi Mba Widhya👋🏻 Benar sekali kuncinya memberikan anak kebebasan untuk berkreasi. Selama tidak membahayakan anak, kita tidak perlu mengatakan apapun / memberi aturan.

Hi Mba Nunik👋🏻 Permainan Open – Ended memberikan waktu sebanyak-banyaknya untuk anak mengeksplorasi. Jadi diusulkan jangan memberikan permainan Open Ended ketika anda harus pergi dalam 10 menit misalnya. Alex bisa bertahan untuk bermain Open Ended selama berjam-jam dan banyaak sekali ide yang keluar selama waktu dia bermain. ✅

6⃣ Selamat siang mb Nia…
Anak perempuan saya (3,5 thn) senang bermain open ended dan memang cenderung lebih suka main sesuai dg keinginannya, tetapi ujung2nya seringkali ‘marah2’ jika mainannya tdk sesuai dg keinginannya. Kadang kami sbg ortu ‘kewalahan’ bertanya mau dibikin apa mainannya?? Jadi kami tunggu sampai emosinya selesai, baru anak ini bisa diajak bicara. Adakah kiat2 agar anak tetap enjoy bermain dg open ended ini??

(Dina_tangerang_RMA1)

Jawab :
Selamat siang juga, Mba Dina👋🏻 Mungkin bisa didampingi ketika anak bermain, anda bisa membuat skenario sendiri.. Anda sedang mencoba membuat sesuatu misalnya tapi tidak bisa jadi sesuai yang anda mau. Anda bisa beri contoh dengan membuat percakapan sendiri,”eh.. Bangunan mama agak miring lantai atasnya.. Hm.. Mama harus apain ya? Hm.. Mungkin tambah blok satu lagi jadi seimbang”.

Terkadang dengan sering melihat bahwa tidak setiap kali semua berjalan mulus / punya hasil yang perfek, dan semua itu enggak apa-apa. Semua itu proses belajar.

Kalau anaknya suka membaca buku, mungkin ada baiknya dibacakan buku tentang “sesuatu tidak harus perfek”. Dan juga memberi komentar dengan diawali empati terhadap situasi anak, “Mama tahu kamu kesal sekali karena bangunan kamu tidak sesuai dengan yang kamu mau, mari kita coba bangun bersama lagi..” ✅

7⃣ Apakah dalam open-ended play kita cukup memfasilitasi anak, misal kita siapkn gunting, kertas warna warni, lem, dll…trus kita brain anak mau buat apa saja terserah mereka? Ato tetap kita beri contoh cara menempel misalkan dll…. Masih blum ada ide sih.
Contoh open ended play buat anak 2y8m…?
Trimaksh..

(Ummu Mariyah, Makasaar, RMA2, Mariyah 2y8m)

Jawab :
Hi Mba Ummu Mariyah, salam kenal ya. Dalam permainan Open Ended, kita memang diharapkan untuk memfasilitasi saja. Memberi contoh secara tidak langsung yaitu dengan kita ikutan bermain bersama mereka, mungkin kita bisa membuat roket dengan menggunting pola-pola tertentu dan menaruh lem dengan cara mengoles lem-nya disekeliling kertas pola supaya ketika ditempel nanti, pola tersebut tidak lepas. Anak akan secara tidak langsung akan memperhatikan cara-cara tersebut. Tetapi biarkanlah mereka eksperimen sendiri, kalau aku menaruh lem-nya hanya setitik untuk kertas besar, apakah akan menempel juga? Dari eksperimen-eksperimen seperti inilah anak belajar sendiri, kalau tidak menempel mungkin lain kali dia harus memberi lem lebih banyak, dan seterusnya.  Permainan Open Ended untuk anak sekitar 2 tahun ada banyak sekali, beberapa contohnya yaitu misalnya membuat seni dengan menggunakan barang-barang bekas (recycled); bermain dengan kardus kosong dan alat tulis seperti spidol / krayon, dsb; bermain dengan air menggunakan barang-barang yang bisa ditemukan dirumah seperti sendok nasi, panci, saringan, botol, dsb; bermain seni dengan diberi potongan-potongan bentuk.  ✅

8⃣ Bagaimana jika ketika kita sudah mnyediakan bahan open ended play, misalnya balok/lego tapi si anak malah menggunakannya untuk melempar-lempar bukan membentuk sesuatu. Apakah boleh kita beri contoh dulu? Atau ya biarkan sja sampai si anak menemukan kreativitas dan imajinasinya?
Terima kasih atas jawabannya

(Ganda, Ummu izzuddin 23bln-Fathan 8bln, RMA3)

