Separation Anxienty

image
Source : Google

📚Resume Materi Kuliah Whatsapp Grup Rumah main Anak 4📚

Hari/tanggal : Selasa, 17 Mei 2016
Tema : Separation Anxiety
Narasumber : Dewi Kumalasari
Peresume : Lis Lestari

📝 Materi

‘Duh anakku nih ya, ga bisa ditinggal barang sebentaar aja..sampai-sampai ke toilet juga aku ajak’
‘anakku tiap aku berangkat kerja pasti jejeritan nih, jadinya sekarang aku ngumpet-ngumpet kalo berangkat kerja’

Sounds familiar? Mungkin dua contoh diatas juga beberapa dari kita alami saat si kecil masih berusia dibawah 5 tahun.

Sebenernyaa, apa sih yang terjadi sampai-sampai si kecil benar-benar tidak ingin berpisah dari ibu atau caregivernya?

Ok kita bahas yaa.. kondisi diatas adalah contoh adanya separation anxiety (SA) yang dialami anak. Apa itu SA? Separation Anxiety (SA) atau bisa juga diterjemahkan sebagai kecemasan akan perpisahan merujuk pada tahapan perkembangan dimana anak mengalami kecemasan yang bersumber dari perpisahan dengan caregiver utamanya (biasanya Ibu). SA adalah hal yang normal pada anak yang sangat muda (biasanya usia antara 8 hingga 14 bulan) dan akan berakhir biasanya saat anak berusia sekitar 2 tahun, ketika balita mulai memahami bahwa orang tua mereka mungkin ada tapi tidak terlihat oleh mereka, namun orang tua akan kembali lagi.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa sih yang menyebabkan munculnya si SA ini?
Bayi mengalami berbagai emosi seiring dengan perkembangannya. Sebelum usia 8 bulan, mereka hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang apa yang biasa dan apa yang membahayakan mereka, sehingga situasi atau pengalaman baru tidak menakutkan bagi mereka. Itulah mengapa bayi dibawah 8 bulan biasanya mau digendong oleh siapa saja. Sebaliknya, pada usia 8 bulan dan setelahnya, anak sudah mengenal apa yang biasa dan tidak biasa bagi mereka sehingga ketika mereka bersama dengan orang yang ‘tidak biasa’ bagi mereka, mereka akan merasa cemas.

Pada perkembangan normal, masa-masa awal ini mencakup pembentukan rasa familiar dengan lingkungan rumah, dan merasa aman ketika orang tua atau caregiver lain ada di dekat mereka. Anak menyadari orang tua mereka sebagai sosok yang familiar dan memberikan rasa aman.

Ketika terpisah dari orang tua, mereka merasa terancam dan tidak aman. Perasaan ini biasanya sangat kuat ketika anak berusia 8 hingga 14 bulan.

Meskipun anak telah berhasil melalui tahapan perkembangan ini, SA bisa kembali terjadi saat anak berada pada situasi yang baru. Kebanyakan anak akan mengalami SA dengan derajat tertentu ketika berada pada situasi yang tidak familiar, khususnya saat berpisah dengan orang tua mereka. Ketika anak berada pada situasi (seperti rumah sakit) dan mengalami tekanan (misalnya sakit), mereka mencari rasa aman, nyaman dan perlindungan dari orang tua mereka. Ketika orang tua tidak bisa mendampingi anak pada situasi tersebut, anak akan mengalami suatu kondisi yang disebut distress. Itulah mengapa penting untuk mendampingi anak-anak selama prosedur medis.

Meskipun SA adalah hal yang normal, ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir SA. Kita akan bagi pembahasan ke dalam rentang usia terjadinya SA

1.Awal kemunculan: Masa bayi.
Meskipun waktu kemunculannya berbeda-beda antara anak yang satu dengan anak yang lain, SA biasanya muncul pertama kali pada usia 8 bulan, ketika bayi mulai memahami bahwa orang tua mereka terpisah dari mereka. Sayangnya, mereka belum memahami bahwa orang tua mereka akan kembali. Kecemasan ini bisa terjadi selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan, sampai anak menyadari bahwa orang tua tidak meninggalkan mereka,

