Peran Bahasa dalam Montessori Untuk Perkembangan Anak

jendelakeluarga.com – Bahasa merupakan simbol dalam komunikasi. Tanpa bahasa akan sulit rasanya menyampaikan suatu opini tentang berbagai bagai hal yang terjadi di alam semesta ini.

Bahasa (berasal dari bahasa Sansekerta) adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. Sumber: Wikipedia

Berdasarkan sejarahnya, perkembangan ilmu bahasa berasal dari dua wilayah, yaitu wilayah Barat dan wilayah Timur. Perkembangan bahasa terjadi sekitar abad IV sebelum masehi, di wilayah Barat diawali dengan tradisi Yunani kuno, sedangkan di wilayah Timur diawali berasal dari tradisi India.

Semasa itu seorang ahli filsafat Yunani Kuno bernama Plato (429 SM-348 SM) membuat pembagian jenis kata bahasa Yuna Kuno ke dalam dua golongan, yakni Onoma dan Rhema (Soeparno, 2003: 9). Onoma adalah jenis kata yang menjadi pangkal pernyataan dan pembicaraan, sedangkan Rhema adalah jenis atau golongan kata yang biasa digunakan sebagai pokok pernyataan atau pembicaraan.

Adapaun tata bahasa atau gramatikal pada masa itu baru muncul pada akhir abad kedua masehi (130 M) oleh Dyonisiu Thrax. Buku yang disusun olehnya diberi nama “Techne Gramatike”. Buku ini yang menjadi pedoman hingga ditemukan 8 jenis pembagian kata, yaitu (1) Nomina, (2) Pronomina, (3) Artikel, (4) Verba, (5) Adverbia, (6) Preposisi, (7) Partisipium, dan (8) Konjungsi.

Seiring berjalannya waktu dan semakin berkembang, maka peradaban dari yang awalnya kumpulan manusia di sebuah tempat dapat berkembang perlahan menjadi sebuah desa, kemudian desa menjadi kota, lalu semakin besar cakupannya berkembang lagi menjadi sebuah negara. Maka dari situlah ilmu bahasa yang awalnya berpedoman dari Yunani Kuno tadi kemudian mengalami transisi hingga akhirnya menjadi berbagai bahasa yang sampai saat ini dimiliki oleh setiap negara di berbagai belahan dunia.

“Montessori said, “To talk is in the nature of man.” Humans needed language in order to communicate, the powers that come with language were revealed. The evoluation of the human language began when communication was done through pictograms or picture and drawings.” Sumber: infomontessori.com

Sejalan dengan berkembangnya lebih dari 6.000 bahasa di dunia, tidak terlepas dari fungsi utama bahasa itu sendiri yakni menjadi media dalam menyampaikan buah pikiran dari seseorang serta memahami apa yang disampaikan oleh orang lain. Dengan kata lain beragam bahasa memiliki beragam cara dalam penggunaannya, tetapi inti dari pikiran yang ingin disampaikan adalah kunci apakah bahasa tersebut dapat dimengerti oleh lawan bicaranya.

Di dalam metode Montessori anak-anak usia dini sudah dilatih untuk dapat bersosialisasi, baik dengan guru atau pendamping, dengan teman dari berbagai usia, serta sosialisasi dengan makhluk hidup lainnya seperti binatang dan tumbuhan yakni dengan cara bersikap baik dan penuh kasih sayang.

“When we speak of development and growth, we mean an exteriorly discernible fact. But the inner mechanism of growth has only recently been explored, and is still imperfectly understood.”

(sumber: Buku “The Secret of Childhood”– Maria Montessori. Page. 37)

Mengapa perkembangan bahasa menjadi penting dalam Montessori? Karena pada dasarnya manusia tercipta dari latar belakang pendidikan dan sosial yang berbeda-beda. Berdasarkan latar belakang tersebut kita dapat merasakan komunikasi yang tercipta dengan baik. Umumnya semakin baik kemampuan bahasa yang dimiliki oleh seseorang maka semakin baik pula orang tersebut dapat menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya.

Tahap perkembangan komunikasi dalam ilmu bahasa dimulai ketika sebuah gambar diubah menjadi simbol, kemudian simbol berubah menjadi sebuah kata. Dan dari kata yang tersusun terdiri dari huruf atau alphabet yang digunakan hingga saat ini. Begitu juga saat bahasa diajarkan kepada anak-anak usia dini, pada awalnya mereka akan menyerap apapun kosakata yang terdengar melalui bahasa orang dewasa, kemudian menterjemahkan ke dalam kotak-kotak sebagai bentuk pengklasifikasian, terakhir memahami secara penuh arti dari bahasa tersebut.

“Terdapat 4 langkah dalam mengajarkan komunkasi baik lisan atau tulisan pada anak, yaitu (1) Mengenalkan bahasa lisan, (2) Mempelajari suara dari simbol abjad (phonological awareness), (3) Belajar menulis dengan menggabungkan kata-kata, (4) Belajar membaca dengan memecahkan simbol abjad.” (sumber: Buku Islamic Montessori Usia 3-6 Tahun. Page. 44)

Di dalam metode montessori terdapat tahap kemampuan otak dalam menyerap sesuatu atau yang dikenal dengan absorbent mind, yakni pikiran tidak sadar (unconscious mind) pada 0-3 tahun dimana pengetahuan yang masuk diserap langsung ke dalam jiwanya untuk dapat nantinya digunakan dalam keadaan sadar. “Before three the functions are being created, after three they develop”- Maria Montessori.