Bagaimana apabila qt sudah mengajari anak bermain open ended seperti lego  ternyata yang diajari tidak tertarik sama sekali malah tertarik untuk menjadikanny mainan lain seperti digunakan untuk mandi lego..alias dimasukkan ke bak besar lalu anak saya masuk kesitu dan melempar2xkannya ke udara seperti mandi bola.kalaupun saya sudah membentuk lego..bentuk yang sudah saya buat akan dirusak.trimksi

(Widowati,zaki 2 tahun 5 bulan,RMA3)

Jawab :
Hi Mba Ganda dan Mba Widowati, salam kenal. Melempar barang adalah keterampilan baru dan menyenangkan bagi anak usia batita. Saat memegang sebuah obyek dibutuhkan keterampilan motor halus dan koordinasi mata-tangan untuk membuka jari dan melepaskan sebuah obyek apalagi untuk melemparnya. Tidak heran mereka ingin berlatih keterampilan ini! Selain itu, mereka juga menemukan hal lain yang menarik dan berpikir dalam hati, kenapa apa pun yang dia lempar, ujung-ujungnya jatuh? Tentu saja mereka tidak akan jawab karena gravitasi tapi mereka memperhatikan efek dari hal yang mereka kerjakan. Sama halnya dengan merusak blok yang sudah dibangun, ini merupakan fase yang sama dengan melempar barang. Selain memberi contoh bahwa blok Lego hanya untuk membangun, mungkin bisa juga anda katakan, “Blok untuk membuat / membangun sesuatu.” lalu bisa berikan bola / beanbags jika si anak mau melempar-lempar.  Tujuannya adalah untuk menyampaikan pesan kepada mereka bahwa melempar boleh tapi dengan barang dan tempat yang benar seperti bola basket dilempar ke gawang basket. ✅

9⃣ Mba nia, seneng banget saya sama penjelasan open endednya😍
Yang ingin saya tanyakan, dalam jadwal bermain bebas biasanya saya sediakan mainan bebas untuk anak-anak. 2 anak saya perempuan dan 1 sepupu seusianya laki2. Sulung saya terlihat masih ‘ogah2an’ untuk bermain. Sedang 2 anak yang lainnya dengan mudah berkreasi, langsung main. Apalagi sepupunya, langsung jalan insting kreasinya. Sampai2 saya berpikir kenapa anak saya yang notabene rajin saya stimulus kasih mainan koq malah gamau, tapi sepupunya yang bundanya ga pernah kasih stimulus malah semangat ya? Huhu. Sedih euy. Tapi kalo di rumah biasanya dia lebih suka eksplor sendiri kalo semisal saya blm siap menemaninya karena sdg menemani adik babynya. Cari cairan di kulkas buat dituang2, main alat n bahan2 dapur, atau main peran sama adiknya. Apalagi sama lego dan mainan building lainnya. Beda dg adik dan sepupunya. Nah, ini kenapa ya mba nia? Apakah daya kreasi otak kanannya kurang??? Atau bagaimana??? Apa yang harus saya lakukan?

(Puji_tangerang_fathinah 3y9m, tsabita 2y3m_rma1)

Jawab :
Hi Mba Puji, Salam kenal ya. Setiap anak berbeda dan mempunyai waktunya sendiri, Mba. Jadi tidak perlu bersedih ya, Mba. Seperti contoh misalnya, minggu ini untuk permainan Open-Ended saya sediakan blok kayu, ranting-ranting, daun dan benang warna warni. Hari pertama dan keempat, si anak terlihat sibuk sekali bermain menggunakan ranting-ranting dan benang warna warni. Lalu di hari ketujuh, tiba-tiba dia hanya mau bermain dengan blok, ranting dan daun saja. Hal ini wajar adanya karena mereka punya rencana sendiri dikepalanya atas apa yang mau mereka buat dan eksplorasi. Tidak jarang juga ada yang berbulan-bulan, hanya mau eksplorasi bahan yang sama terus. Kalau saya baca dari pertanyaan Mba diatas, dia suka bermain bebas dengan pilihan dia sendiri. Pada awalnya, mungkin bisa menyediakan permainan dengan menggunakan beberapa materi yang dia sukai. ✅

🔟 Salam mbak Nia, salam kenal… sepertinya seru sekali Playdate bertema Open Ended Play. Bisa diceritakan kah keseruan playdate nya? apakah dibagi sesuai usia anak2 dengan bahan2 bermain tertentu? dan hasil playdatenya bagaimana? terima kasih

(Lidya, Sidoarjo, Azka 3y9m, RMA 1)