Lantas, bagaimana membantu anak melewati masa-masa ini?
➡Perkenalkan dengan sosok lain selain orang tua
Sejak usia 6 bulan, perkenalkan bayi dengan caregiver yang lain, seperti saudara atau pengasuh. Ada baiknya sedikit demi sedikit paparkan anak dengan orang lain selain orang tuanya, biarkan orang lain tersebut memegang dan berbicara dengan si kecil. Pengalaman ini akan meminimalisir kecemasannya ketika kita sedang tidak berada di dekatnya

➡Berpamitan dengan anak
Ketika kita ingin pergi meninggalkan anak, berpamitanlah padanya. Bagaimanapun responnya kita tetap harus berpamitan padanya. Jika dia menangis, usahakan jangan kembali. Jika kita kembali, anak akan belajar bahwa tangisannya dapat mengembalikan orang tuanya dan kelak dia akan menangis lebih keras ketika anda akan pergi.

➡Sesuaikan bahasa tubuh dengan kata-kata
Anak sangat peka dengan bahasa tubuh orang tuanya. Jika kita meninggalkan anak dengan perasaan yakin, ekspresi ceria, anak akan merasa bahwa kita merasa aman meninggalkan anak bersama orang lain sehingga ia pun akan merasakan hal yang sama.

➡Hindari pergi diam-diam
Untuk menghindari tangisan, orang tua seringkali meninggalkan anak ketika anak sedang tidak melihatnya, misalnya saat anak dialihkan pada hal lain dsb. Hal ini berbahaya karena sama saja dengan menipu anak dan dapat menghancurkan kepercayaan anak terhadap orang tuanya. Hal ini dapat disiasati dengan meminta pengasuh untuk mengalihkan perhatian anak tepat setelah anda pergi dengan mainan favoritnya, permainan cilukba atau musik yang disukai anak.

2.Puncak: Usia toddler
Untuk beberapa anak, SA menghilang sebelum masa balita, namun bagi anak lain SA justru memuncak antara usia 12 hingga 24 bulan dan lebih berpotensi menimbulkan stress pada anak. Pada usia ini, anak tahu bahwa orang tua akan kembali, namun mereka lebih suka orang tua ada di sisinya, dan karena mereka juga tahu bahwa tangisan mereka akan membuat orang tua mereka kembali, mereka akan menangis, menjerit atau bahkan tantrum untuk membuat orang tuanya kembali

Lantas, bagaimana membantu anak melewati masa-masa ini?
➡Bangun ritual berpamitan
Ritual berpamitan penting untuk dibangun agar mempermudah menyiapkan anak menghadapi saat perpisahan dengan orang tua. Sebagai contoh,kapanpun anda akan meninggalkan anak anda di daycare, berikan dua kali ciuman dan tos atau salim. Ritual ini dapat menciptakan urutan perpisahan bagi anak dan orang tua serta memberikan rasa aman.

➡Berikan anak tugas kecil
Misalnya ketika kita hendak pergi, kita bisa menugaskan anak untuk menutup pintu saat mama sudah pergi. Tanggung jawab kecil ini akan membuat proses transisi menjadi lebih mudah. Strategi ini juga bisa berguna pada anak yang merasa cemas saat kita harus meninggalkan ruangan. Misalnya jika kita ingin mengangkat jemuran, kita bisa memberikan baju untuk dilipat anak.

➡Berikan estimasi waktu
Penting pula memberikan gambaran kapan kiranya orang tua akan kembali. Meskipun anak pada usia ini belum mamahami makna satuan waktu (misalnya tiga jam), namun kita bisa berkata ‘mama akan kembali setelah makan siang’ dan segeralah kembali sesuai dengan waktu yang kita janjikan.

3.Kambuh: usia prasekolah
Bagi orang tua, ini mungkin bentuk yang paling melelahkan dari SA. Saat kita pikir bahwa anak mulai mengembangkan kemandiriannya, tantrum dan tangisan kembali, biasanya pada situasi-situasi baru yang dialami anak misalnya kehadiran adik, penyesuaian diri dengan sekolah atau pindah rumah. Untungnya, SA kambuh biasanya hanya beberapa minggu. Pada kasus anak mulai sekolah, ia tahu bahwa ibunya akan kembali namun ia merasa tidak aman tanpa ibunya.
Munculnya SA saat anak mulai bersekolah adalah hal yang wajar karena tiba-tiba anak berada pada tempat yang tidak familiar dan tidak tahu siapa yang dapat dipercayainya, ia juga harus membagi perhatian guru dengan seluruh anak di kelas itu. Sehingga tidak heran mereka merasa kebingungan dan cemas