Baca juga : Belajar membaca pada anak usia dini

Sedangkan pikiran sadar (conscious mind) terjadi pada usia anak 3-6 tahun dimana sudah memiliki memori dan perkembangan inisiatif yang didapat melalui gerakan dan berinteraksi dengan lingkungan. Absorbent mind ini yang menjadi cikal bakal lahirnya kemampuan bahasa pada anak ketika sumber pengetahuan diserap maksimal oleh otak.

“That much we can readily understand, but we have to remember that speech is produced by a natural mechanism, and not by logical reasoning.”

(sumber: Buku “The Absorbent Mind” – Maria Montessori. Page. 117)

Di dalam area bahasa Montessori terdapat 3 skema dalam mempelajarinya, yakni Pink Scheme, Blue Scheme dan Green Scheme. Masing-masing skema tersebut menggunakan aparatus yang menjadi alat penunjang belajar, antara lain Sand Paper Letter (SPL), dimana anak akan mengenal huruf melalui indera peraba atau sentuhan. Melalui sentuhan ini anak akan belajar bermacam bentuk alfabet yang nantinya menjadi cikal bakal kemampuan menulisnya.

montessori language

Kemudian anak dikenalkan dengan Large Moveable Alphabet (LMA), dimana aparatus ini dibuat konkret sesuai dengan bentuk asli hurufnya. Melalui LMA anak dapat membayangkan lekuk bentuk dari masing-masing huruf, tinggi rendahnya huruf hingga bagian-bagian yang terdapat lubang di sisi tertentu, serta belajar menghasilkan suara dari masing-masing huruf.

Dari kedua aparatus ini dapat dikatakan bahwa anak sudah belajar mengenal alphabet dengan menyenangkan dibandingkan hanya dengan melihatnya dari buku. Berikutnya anak dapat diajak untuk mengkombinasikan LMA beserta objects atau miniatur benda yang ada di sekitar, serta name tag atau kartu dengan nama dan gambar sesuai objek pada aktivitas tersebut.

“At about a year and a half, the child discovers another fact, and that is that each thing has its own name. This shows that, from all the words he has heard, he has been able to single out the nouns, and especially the concrete nouns.”

(sumber: Buku “The Absorbent Mind” – Maria Montessori. Page. 125)

Selain SPL, LMA, Objects dan Name Tags, berikutnya anak dapat memperkaya vocabulary dan meningkatkan kemampuan pronounciation dengan menggunakan daftar kata (Wordlist) dan Booklets yang termasuk juga dalam kurikulum area bahasa montessori. Setelah mempelajari kata kemudian naik level menjadi kalimat yang dimulai dengan gambar yang menyatu dengan kalimat (Sentence Cards Attached Pictures), setelah itu gambar yang terpisah dengan kalimat atau mencocokkan kalimat sesuai gambar (Sentence Cards Detached Pictures).

“The child enters into the areas of words study and function of words is able to recognize the deeper meaning behind words, guiding him closer to total reading, which is the ability to fully comprehend and actively interpret the meaning of what another has written.” Sumber: kinderhousemontessori.com

Area bahasa pada montessori memperlihatkan bahwa proses mengenal bahasa pada anak usia dini dilakukan dengan hati-hati secara bertahap. Skema yang dibuat biru, pink dan hijau menunjukkan tingkat kesulitan dalam pemahaman proses membaca itu sendiri. Secara sederhananya di dalam Montessori bahasa inggris, skema pink (Pink Scheme) mengajarkan kata dengan susunan Konsonan-Vokal-Konsonan dimana tahap ini dapat diberikan kepada anak usia 2,5 tahun ke atas atau kurang dari itu jika sensitive period terhadap membaca sudah terlihat. Contoh, cup, bun, rod, mug, dan sebagainya.

Meningkat ke skema berikutnya yakni skema biru (Blue Scheme), pada tahap ini kata mengalami peleburan huruf sesuai dengan suaranya. Contoh, pink, lamp, plug, dan sebagainya. Terakhir skema hijau (Green Scheme), dimana kata yang terbentuk lebih kompleks lagi dimana huruf mengalami peleburan. Contoh, sheep, smash, crew, dan sebagainya. Metode Montessori juga mengajak anak belajar membaca dengan cara yang menyenangkan melalui permainan, misalnya Bring Me Game dan The Phonetic Farm (thematic).

Selama masa belajar anak-anak juga dibebaskan untuk berekspresi melalui cerita dari gambar, kata atau kalimat yang ditemukan selama beraktivitas. Sehingga dengan begitu mereka secara tidak langsung melatih keterampilan dalam berbahasa yang berguna untuk meningkatkan kualitas personal dalam hal menyampaikan suatu ide atau gagasan yang akan meningkatkan communication skill dalam hidup bermasyarakat.

BIBLIOGRAPHY

  • Modul PDEME Montessori Haus Asia
  • Buku “The Secret of Childhood”– Maria Montessori
  • Buku “The Absorbent Mind” – Maria Montessori
  • Buku “Islamic Montessori 3-6 Tahun” – Zahra Zahira
  • Buku “Question and Answers About Our World” – Katie Daynes, Usborne

Miranti

jendelakeluargaid@gmail.com

Leave a Reply

error: Content is protected !!