Jawab :
Hi Mba Lidya, salam kenal juga. Seru sekali playdate Open Ended kemarin. Sangat kagum pada semangat para orang tua untuk belajar memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Selain menjelaskan teori tentang Open-Ended Play, mereka juga bisa secara langsung melihat dan ikutan main menggunakan materi-materi Open-Ended Play yang tentunya sangat mudah ditemui di sekeliling rumah. Kebetulan pada saat playdate, aku membebaskan mereka untuk memilih sendiri area bermainnya, ada Playdoh dan alat-alat dapur; mengecat menggunakan cat buatan sendiri; bermain air dengan menggunakan botol-botol bekas; dan menciptakan sesuatu dengan barang-barang bekas dan daun-daun sekaligus ranting-ranting pohon. Walaupun udara begitu panasnya hari itu, tetapi anak-anak tersebut tetap semangat sekali bermain di berbagai area. Semenjak playdate Open Ended tersebut, banyak sekali orang tua yang berbagi cerita melihat perubahan pada anaknya. ✅

1⃣1⃣ Nara 20 mo, suka banget eksplorasi, tangannya sibuk banget, ada aja yg dipegang, diremas, dilempar, macem-macem deh. Lbh suka eksplorasi ke alam lgsg, misalnya tanah, air, daun, pasir. Mohon sarannya, bagaimana memaksimalkan kegiatan eksplorasinya biar lbh bermakna? Biar mainnya tdk sekedar main-main. Makasih

(Pipit, Semarang, RMA3)

Jawab :
Salam kenal untuk Mba Pipit dan Nara 🙂 Wah, Nara benar-benar menggunakan masa-masa golden age-nya dengan baik sepertinya yah, Mba. Mereka menggunakan semua sensorinya untuk mencoba mengerti lingkungan sekitar mereka. Mungkin untuk Mba, dia hanya sekedar bermain saja, tetapi sebenernya banyak sekali yang sedang diproses oleh syaraf-syaraf di otaknya. Sebagai contoh, saat dia meremas daun, menghasilkan suara yang berbeda dengan jika dia meremas tanah. Selagi dia mengeksplorasi di taman, mungkin bisa diberi kaca pembesar untuk dia bisa melihat barang-barang dengan lebih jelas; kemudian hari berikutnya bisa saja diberikan sekop, ember, botol untuk dia bermain bersama tanah / pasir misalnya. Jadi hari demi hari bisa diberi berbagai macam alat untuk bisa mengembangkan kesukaan dia bermain di luar. ✅

1⃣2⃣ Apakah dlm open ended play kita tdk boleh mengarahkan/ menbetulkan apa yg dilakukan anak?Misalnya “nak, baiknya raket ini utk pukul bola bkn diayun2 kenceng. Nanti kl diayun gitu bisa kena adek”. Makasih

(Cici_malang_dhipa (2th) byakta (7bln)

Jawab :
Terimakasih untuk pertanyaannya, Mba Cici. Salam kenal. Selama dalam batas aman, kita usahakan untuk memfasilitasi permainan Open Ended mereka. Seperti yang saya bilang sebelumnya, permainan Open-Ended memberikan kebebasan untuk anak berkreasi dan mengembangkan imajinasi mereka. Ketika kita melihat mereka membangun roket misalnya, tetapi roket yang ini hanya ada satu booster, lalu banyak pintu dan tidak ada astronotnya; alangkah baiknya jika kita tidak langsung menegur anak / memberi komentar seperti “Nak, kamu bikin apa? Masa bikin roket, kok booster cuma satu? Astronot yang setir roketnya mana?” Mengapa saya katakan untuk tidak menegur / memberi komentar seperti itu? Bermain adalah proses belajar untuk mereka, proses untuk mengamati dan belajar trial error. Cara lain memfasilitasi proses belajar anak adalah dengan membawa mereka ke museum transportasi misalnya / membaca buku tentang roket, dan lain lain. Dari situ mereka akan dengan sendirinya mencoba mengerti lagi informasi baru yang mereka dapat, dan membuat sesuatu jauh lebih details. Selain itu, sering kali anak mempunyai sudut pandang yang sering kali kita tidak melihatnya. Jadi hargailah hasil karya anak seperti apapun itu bentuknya.

Dalam skenario raket ini, aku setuju untuk mengatakan kepada anak bahwa raket untuk memukul bola, dan menjelaskan kenapa tidak untuk diayun. ✅

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Follow us :
🔺Instagram : @rumahmainanak 
🔺Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
🔺Blog: www.rumahmainanak.com
〰〰〰〰〰〰〰

***

Disclaimer :
Semua materi yang di share sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

http://www.jendelakeluarga.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s