Lantas, bagaimana membantu anak melewati masa-masa ini?
➡Biarkan anak merasa bahwa merasa cemas bukanlah masalah.
Kita bisa mengatakan padanya ‘mama tahu kakak cemas. Yuk kita pikirkan waktu-waktu pas kakak takut tapi kakak bisa melewatinya. Ingat ga waktu kita pertama berenang? Dengan berbicara seperti itu, kita membantu menunjukkan pada anak bahwa perasaannya adalah hal yang normal dan bisa dikendalikannya

➡Jangan menyerah
Anak usia prasekolah yang mengalami SA biasanya juga mengalami kemunduran pada hal-hal lain seperti kembali mengempeng atau kembali ingin tidur bersama mama. Jika kita merasa lelah atau bosan, bisa saja kita melonggarkan aturan yang sudah dibuat, namun kemungkinan akan lebih sulit untuk mengubahnya kembali. Oleh karenanya, alih-alih mengembalikan kebiasaan lama, akan lebih baik apabila kita berikan pelukan dan ciuman ekstra pada anak saat mengalami fase SA ini lagi.

Selain beberapa hal yang bisa kita lakukan diatas, ada hal penting yang juga tak boleh luput agar anak bisa mengatasi perasaan separation anxiety-nya dengan sehat, yaitu framing kita terhadap kondisi perpisahan ibu dan anak. Tanamkan pada anak bahwa berpisah dengan orang tua adalah hal yang wajar untuk anak yang sudah semakin besar, dan hal yang biasa karena orang tua akan kembali. Sebaliknya, jika orang tua sering memberikan ancaman berupa kepergian orang tua, seperti ‘Mama tinggal nih’ atau ‘Mama pergi aja deh kalo kakak kayak gitu’, secara tidak sadar orang tua sedang menanamkan bahwa berpisah dengan orang tua adalah hukuman, maka boleh jadi di kemudian hari ia tidak akan pernah mau berpisah dengan ibunya sehingga lebih sulit untuk membantunya mengatasi SA yang dialaminya. Semoga bermanfaat!

Sumber:
http://www.parenting.com/article/separation-anxiety-age-by-age
https://www.psychologytoday.com/conditions/separation-anxiety
http://www.webmd.com/children/guide/separation-anxiety

❓✅ Tanya Jawab

1⃣ Assallamualaikum bunda
untuk anak 3tahun yg belum pernah berpisah lama dari orangtuanya.. kira2 tips apa ya yg bisa dilakukan untuk membuat anak nyaman dititipkan ke kakek neneknya untuk beberapa waktu..

vivin,  lutfan (35 bln), Purworejo, RMA4

Jawab :

‘Alaykumussalam wrb bunda vivin.. kalau boleh tau utk berapa lama ya dititipkannya dan karena apa? Jika akan dititipkan dlm waktu yg agak lama tentunya perlu sounding terlebih dahulu, dalam arti memberitahu si kecil bahwa nanti ia akan bersama kakek nenek utk sementara waktu karena ayah bundanya ada keperluan yg tdk mungkin mengikutsertakannya

Perlu juga untuk membiasakan si kecil bermain dengan kakek neneknya sebelum waktu menitipkannya tiba agar si kecil sudah familiar dan tidak merasa asing

Penting pula diperhatikan terkait dg kebiasaan2 si kecil yg perlu dikomunikasikan dg kakek nenek agar si kecil tetap merasa nyaman

Jika perlu, kita bisa memberikan reward pada si kecil ketika ia setuju utk bersama kakek dan nenek sebagai bentuk apresiasi bahwa ia mau diajak bekerja sama.

Semoga bermanfaat 🙂 ✅

2⃣ Menarik sekali topiknya bunda ☺ kebetulan anak sy msh 16m, dan sy rasakan masih dalam kondisi SA ini, hanya saja, kepada perempuan dewasa, amira lebih open, tapi kepada laki2 dewasa yg jarang ditemui, amira ga mau dideketi bahkan kadang nangis, gimana cara pendekatan ke amira y bun?
gimana kata2 seharusnya ke amira?

zulfah, bunda amira (16m), RMA4

Jawab :

Dear bunda zulfa, wajar kok bund jika amira seperti itu. Selama ini pria dewasa siapa saja yg sering berinteraksi dengannya? Utk seusia amira yg terpenting ia merasa nyaman dg orang2 terdekatnya dahulu. Utk orang asing, kita berikan saja contoh bgmn berinteraksi dg org asing. Jika ia melihat kita nyaman dg org asing, insya Allah ia pun akan lebih mudah merasa aman dg org asing tsb. Kita bisa memperkenalkan org asing sbg teman ayah/bunda. Perlahan keterampilan sosialisasinya akan meningkat seiring dg pertambahan usia dan mencontoh org tuanya. Semoga bermanfaat 🙂 ✅

3⃣ Assalamualaikum..bunda, anak saya 10bln..sejak 8 bln dia memang tdk mau diajak siapapun selain saya ibunya,  dan hari ini saya baru tau kalau itu namanya separation anxiety dan memang ada ilmunya 😄😄
yg mau saya tanyakan, bagaimana caranya untuk mengurangi SA tsb pada anak usia 10bln dan apabila saya mencoba meninggalkan dia dgn pengasuh lain seperti nenek atau kakeknya sedangkan dia menangis apakah tdk akan bermasalah dgn psikologinya?
Terimakasih :):)

Ingritadewi/kediri/faiz 10bln

Jawab :

‘Alaykumussalam wrb bunda ingrita
Anak menangis saat awal2 ditinggalkan adalah hal yang wajar, yg paling penting jgn pernah meninggalkannya secara sembunyi-sembunyi.
Sebelum kita meninggalkannya bersama pengasuh lain, akan sangat baik bila kita mengkomunikasikannya terlebih dahulu. Misalnya dg berkata ‘nanti adek main sama mbak ya, bundanya kerja dulu’.
Jika perlu kita bisa menyibukkannya dg aktivitas yg disukainya ketika kita akan pergi sehingga sumber kenyamanannya beralih dari kita menjadi aktivitas tsb.
Jika ia tetap menangis, tidak apa tetap meninggalkannya dg berpamitan dulu. Saat berpamitan, sampaikan bahwa bunda menyayanginya, tp bunda harus pergi dan akan kembali (sebutkan waktunya). Perlahan anak akan mengerti bahwa ketika bunda pergi, itu adalah sementara dan akan kembali lagi.
Semoga bermanfaat 🙂 ✅

4⃣ Assalamu’alaikum.. selamat pagi. Terkait dengan materi hari ini yang ingin saya tanyakan apa imbasnya jika anak ditinggal begitu saja ketika anak ingin ditungguin dan dalam keadaan menangis? Misalkan saja saat pertama kali masuk sekolah. Biasanya banyak ibu2 yg bekerja sehingga tidak bjsa menunggui anaknya, lalu pada hari pertama sekolah mereka terpaksa meninggalkan anaknya sekolah. Sedangkan ketika ditinggal anak tersebut tidak mau. Namun ditinggal begitu saja meski si anak menangis atau marah hingga mengamuk. Itu saja.

Santi oktania,omar(23bulan)RMA4

Jawab :

‘Alaykumussalam wrb.
Kalau ditinggal begitu saja tentu anak akan merasa tidak nyaman. Khusus utk hr pertama sekolah, sebisa mungkin si kecil didampingi jika ia menginginkannya. Mengapa? Krn masuk sekolah adalah transisi yang besar bagi si kecil, dimana ia harus berada di lingkungan baru dan berinteraksi dengan buanyak orang baru, baik yg sebaya ataupun lebih tua. Nah, disini yg pertama kali perlu dibangun adalah rasa nyaman anak thd sekolah, bahwa sekolah adalah tempat yg aman dan menyenangkan baginya.

Jika kenyamanan ini gagal dibentuk di awal2 masa sekolah, bukan tidak mungkin si kecil akan tidak menyukai aktivitas bersekolah yang manifestasinya bisa macam2 seperti muntah, mogok sekolah atau menjadi rebel.

Nah, kenyamanan thd sekolah dibangun oleh dua pihak, yaitu ortu dan sekolah. Bagaimana caranya? Dengan memberikan framing yg positif ttg sekolah, misalnya dg membacakan cerita ttg anak yg suka bersekolah (bagi ortu) ataupun melalui aktivitas2 yg menyenangkan di sekolah (bagi sekolah).

Akan sangat baik juga utk membangun komunikasi dg pihak sekolah ttg perkembangan anak, misalnya hari ini menangis berapa menit, hari selanjutnya berapa menit dsb agar kita bisa mengetahui sejauh mana anak sudah merasa nyaman dg sekolahnya. Semoga bermanfaat 🙂 ✅

5⃣ Anak saya usia 14,5 bln. Dari kecil memang sudah saya kenalkan kepada anggota keluarga lain. jadi kalau misalkan saya tinggal pergi (utk beberapa jam), dan saya titipkan ke neneknya, dia tidak nangis sama sekali dan terkesan tidak terlalu peduli 😅 tapi kalau misalkan sudah kembali ke rumah kami, dia jadi sangat rewel kalau saya tinggal sebentar padahal cuma ke dapur dan itu masih dalam penglihatannya. Apalagi kalau saya ke toilet, bisa nangis sambil gedor2 pintu. Kenapa bisa beda antara di rumah kami dan di tempat neneknya ya?

Addini / Bekasi/ 14,5m/ RMA 4

jawab :

Dear bunda Addini..
Mungkin si kecil tipe yang ingin terus ditemani. Jika bunda tinggal di rumah kakek/nenek, meskipun bunda pergi masih ada org lain yg menemaninya. Sedangkan jika di rumah yg hanya berdua saja, ia merasa khawatir jika bunda meninggalkannya karena tidak ada org lain yg menemaninya. Yg bisa dilakukan adalah dengan selalu mengajaknya berbicara, misalnya saat kita di dapur, kita bisa sambil mengajaknya ngobrol atau bernyanyi sehingga ia merasa bahwa bunda tetap ada meskipun diluar jangkauan penglihatannya. Semoga bermanfaat 🙂 ✅

6⃣ Kebetulan anak saya dari usia 6 bulan sudah mengalami SA ini..memang kami merantau ke tangerang jd jauh dari sanak sodara dan orang tua..
Tapi untuk sosialisasi dengan tetangga sekitar rumah sudah dilakukan..tapi hingga sekarang 32 bulan masih terjadi SA ini..
Bahkan sama ayahny tetap menangis mencari saya  ketika tidak ada disebelahnya..
Bagaimana mengenalkan anak dengan sosok selain orang tua ketika sudah diajak sosialisasi dengan lingkungan sekitar tapi masih belum berhasil?

Widya RMA4-tangerang-Quinsha,32 bulan

Jawab :

Dear bunda widya, SA terjadi utamanya adalah krn belum muncul rasa aman. Jika SA terjadi dg sang ayah, cb dilihat kembali sejauh ini apa saja aktivitas yg dilakukan si kecil dg sang ayah, seberapa sering mereka berinteraksi dan bagaimana pola interaksinya (terutama pola respon ayah thd si kecil). Mungkin bisa dilakukan aktivitas bersama bertiga (ayah-ibu-anak), misalnya bermain..namun perlahan porsi peran bunda dikurangi sehingga peran ayah lebih besar. Dari sana, si kecil akan bisa merasakan bahwa ayah pun bisa menjadi sumber kenyamanannya.

Utk lingkungan yg lebih luas, pelan-pelan saja bund..yg penting terus diajak bersosialiasi. Karena tipe anak berbeda2, ada yg dengan mudah berinteraksi dg lingkungan, ada yg perlu waktu. Daan tugas kita hanya memberi stimulasi dg sebaik-baiknya. Kita juga bisa membacakan cerita ttg anak yg bermain dengan teman di dekat rumah dsb agar anak memiliki gambaran ttg bagaimana bersosialisasi di lingkungan sekitarnya. Semoga bermanfaat 🙂 ✅

👪 👪 👪 👪 👪 👪 👪 👪 👪

Follow us :
FP Facebook : Rumah Main Anak
Instagram : @rumahmainanak
Web : http://www.rumahmainanak.com

Disclaimer :
Semua materi yang di share sudah melalui persetujuan Founder atau PIC dari komunitas yang bersangkutan tanpa menghilangkan format asli termasuk header-footer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s